Jumat, 03 Mei 2019

Dadakan

Semua hal di dunia ini memerlukan rencana agar berjalan dengan baik. Namun kadang rencana tersebut terpaksa harus gagal karena beberapa hal.

Masih di bulan yang sama, April 2019. Sangat beruntung karena dapat menjelajah kembali bersama keluarga tercinta. Setelah direncanakan matang - matang dari bulan Januari 2019. Rencana berangkat tanggal 18 April 2019. Karena kecerobohan sendiri, kami baru memutuskan untuk membeli tiket bus ke Wonsobo H-1 padahal saat itu adalah libur panjang. Sudah bisa ditebak, kami kehabisan tiket untuk tanggal 18 April, dan dengan sangat mendadak memutuskan berangkat hari itu saja padahal belum mengemas barang - barang sama sekali. Saat itu pukul 13.30 dan bus akan berangkat menuju Wonosobo dari Ciputat pukul 17.30. Sudah bisa dibayangkan ?

Dengan mudahnya rencana yang disusun dari Januari hancur begitu saja. Di rumah mengemas barang dengan sangat terburu - buru dan tidak karuan. Sekelibat barang berhasil masuk di tas carrier pukul 15.00 dan masih punya waktu untuk merapihkan badan.

Singkat berhasil sampai di Ciputat jam 16.30, namun baru tersadar ada beberapa yang tertinggal, ya mungkin karena dadakan itu tadi. Beras, korek, tertinggal semua di rumah, padahal beras begitu pentingnya. Yasudah karena terlanjur yang penting berangkat dulu ke Wonosobo nanti bisa dilengkapi disana, gitu pikirnya.

Basecamp
Bus melaju, kemudian sampai di Wonosobo dini harinya sekitar pukul 4 pagi. Saat itu juga tidak langsung memutuskan untuk menuju Patak Banteng, tetapi istirahat di terminal sebentar sambil menunggu loket bus buka untuk membeli tiket pulang esok harinya. Sekitar jam 8 pagi baru menuju Patak Banteng, dan melakukan pendakian pukul 10 pagi, dengan estimasi mendaki 3 jam berjalan dengan jarak 500 meter vertikal.

Kondisi Trek











Sebenarnya saya sempat ragu akan sampai 3 jam karena mendaki bersama bunda dan Cantika, tetapi ragu saya sangat salah karena kami berhasil sampai jam 13.30. Waktu yang masih tidak jauh dari estimasi mendaki. Sampai di atas lansung mendirikan tenda dan memasak untuk makan siang. Dan disini efek dadakan kembali baru disadari, kami tidak membawa logistik selain 5 bungkus mie instan, dan beras 1/2 liter yang kami beli di basecamp. Kami juga tidak membawa kopi atau teh atau minuman yang bisa menghangatkan tubuh. Disinilah baru disadari bahwa rencana memang sangat penting untuk dibuat.
Daisy Daisy










Dengan logistik seadanya dan harus cukup sampai besok pagi, apa boleh buat harus dimanfaatkan. Siang itu dipakai untuk istirahat, dan rencana baru menikmati suasana puncak esok paginya. Namun, cuaca malah tidak bersahabat, berkabut sepanjang malam sampai pagi yang mengakibatkan tidak dapat pemandangan apa - apa selain warna putih di depan mata. Padahal harapannya kami dapat melihat Sindoro - Sumbing dari arah Timur namun kembali gagal.
Kabut











Sekitar pukul 08.00 kami sudah siap untuk turun, dan sampai di bawah jam 10.00 kemudian langsung makan nasi dan lauk yang sangat kami rindukan, maklum semalaman kemarin hanya makan mie instan. Langsung merapihkan badan dan berhubung itu hari Jumat, saya dan ayah Shalat Jumat di masjid terdekat dan baru melesat menuju Terminal Mendolo pukul 13.00 dan bus menuju Lebak Bulus akan berangkat pukul 16.00.

Perjalanan pulang terasa begitu cepat, mungkin karena itu malam hari dan kami kelelahan yang mengakibatkan di dalam bus lebih banyak diisi dengan tidur. Setelah sampai di Lebak Bulus, kami langsung bertolak menuju rumah.

Dengan terpaksa, sebagian hal yang dilakukan harus terjadi secara dadakan walaupun sudah direncanakan. Di samping itu kita perlu mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika suatu hal kita lakukan secara dadakan. Namun perjalanan yang dilakukan secara mendadak nantinya juga akan mendidik kita bahwa rencana dan persiapan sangatlah diperlukan. Sekian.

-Imam Panji

Mengulang Hal yang Sama

April tahun lalu, ada penjadwalan untuk mengunjungi jembatan gantung terpanjang di Asia yang kebetulan terletak di Sukabumi. Kecewanya karena kekurangan informasi, saat itu jembatan belum dibuka, mau tidak mau hal tersebut tertunda dan saya harus mengulangnya.

Alasan tersebutlah yang membuat saya harus datang kembali ke Sukabumi untuk menunaikan rasa penasaran bagaiimana rasanya melewati jembatan gantung sepanjang 250 meter dan menggantung 150 meter dari atas tanah. Karena sesekali perjalanan tidak perlu rencana saat itu pula juga saya dengan segenap keluarga dengan tanpa rencana dan bertolak ke Sukabumi tepat April setelahnya di tanggal 3.

Perjalanan membutuhkan waktu 3 jam dari rumah dengan kondisi jalanan yang tidak terlalu ramai mungkin karena masih pagi. Namun sesampainya disana sekitar pukul 9, ternyata keadaannya berbanding terbalik dengan jalanan yang kami lalui, kondisi disana sangat sangat sangat sangat ramai.

Suspension Bridge Situ Gunung !!!
Sampai disana karena kondisi pengunjung yang sangat ramai, saya harus mengantri sekitar 1 jam untuk melewati jembatan tersebut. Jika boleh menerka - nerka, mungkin saat itu terdapat 1500 orang pengunjung yang hadir, dapat dibayangkan betapa ramainya. Tapi masalah keamanan tidak perlu diragukan karena saat naik ke jembatan kita difasilitasi carrabiner jika sewaktu - waktu terjadi masalah di atas jembatan, dan kapasitas maksimal jembatan juga 150 orang, itulah alasan mengapa harus mengantri saat naik.
View

Setelah menyebrang diselingi foto sedikit - sedikit, karena maklum kondisi yang sangat ramai mengharuskan saya berjalan agak cepat karena banyak orang juga yang ingin lewat. Kami meneruskan jalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju Curug Sawer, seperti namanya debit air Curug Sawer sangat deras sehingga sangat dilarang untuk berenang / mandi tepat di bawah tempat terjunnya air.

Curug Sawer
Karena tak bawa baju ganti juga, di curug hanya rendam - rendam kaki dan cuci muka sehabis itu kembali lagi menuju parkiran karena kebetulan rasa penasaran yang timbul di April 2018 sudah berhasil dibayar di April 2019.

Perjalanan Pulang
Dalam beberapa hal kita dipaksa untuk mengulang hal yang sama karena sebelumnya hal itu gagal atau kita ketagihan. Namun disaat kita mengulang karena gagal, bukan berarti sebelumnya kita orang yang lemah, kita akan dituntun untuk menjadi orang yang lebih kuat. Salam sayang.

-Imam Panji