Minggu, 30 Agustus 2026

Jalani Hidup dengan Berani

Satu hal yang pasti adalah bahwasannya hidup ini akan berakhir. Perlahan semua akan hilang, hartamu, jabatanmu, kebahagiaanmu, dan kesehatanmu. Sebelum semua itu lenyap, jangan biarkan penyesalan datang, maka jalani hidup dengan berani.

Seiring berdetaknya waktu, pergantian manusia, perjalanan membawaku kembali ke Garut, kota yang menjadi saksi pendakian pertamaku 11 tahun yang lalu. Melanjutkan rangkaian Sapaguci di Garut, setelah Papandayan sebagai gunung pertamaku, Cikuray pada 2024, dan kesempatan kali ini membawaku ke Gunung Guntur dengan ketinggian 2.249 MDPL, yang lagi-lagi, Gunung ini mengajarkanku bahwa kesulitan Gunung tidak bisa dinilai dengan ketinggiannya.

Belakangan, formasi pendakian berubah, aku mendapatkan kawan-kawan baru di kantor yang tertarik dengan pendakian gunung, dan sebenarnya ini adalah gunung kedua kami bersama. Pendakian dilaksanakan pada 24-26 Juli 2026 bersama Hendi, Roberthus, dan Dea (kedepannya akan ditulis dengan Cece). Setelah selesai melaksanakan perjalanan dinas yang kebetulan di Garut. Aku menjemput Cece di Tegalluar bersama dengan Berthus, sementara Hendi menunggu di homestay. Kami baru sampai homestay di Garut malam hari dan langsung istirahat, packing kami lakukan esok hari karena sudah lelah.
Gerbang pendakian

25 Juli pagi, kami beli sarapan sekaligus membeli logistik untuk keperluan pendakian, di pendakian inilah menu favorit ditemukan, yaitu fish roll Cedea, hehe. Jam 10.30 kami baru menuju basecamp pendakian yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari homestay. Setelah registrasi di basecamp Umi Tati dan melakukan final check, kami baru mendaki sekitar jam 11, di tengah terik matahari dan jalur pendakian dengan vegetasi yang terbuka. Target mendaki hari ini adalah pos 3, lupa memberikan informasi, kami mendaki dari jalur Citiis karena pertimbangan sumber air yang lebih mudah dibanding via Cikahuripan.

Perjalanan dimulai dengan jalur perumahan warga yang dibeton sekaligus melewati Edu Wisata Gunung Guntur, trek Guntur didominasi bebatuan dan pasir mengingat Guntur masih aktif sehingga hal yang wajar bahwa trek Guntur seperti ini.  Sesekali trek tertutup pohon yang cukup membantu menangkal sinar matahari. Perjalanan ke pos 1 lumayan panjang, kami membutuhkan 90 menit dari Basecamp hingga akhirnya tiba disini tepat pukul 12.30. Di pos 1 kami buka perbekalan nasi bungkus sekaligus hidrasi dengan minuman manis karena di pos 1 terdapat warung, musholla, sumber air, dan toilet. Setelah perut isi kembali, perjalanan dilanjut jam 13.15.
Pos 1

Perjalanan ke pos 2 trek cenderung tertutup vegetasi walaupun pohon-pohon tidak terlalu besar, perjalanan menuju pos 2 juga melewati Curug Citiis sehingga kami sempat ambil foto sebentar dan juga merasakan airnya yang segar di tengah cuaca yang menyengat. Perjalanan hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk kami sampai ke pos 2. Pos 2 hanya sebuah lahan kecil dengan view kota Garut, tanpa bisa mendirikan tenda, dan juga tidak ada sumber air. Sehingga setelah sedikit berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan.
View point at pos 2

Curug Citiis

Perjalanan ke pos 3 tidak membutuhkan waktu lama, hanya butuh 45 menit dari pos 2, menjelang pos 3 vegetasi akan terbuka kembali dan perlahan jalur kembali berpasir. Pos 3 adalah campsite yang cukup lengkap, terdapat musholla, sumber air, warung yang menyediakan makanan dan sewa alat, serta toilet lengkap dengan WC nya. Pos 3 juga menjadi batas terakhir yang diperbolehkan untuk pendaki melakukan camp, sehingga nantinya summit akan dilakukan dari sini.
Prepare for a camp

Sampai pos 3 kami langsung melapor ke pos jaga bahwa akan melakukan camp, kemudian mendirikan tenda, memasak untuk makan malam, dan juga beristirahat. Beberapa kejadian ajaib juga terjadi disini, setelah makan malam, ketika Hendi dan Berthus sudah tertidur. Aku dan Cece memutuskan keluar di depan tenda, menggelar plastik sampah untuk kita berdua, lalu berbaring menatap bintang, bulan, serta lampu malam Kota Garut di bawah sana. Malam itu kita bicara, diskusi, bertukar pikiran dan hati, sekaligus mewujudkan salah satu mimpi Cece, melihat bintang gemintang di alam terbuka. Hampir 1 jam di luar, angin malam semakin dingin tapi hati kita hangat, lalu kami memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan istirahat.

Esok harinya, aku yang bangun paling awal seperti biasa, jam 02.30 aku langsung memasak untuk bekal tenaga summit attack. Oh iya, ada peraturan khusus bahwa summit di Guntur baru boleh dilakukan setelah jam 3, tidak boleh lebih cepat dari itu. Setelah makan, kami langsung bersiap keluar tenda dan melanjutkan perjalanan dengan estimasi 4 jam perjalanan sampai Puncak 2 Guntur. Awal mendaki trek langsung disuguhi jalur pasir aktif, dimana jika kita melangkah, kaki akan sedikit merosot ke bawah. Vegetasi juga terbuka sepanjang jalur menuju puncak, sehingga paparan matahari langsung mengenai tubuh.
Citylight Garut

Perjalanan menuju puncak Guntur adalah perjalanan yang panjang, di tengah perjalanan rombongan sempat terpisah, Berthus dan Hendi melaju lebih dahulu, sementara aku sebagai sweeper menyesuaikan kecepatan Cece berjalan dan terus mendorong semangatnya tetap menyala. Pada akhirnya sekitar pukul 8 aku dan Cece sampai Puncak 1. Istirahat sejenak sembari snack time, kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan ke Puncak 2 yang sudah terlihat dekat di mata, tapi sebenarnya tidak. Kemudian perjalanan dilanjut menuju Puncak 2, pemandangan di lepas mata indah sekali walaupun jalurnya kejam. Berjalan sebentar, akhirnya tepat pukul 9 kami sampai di Puncak 2 Guntur disambut dengan pemandangan kawah Guntur, Gunung Papandayan, Cikuray, dan Sagara di depan mata.
Break di Puncak 1

Kami memutuskan hanya mendaki sampai Puncak 2, butuh waktu lebih lama lagi jika memutuskan untuk melanjutkan sampai Puncak 3 dan 4 Gunung Guntur, walaupun sebenarnya Puncak selanjutnya terlihat dekat di depan mata. Setelah mengabadikan momen, kami memasuki bagian paling menyeramkan dari mendaki Gunung Guntur, yaitu perjalanan turunnya. Selama perjalanan turun dengan trek pasir aktif, jatuh, berguling, dan meluncur adalah yang pasti terjadi, jalur seperti ini juga menjadi sangat kejam untuk sepatu karena memakan sol sepatu lebih banyak. Tapi bagaimana lagi, menurun tetap harus dilakukan. 2 jam menurun kami sampai di tenda, karena waktu yang terbatas, aku memasak, dibantu kawan-kawan yang merapihkan tenda dan barang bawaan. Lalu sekitar jam 15 kami baru turun menuju basecamp diselingi istirahat sebentar-sebentar di perjalanan turun. Tepat jam 17.00 kami selamat sampai di basecamp, kemudian kami bertolak ke Nagara Hot Spring untuk bebersih, kemudian kembali pulang ke kota perjuangan, Jakarta.
Kita di Puncak 2 Guntur

Karenanya hidup cuma satu kali, jangan biarkan hidup yang terbatas ini selesai dengan penyesalan. Maka apapun itu, selama baik. Lakukanlah!

Arsip Baru

Tidak sempat menulis belakangan, berikut adalah beberapa arsip perjalananku saat ke Bismo-Pakuwaja pada Mei 2025, Pangrango pada September 2025, Touring ke Jawa Tengah dan mendaki Ungaran pada Desember 2025, dan mendaki ke Merbabu pada Mei 2026. Sebelumnya mohon maaf belum sempat menulis lagi.

















Perjalanan berikutnya akan kutulis dalam kisah, ditunggu ya, kawan.

Senin, 23 Maret 2026

Mimpi Adalah Milik Kita Sendiri

Takdir langit membawaku ke perjalanan ini, perjalanan yang memang menjadi impianku sedari awal. Aku sadar betul bahwa mimpi-mimpi adalah selalu milik kita sendiri, jangan tunggu orang lain.

Angin menjemputku untuk perjalanan kali ini, perjalanan yang tidak pernah kusangka-sangka akan kulakukan dalam hidupku, perjalanan mimpi, perjalanan hati, yang sulit diungkapkan dengan sebuah kalimat. Perjalanan ke Sulawesi, untuk menggapai puncak tertinggi, Gunung Latimojong dengan ketinggain 3.478 mdpl.

Hari-hari kini, perjalanan dengan kawan-kawan lama sudah sangat sulit untuk dilakukan. Semakin bertambah dewasa, kegiatan kami semakin beragam, sulit untuk menemukan waktu yang pas untuk bertemu, apalagi untuk melakukan perjalanan panjang. Jadi perjalanan kali ini dilakukan dengan menggunakan jasa open trip layaknya pendakian gunung-gunung 7 summits sebelumnya (Kerinci dan Rinjani) supaya akses dan akomodasi lebih mudah walaupun harus membayar sedikit lebih mahal, tetapi arah perjalanan menjadi lebih jelas.

Perjalanan dimulai pada tanggal 24 Januari 2025, setelah pulang menjalankan tugas dari Garut, aku mampir ke rumah sebentar untuk packing dan mempersiapkan perlengkapan. Sampai rumah sekitar jam 16 WIB, dan penerbanganku ke Makassar dijadwalkan pukul 22.10 WIB, sehingga di rumah hanya sebentar dan sehabis shalat maghrib langsung bertolak ke bandara. Malam itu penerbangan tidak ada kendala, baik dari waktu keberangkatan, cuaca, maupun kedatangan. Sampai di bandara Sultan Hasanuddin sekitar jam 01.30 WITA dan sudah ditunggu oleh leader perjalanan kami, Bang Roes. Beberapa kawan peserta pun sudah ada yang datang menunggu, Kakak Rizka, Kakak Ode, Pak Eko, Bang Wira, dan Mba Nova. Sementara secara kebetulan aku satu penerbangan dengan Cece Monic, Pak Fajar, dan kak Wiwik.

Menjelang shubuh, setelah rombongan lengkap kami bertolak ke menuju Karangan menggunakan 2 mobil. Sebagai informasi, Karangan adalah desa terakhir untuk menggapai atap Sulawesi yang masih harus ditempuh sekitar 9-10 jam dari Makassar, perjalanan yang cukup panjang. Sesekali kami singgah untuk istirahat dan mereganggkan badan. Mampir ke kamar kecil, sarapan, membeli perbekalan, berhenti untuk mengambil gambar jika ada spot yang bagus. Sebab memang perjalanan ke Sulawesi adalah pertama kali untuk beberapa dari kami, termasuk aku. Perjanan panjang sudah ditempuh, sekitar jam 13.30 WITA kami sampai di Baraka, kecamatan terakhir sebelum kami berganti kendaraan menjadi truk, karena tidak memungkinkan jalur selanjutnya ditempuh menggunakan mobil pribadi.

Rehat sejenak di Baraka, memindahkan barang ke truk, kemudian perjalanan dilanjut sampai ke Karangan sekitar 2 jam lagi dengan kondisi hujan deras. Pemandangan sepanjang dari Baraka sampai Karangan indah dan cantik sekali. Tetapi jalan setapak dan kiri kanannya langsung jurang terjal, tidak bisa dideskripsikan kata-kata. Akhirnya setelah perjalanan yang sangat jauh, kami sampai di Karangan sekitar pukul 17 WITA dengan kondisi lembab, dingin, dan ingin tidur. Tidak banyak yang dilakukan di Karangan hari itu, karena selain masih jetlag, pendakian esok hari membutuhkan tenaga eksra karena jarak dan biaya untuk sampai sini bukanlah hal yang murah dan mudah.

26 Januari 2025, suasana Karangan dingin, menusuk, dan syahdu. Karena Karangan berlokasi di lembah, maka walaupun langit sudah terang, tetapi matahari belum "terbit" karena terhalang tebing-tebing gunung. Matahari baru muncul sekitar jam 07.30 WITA ketika sudah cukup tinggi di cakrawala. Di Karangan ada opsi untuk mempercepat perjalanan dan menghemat tenaga karena tersedia ojek motor sampai ke pos 1, tapi sudah tentu ada biaya yang harus dibayar. Di antara seluruh rombongan, hanya saya dan Pak Wira yang memutuskan untuk berjalan saja dari basecamp, jadi kami bersama tim porter memulai pendakian lebih awal dari yang lain sekitar jam 8 WITA. Perjalanan dari basecamp ke pos 1 didominasi jalur mendatar dan perkebunan kopi, kontur jalur pendakian yang sering ditemui di berbagai gunung di Indonesia.

Lagi-lagi aku kalah dengan mood dan memoriku. Ini adalah perjalanan awal 2025, sedangkan untuk dilanjutkan sekarang terlupa detail dan kejadian secara rinci. Singkatnya pada 26 Januari kami bermalam di pos 5, esok harinya melakukan Summit Attack yang syukurnya berhasil kami lakukan. Lalu turun basecamp di hari yang sama. 28 Januari kami bertolak dari Karangan untuk menuju Toraja, tepatnya Kete Kesu dan Patung Yesus Memberkati. Lalu pada 29 Januari 2025 pagi hari sekali, aku kembali bertolak ke Jakarta.

Barangkali hidup memang harus mempunyai mimpi, sedangkan mimpi-mimpi tidak pernah ada yang mustahil. Jangan sampai tunggu orang lain untuk mendukungmu baru kamu menggapainya. Bergeraklah, tanpa menunggu siapapun.











Senin, 23 Desember 2024

Tidak Sesuai Harapan

Hidup selalu memiliki kejutan di setiap perjalanannya. Yang kali ini tidak sesuai harapan.

Petualangan kembali membawaku bersama Habibie, Daffa, dan Nabil melakukan pendakian. Saat ini Nabil adalah pemula, yang sebenarnya kemampuannya sangat aku khawatirkan. Tapi biarlah, selalu percaya rekan pendakian penting untuk menjaga suasana pikiran tetap kondusif. Sebelum lebih jauh, pendakian kali ini menuju ke Gunung Gede, gunung yang sangat menjadi andalan kawan-kawan di Jabodetabek sebagai tempat healing yang dekat-dekat saja. Namun supaya pendakian berbeda, aku memutuskan tidak lewat jalur Cibodas ataupun Gunung Putri, pendakian dilakukan melalui jalur Selabintana, jalur terpanjang dan tersulit untuk menggapai Puncak Gunung Gede.

Beli sayur di Sukabumi

Pendakian dimulai dari rumah untuk bertemu dan menuju basecamp dengan mengendarai motor, untuk menghemat biaya dan karena memang yang tersedia adalah kendaraan roda dua. Setelah melakukan persiapan administrasi, pengecekan perlengkapan, mengemas barang, dan tidur singkat, perjalanan dimulai menuju basecamp Selabintana yang sekaligus kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Perjalanan dimulai sekitar pukul 03.00 WIB, dengan 2 motor dan carrier penuh, kami siap melintas jalur Bogor-Sukabumi. 2,5 jam berkendara sampai kami sampai di Sukabumi kota dan memutuskan untuk istirahat sejenak sembari menunaikan shalat shubuh, sekaligus berbelanja sedikit kebutuhan makanan untuk di jalur pendakian. Sayur adalah makanan wajib, membeli sawi putih, jagung manis, nugget, dan bumbu dapur, sepertinya akan jadi menu yang lezat di atas nanti.

Jam 6 perjalanan di lanjut, di jalan kembali bungkus nasi dan lauk untuk makan siang serta sarapan terlebih dahulu. Supaya kegiatan masak-masak baru dilaksanakan di malam hari. Karena perjalanan yang memang santai, kami sampai basecamp Selabintana jam 8 tepat. Sampai basecamp langsung mengurus administrasi, checklist perlengkapan, dan mengikuti arahan dari pihak basecamp. Administrasi untuk mendaki Gunung Gede Pangrango sudah rapih dan dapat diurus online, jika seluruh berkas lengkap, proses administrasi tidak akan memakan waktu yang lama. Hanya informasi, di basecamp Selabintana sudah tidak ada sinyal provider apapun, untuk akses internet ada fasilitas wifi yang dapat diakses secara gratis, tanya saja kepada petugas untuk kata sandinya.

Sesaat sebelum mendaki

Setelah semua urusan selesai, jam 09.30 kami mulai melangkah, trek dimulai dengan jalur batu bersusun dan menyusuri sungai, maklum jalur awal masih menjadi satu dengan jalur ke Curug Cibereum, jadi dibuat senyaman dan seaman mungkin karena memang jalur wisata. Di 20 menit pertama, belum terasa bahwa Selabintana adalah jalur tersulit untuk mencapai Puncak Gede. Setelah bertemu pertigaan, ambil jalur ke kiri, kemudian kontur jalur berubah, trek tanah dan sepertinya ini jalur pendakian sebenarnya. 15 menit berjalan kami sampai di pos Citingar, ini bukan pos yang luas, hanya ada sedikit dudukan dan plang yang dikaitkan di pohon, kami berisitirahat sejenak disini sebelum melanjutkan perjalanan.

Pertigaan Cibereum dan Jalur Pendakian

Perjalanan selanjutnya merupakan perjalanan pos terpanjang, menuju Cigeber menurut info yang dihimpun, butuh waktu 2,5 jam berjalan. Disinilah tragedi terjadi, di tengah perjalanan menuju Citingar kami sekelompok diserang lebah. Hipotesisnya adalah entah ada sarang lebah yang diserang kawanan hewan lain atau ada pohon tumbang sehingga sarang lebahnya juga hancur, dan ini juga pertama kalina buat kami tersengat lebah, rasanya perih juga. Setelah terkena sengatan lebah, kondisi semakin kacau balau, kami tidak bisa memaksa untuk bergerak. Sebagai tindakan pertolongan pertama, kami disarankan untuk memakan bawang putih secara mentah dan mengoleskan ke bagian yang terkena sengatan. Sebenarnya rasa sengatannya masih terasa, cuma mungkin akan menjadi lebih parah jika tidak dilakukan pertolongan pertama tadi.

Sesaat setelah tersengat kawanan Lebah

Setelah adzan dzuhur berkumandang, kami mencoba melanjutkan perjalanan. Sebenarnya aku sudah baik-baik saja, rasa nyeri yang ada masih bisa ditahan dan tidak terlalu masalah, toh cuma terkena 2 sengatan masing-masing di betis kanan dan kiri. Tapi yang lainnya yang parah, mereka terkena sengatan hampir di sekujur tubuh, bahkan kepala. Dampak sengatannya pun tidak main-main, selama perjalanan Daffa, Habibie, dan Nabil menjadi tidak optimal dan prima. Lebih mudah lelah, badan panas, dan mual, perjalanan otomatis menjadi melambat, ditambah hujan sempat mengguyur di tengah perjalanan. Selambat-lambatnya berjalan, akhirnya jam 13.08 kami sampai di Cigeber. Karena sudah waktu makan siang walaupun terlewat, dan lahan yang cukup luas, aku memutuskan tim istirahat sejenak untuk mengisi perut, barangkali tenaga mereka kembali dan dapat mengalahkan efek nyeri yang dirasakan akibat sengatan lebah tadi.

Pos Cigeber

Setelah dirasa cukup istirahat, kemudian perjalanan dilanjut, karena memang menuju Citingar masih lumayan jauh. Ditambah trek yang masih sulit saja. Di tengah perjalanan juga sempat mengisi perbekalan air supaya stok air lebih aman, karena di tengah hutan, air menjadi lebih penting dari biasanya. Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami sampai juga di pos Citingar sekitar pukul 16.30. Sebenarnya ini bukan tujuan kammi sebagai tempat mendirikan tenda, namun karena kondisi fisik semakin menurun dan untuk melanjutkan ke pos selanjutnya masih jauh, aku memutuskan pendakian hari ini berhenti disini. Walaupun sebenarnya Citingar bukan pos yang ideal untuk camp, karena lahan yang sempit dan terbatas.

Suasana Pos Citingar

Segera mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam, tentunya sembari berbincang. Dari perbincangan dengan teman-teman sepertinya kondisi mereka belum juga membaik. Aku sudah berkali-kali mengatakan jika badan tidak mendukung jangan terlalu memaksakan, karena perjalanan untuk ke puncak masih cukup jauh, sekitar 4 jam lagi dari sini. Di malam itu juga Habibie mendeklarasikan sepertinya tidak akan muncak dengan pertimbangan badan yang semakin memburuk, sedangkan Daffa memutuskan melihat perkembangan nanti malam. Jika dirasa badang membaik, kita bisa berangkat. Ya walaupun malam itu Daffa juga masih pusing dan mual yang disebabkan sengatan lebah tadi siang. Setelah makanan habis kami semua tidur, dan aku bilang nanti malam tetap bangun jam 2 pagi untuk persiapan summit jika memungkinkan, jika tidak, toh tidur di Citingar juga sangat nyaman. Mendaki tidak selalu tentang puncak bukan?

Korban utama lebah

Sebenarnya tulisan ini belum selesai, tapi jika diceritakan secara detail, sudah lupa kejadiannya, hehe maklum, susah sekali menemukan mood untuk menulis belakangan ini. Singkatnya, sekitar jam 3 kami bangun, melihat perkembangan badan rekan-rekan sepertinya tidak memungkinkan untuk memaksakan ke puncak. Akhirnya kami lanjut tidur dan pagi hari sarapan, setelah sarapan sekitar jam 10 an kami mulai turun gunung. Sampai basecamp sekitar jam 2 siang, lalu kami berkemas kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan motor yang masih 5 jam lagi.

Menu makan pagi
Perjalanan mendaki itu memang seperti kehidupan, kadang naik, kadang turun, menemui semak belukar, harus merangkak di celah ranting, bertemu dengan berbagai macam makhluk hidup, sampai puncak, dan terkadang tidak sesuai harapan. Tapi penting untuk kuat dan terus bertahan, sampai kembali diminta pulang oleh-Nya.

Sebelum turun gunung

Senin, 22 April 2024

Titik Nol

Satu hal yang pasti dalam hidup ini adalah hidup pasti akan berputar layaknya roda. Bagian yang menyakitkan adalah, kita tidak pernah tahu pasti kapan titik nol mampir di hidup kita.

Kesempatan kali ini membawaku ke kota dimana aku memulai pendakian pertama ku, Garut. Tepat 9 tahun lalu aku datang di kota ini untuk memulai semuanya di Gunung Papandayan, Februari 2024 aku kembali untuk mendaki Gunung Cikuray, salah satu gunung yang juga cukup populer di Garut. Seperti hari-hari pendakian pada umumnya, aku hanya berangkat dengan rombongan kecil, 4 orang, Aku, Tiara, Habibie, dan rekan baru yaitu Daffa. Perjalanan dimulai pada tanggal 8 Februari jam 03.30 WIB di pool bus Primajasa Ciputat. Kami ambil bus paling pagi supaya dapat langsung mendaki di hari yang sama. Perjalanan ke Garut membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam menggunakan bus, dan kami sampai di Terminal Guntur Garut sekitar jam 9 pagi.

Sampai di Garut langsung belanja ke pasar dan bungkus nasi dahulu sebagai bekal pendakian di siang hari (rencananya).  Setelah urusan perbekalan selesai, kami mencarter angkot dengan tarif Rp 170.000 dari terminal sampai basecamp Kiara Janggot. Sampai basecamp jam 10, lalu sarapan nasi goreng dahulu di basecamp, urus simaksi, dan final check untuk perlengkapan yang akan dibawa ke atas. Pendakian via Kiara Janggot akan melewati 8 pos, dan sesuai rencana, kami akan camp di Pos 6 dengan estimasi jam 4 sore sampai.

Kita di basecamp.
Pendakian dimulai sekitar jam 11 siang, trek pertama menuju pos 1, dan sepanjang perjalanan masih dikelilingi pemukiman dan perkebunan warga. Pos 1 ditandai dengan sebuah plang, dan jika sudah sampai pos 1, berarti sudah ada di batas antara hutan dan pemukiman. Kami sampai di pos 1 sekitar jam 1 siang, memang, perjalanan menuju pos 1 adalah yang terpanjang, pos-pos setelahnya hanya butuh waktu 30-45 menit.  Ambil nafas dan minum sebentar di pos 1, kemudian melanjutkan perjalanan.

Lalat sepanjang perjalanan menuju pos 2
Perjalanan menuju pos 2 langit mulai berubah gelap, pertanda hujan akan datang. Saat itu hanya harap-harap cemas, jangan hujan dulu, pos 6 masih jauh, batinku. Setelah 35 menit berjalan, kami sampai di pos 2. Benar saja, yang sedari tadi dicemaskan datang juga. Hujan turun tepat setelah kami sampai di pos 2, sangat deras. Pos 2 juga menjadi tempat sumber air terakhir sehingga kami mengisi penuh perbekalan air disini. Lokasi sumber air tidak di pinggir jalur, perlu melipir sedikit 50 meter ke kanan jalur dan terdapat pipa yang menyalurkan air dari atas gunung. Jalur sumber air cukup jelas dan terlihat, hanya tinggal ikut jalan saja sumber air dapat ditemukan.

Setelah perbekalan air siap dan berganti ke setelan pendakian hujan, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Dari sini kontur pendakian berubah, yang sebelumnya dari basecamp sampai pos 2 cenderung landai, menuju pos 3 kontur berubah lebih terjal, ditambah cuaca hujan, lengkap sudah. Perjalanan ke pos 3 sempat terhambat sebentar karena di tengah jalan kakiku kram, entah mengapa belakangan ini setiap mendaki kram kaki selalu terjadi, padahal rasanya pemanasan sudah cukup maksimal. Ketika sampai di pos 3, kami tidak beristirahat, dan langsung tancap gas menuju pos 4, mengingat hari sudah semakin sore, dan rencana kami bermalam di pos 6, juga sudah cukup istirahat ketika insiden kram kaki terjadi.

Matahari semakin turun ketika kami sampai di pos 4, seingatku saat itu sudah jam 4 sore. Hanya istirahat sebentar di pos 4 untuk melonggarkan otot, selain karena cuaca masih hujan, di pos 4 juga tidak ada siapa-siapa, pertanda yang buruk jika harus sampai pos 6 terlalu lama dan bermalam tanpa ada rombongan lain. Semakin berjalan, kepercayaan diri semakin turun untuk bermalam di pos 6. Fisik semakin lelah karena sudah berangkat dari pagi buta, ditambah cuaca masih hujan, dan yang terparah, bekal makan siang yang kami bungkus di terminal Garut belum kami makan, yang artinya saat itu perut kami sudah mulai keroncongan. Akhirnya, keputusan bulat kami bermalam di pos 5 saja, entah ada rombongan lain atau tidak, kami berhenti. Risiko bermalam sendirian lebih kecil dibanding kami harus melanjutkan perjalanan ke pos 6 dengan kondisi fisik yang sudah tidak prima, dan hari yang semakin gelap.

Namun sepertinya alam mendukung kami, setelah berjalan 30 menit dari pos 4, kami mulai mendengar suara ramai dan aroma kopi yang sedang diseduh, yang kami harap saat itu kami sudah hampir sampai di pos 5. Dan benar saja, di pos 5 terdapat satu rombongan dengan 5 tenda, yang artinya kami tidak akan bermalam sendirian di pos 5. Sampai di pos 5 kami langsung membagi tugas, pasang tenda, memanaskan sayur,  jemur pakaian, dan tata tenda untuk tidur. Setelah makan, kami sepakat untuk istirahat saja dan tidak perlu makan malam kembali, dan makan lagi nanti sebelum summit attack, jam 2 dini hari.

Suasana di tenda

Esok harinya, kami bangun untuk persiapan summit. Karena rencana camp di pos 6 tidak terealisasi, maka kami harus bangun lebih awal supaya sampai di puncak saat sunrise. Setelah memasak nasi, mie instan, dan goreng bakso, kami melakukan packing untuk persiapan summit. Estimasi perjalanan adalah 3 jam, dan saat ini pukul 03.30. Perjalanan dimulai, trek masih sama saja seperti sebelumnya, akar, tanah, sesekali basah karena bekas hujan kemarin. Perjalanan malam lebih terasa ringan, tiba tiba saja kami sampai pos 6, buang hajat sebentar, lalu lanjut mendaki. Sebelum sampai pos 7, kami bertemu pertemuan antara jalur Pemancar dan Kiara Janggot. Setelah melewati persimpangan, berarti perjalanan sisa sedikit lagi, melewati pos 7, kemudian pos 8, dan 5 menit dari pos 8 kami sampai di Puncak Gunung Cikuray tepat pukul 07.00.

Sunrise di tengah summit attack

Seperti biasa, di puncak saatnya selebrasi dan dokumentasi. Setelah dirasa cukup, pukul 07.50 kami kembali turun ke camp di pos 5, sampai pos 5 jam 10, kemudian makan terlebih dahulu sembari packing, dan tepat sebelum dzuhur kami sudah siap turun. Perjalanan turun menggunakan sisa-sisa tenaga, sampai pos 1 aku masih menjaga supaya anggota pendakian tetap rapat dan tidak saling meninggalkan. Setelah sampai pos 1 pukul 13.00, baru aku mempersilahkan Habibie dan Daffa untuk mendahului, karena jalur yang juga sudah jelas dari sini.  Musabab kaki Tiara terluka, perjalanan aku dan Tiara menjadi lebih lambat menuju basecamp, sehingga baru sampai basecamp jam 14.30. Kemudian istirahat sebentar sembari berganti pakaian bersih, sekitar pukul 17.00 kami pamit dari basecamp menuju ke terminal, lalu perjalanan dilanjutkan menggunakan bus menuju Jakarta.

Kami di Puncak Cikuray
Layaknya kalimat awal tulisan ini, kita tidah pernah tahu kapan titik nol akan mampir di hidup kita. Satu hal yang pasti, waktu tersebut sudah pasti akan mampir, lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya adalah titik yang akan menentukan hidup kita selanjutnya. Tetap di titik nol selama-lamanya, atau kembali melangkah memulai dari 1 kembali.