Takdir langit membawaku ke perjalanan ini, perjalanan yang memang menjadi impianku sedari awal. Aku sadar betul bahwa mimpi-mimpi adalah selalu milik kita sendiri, jangan tunggu orang lain.
Angin menjemputku untuk perjalanan kali ini, perjalanan yang tidak pernah kusangka-sangka akan kulakukan dalam hidupku, perjalanan mimpi, perjalanan hati, yang sulit diungkapkan dengan sebuah kalimat. Perjalanan ke Sulawesi, untuk menggapai puncak tertinggi, Gunung Latimojong dengan ketinggain 3.478 mdpl.
Hari-hari kini, perjalanan dengan kawan-kawan lama sudah sangat sulit untuk dilakukan. Semakin bertambah dewasa, kegiatan kami semakin beragam, sulit untuk menemukan waktu yang pas untuk bertemu, apalagi untuk melakukan perjalanan panjang. Jadi perjalanan kali ini dilakukan dengan menggunakan jasa open trip layaknya pendakian gunung-gunung 7 summits sebelumnya (Kerinci dan Rinjani) supaya akses dan akomodasi lebih mudah walaupun harus membayar sedikit lebih mahal, tetapi arah perjalanan menjadi lebih jelas.
Perjalanan dimulai pada tanggal 24 Januari 2025, setelah pulang menjalankan tugas dari Garut, aku mampir ke rumah sebentar untuk packing dan mempersiapkan perlengkapan. Sampai rumah sekitar jam 16 WIB, dan penerbanganku ke Makassar dijadwalkan pukul 22.10 WIB, sehingga di rumah hanya sebentar dan sehabis shalat maghrib langsung bertolak ke bandara. Malam itu penerbangan tidak ada kendala, baik dari waktu keberangkatan, cuaca, maupun kedatangan. Sampai di bandara Sultan Hasanuddin sekitar jam 01.30 WITA dan sudah ditunggu oleh leader perjalanan kami, Bang Roes. Beberapa kawan peserta pun sudah ada yang datang menunggu, Kakak Rizka, Kakak Ode, Pak Eko, Bang Wira, dan Mba Nova. Sementara secara kebetulan aku satu penerbangan dengan Cece Monic, Pak Fajar, dan kak Wiwik.
Menjelang shubuh, setelah rombongan lengkap kami bertolak ke menuju Karangan menggunakan 2 mobil. Sebagai informasi, Karangan adalah desa terakhir untuk menggapai atap Sulawesi yang masih harus ditempuh sekitar 9-10 jam dari Makassar, perjalanan yang cukup panjang. Sesekali kami singgah untuk istirahat dan mereganggkan badan. Mampir ke kamar kecil, sarapan, membeli perbekalan, berhenti untuk mengambil gambar jika ada spot yang bagus. Sebab memang perjalanan ke Sulawesi adalah pertama kali untuk beberapa dari kami, termasuk aku. Perjanan panjang sudah ditempuh, sekitar jam 13.30 WITA kami sampai di Baraka, kecamatan terakhir sebelum kami berganti kendaraan menjadi truk, karena tidak memungkinkan jalur selanjutnya ditempuh menggunakan mobil pribadi.
Rehat sejenak di Baraka, memindahkan barang ke truk, kemudian perjalanan dilanjut sampai ke Karangan sekitar 2 jam lagi dengan kondisi hujan deras. Pemandangan sepanjang dari Baraka sampai Karangan indah dan cantik sekali. Tetapi jalan setapak dan kiri kanannya langsung jurang terjal, tidak bisa dideskripsikan kata-kata. Akhirnya setelah perjalanan yang sangat jauh, kami sampai di Karangan sekitar pukul 17 WITA dengan kondisi lembab, dingin, dan ingin tidur. Tidak banyak yang dilakukan di Karangan hari itu, karena selain masih jetlag, pendakian esok hari membutuhkan tenaga eksra karena jarak dan biaya untuk sampai sini bukanlah hal yang murah dan mudah.
26 Januari 2025, suasana Karangan dingin, menusuk, dan syahdu. Karena Karangan berlokasi di lembah, maka walaupun langit sudah terang, tetapi matahari belum "terbit" karena terhalang tebing-tebing gunung. Matahari baru muncul sekitar jam 07.30 WITA ketika sudah cukup tinggi di cakrawala. Di Karangan ada opsi untuk mempercepat perjalanan dan menghemat tenaga karena tersedia ojek motor sampai ke pos 1, tapi sudah tentu ada biaya yang harus dibayar. Di antara seluruh rombongan, hanya saya dan Pak Wira yang memutuskan untuk berjalan saja dari basecamp, jadi kami bersama tim porter memulai pendakian lebih awal dari yang lain sekitar jam 8 WITA. Perjalanan dari basecamp ke pos 1 didominasi jalur mendatar dan perkebunan kopi, kontur jalur pendakian yang sering ditemui di berbagai gunung di Indonesia.
Lagi-lagi aku kalah dengan mood dan memoriku. Ini adalah perjalanan awal 2025, sedangkan untuk dilanjutkan sekarang terlupa detail dan kejadian secara rinci. Singkatnya pada 26 Januari kami bermalam di pos 5, esok harinya melakukan Summit Attack yang syukurnya berhasil kami lakukan. Lalu turun basecamp di hari yang sama. 28 Januari kami bertolak dari Karangan untuk menuju Toraja, tepatnya Kete Kesu dan Patung Yesus Memberkati. Lalu pada 29 Januari 2025 pagi hari sekali, aku kembali bertolak ke Jakarta.
Barangkali hidup memang harus mempunyai mimpi, sedangkan mimpi-mimpi tidak pernah ada yang mustahil. Jangan sampai tunggu orang lain untuk mendukungmu baru kamu menggapainya. Bergeraklah, tanpa menunggu siapapun.
.jpeg)





















