Senin, 23 Desember 2024

Tidak Sesuai Harapan

Hidup selalu memiliki kejutan di setiap perjalanannya. Yang kali ini tidak sesuai harapan.

Petualangan kembali membawaku bersama Habibie, Daffa, dan Nabil melakukan pendakian. Saat ini Nabil adalah pemula, yang sebenarnya kemampuannya sangat aku khawatirkan. Tapi biarlah, selalu percaya rekan pendakian penting untuk menjaga suasana pikiran tetap kondusif. Sebelum lebih jauh, pendakian kali ini menuju ke Gunung Gede, gunung yang sangat menjadi andalan kawan-kawan di Jabodetabek sebagai tempat healing yang dekat-dekat saja. Namun supaya pendakian berbeda, aku memutuskan tidak lewat jalur Cibodas ataupun Gunung Putri, pendakian dilakukan melalui jalur Selabintana, jalur terpanjang dan tersulit untuk menggapai Puncak Gunung Gede.

Beli sayur di Sukabumi

Pendakian dimulai dari rumah untuk bertemu dan menuju basecamp dengan mengendarai motor, untuk menghemat biaya dan karena memang yang tersedia adalah kendaraan roda dua. Setelah melakukan persiapan administrasi, pengecekan perlengkapan, mengemas barang, dan tidur singkat, perjalanan dimulai menuju basecamp Selabintana yang sekaligus kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Perjalanan dimulai sekitar pukul 03.00 WIB, dengan 2 motor dan carrier penuh, kami siap melintas jalur Bogor-Sukabumi. 2,5 jam berkendara sampai kami sampai di Sukabumi kota dan memutuskan untuk istirahat sejenak sembari menunaikan shalat shubuh, sekaligus berbelanja sedikit kebutuhan makanan untuk di jalur pendakian. Sayur adalah makanan wajib, membeli sawi putih, jagung manis, nugget, dan bumbu dapur, sepertinya akan jadi menu yang lezat di atas nanti.

Jam 6 perjalanan di lanjut, di jalan kembali bungkus nasi dan lauk untuk makan siang serta sarapan terlebih dahulu. Supaya kegiatan masak-masak baru dilaksanakan di malam hari. Karena perjalanan yang memang santai, kami sampai basecamp Selabintana jam 8 tepat. Sampai basecamp langsung mengurus administrasi, checklist perlengkapan, dan mengikuti arahan dari pihak basecamp. Administrasi untuk mendaki Gunung Gede Pangrango sudah rapih dan dapat diurus online, jika seluruh berkas lengkap, proses administrasi tidak akan memakan waktu yang lama. Hanya informasi, di basecamp Selabintana sudah tidak ada sinyal provider apapun, untuk akses internet ada fasilitas wifi yang dapat diakses secara gratis, tanya saja kepada petugas untuk kata sandinya.

Sesaat sebelum mendaki

Setelah semua urusan selesai, jam 09.30 kami mulai melangkah, trek dimulai dengan jalur batu bersusun dan menyusuri sungai, maklum jalur awal masih menjadi satu dengan jalur ke Curug Cibereum, jadi dibuat senyaman dan seaman mungkin karena memang jalur wisata. Di 20 menit pertama, belum terasa bahwa Selabintana adalah jalur tersulit untuk mencapai Puncak Gede. Setelah bertemu pertigaan, ambil jalur ke kiri, kemudian kontur jalur berubah, trek tanah dan sepertinya ini jalur pendakian sebenarnya. 15 menit berjalan kami sampai di pos Citingar, ini bukan pos yang luas, hanya ada sedikit dudukan dan plang yang dikaitkan di pohon, kami berisitirahat sejenak disini sebelum melanjutkan perjalanan.

Pertigaan Cibereum dan Jalur Pendakian

Perjalanan selanjutnya merupakan perjalanan pos terpanjang, menuju Cigeber menurut info yang dihimpun, butuh waktu 2,5 jam berjalan. Disinilah tragedi terjadi, di tengah perjalanan menuju Citingar kami sekelompok diserang lebah. Hipotesisnya adalah entah ada sarang lebah yang diserang kawanan hewan lain atau ada pohon tumbang sehingga sarang lebahnya juga hancur, dan ini juga pertama kalina buat kami tersengat lebah, rasanya perih juga. Setelah terkena sengatan lebah, kondisi semakin kacau balau, kami tidak bisa memaksa untuk bergerak. Sebagai tindakan pertolongan pertama, kami disarankan untuk memakan bawang putih secara mentah dan mengoleskan ke bagian yang terkena sengatan. Sebenarnya rasa sengatannya masih terasa, cuma mungkin akan menjadi lebih parah jika tidak dilakukan pertolongan pertama tadi.

Sesaat setelah tersengat kawanan Lebah

Setelah adzan dzuhur berkumandang, kami mencoba melanjutkan perjalanan. Sebenarnya aku sudah baik-baik saja, rasa nyeri yang ada masih bisa ditahan dan tidak terlalu masalah, toh cuma terkena 2 sengatan masing-masing di betis kanan dan kiri. Tapi yang lainnya yang parah, mereka terkena sengatan hampir di sekujur tubuh, bahkan kepala. Dampak sengatannya pun tidak main-main, selama perjalanan Daffa, Habibie, dan Nabil menjadi tidak optimal dan prima. Lebih mudah lelah, badan panas, dan mual, perjalanan otomatis menjadi melambat, ditambah hujan sempat mengguyur di tengah perjalanan. Selambat-lambatnya berjalan, akhirnya jam 13.08 kami sampai di Cigeber. Karena sudah waktu makan siang walaupun terlewat, dan lahan yang cukup luas, aku memutuskan tim istirahat sejenak untuk mengisi perut, barangkali tenaga mereka kembali dan dapat mengalahkan efek nyeri yang dirasakan akibat sengatan lebah tadi.

Pos Cigeber

Setelah dirasa cukup istirahat, kemudian perjalanan dilanjut, karena memang menuju Citingar masih lumayan jauh. Ditambah trek yang masih sulit saja. Di tengah perjalanan juga sempat mengisi perbekalan air supaya stok air lebih aman, karena di tengah hutan, air menjadi lebih penting dari biasanya. Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami sampai juga di pos Citingar sekitar pukul 16.30. Sebenarnya ini bukan tujuan kammi sebagai tempat mendirikan tenda, namun karena kondisi fisik semakin menurun dan untuk melanjutkan ke pos selanjutnya masih jauh, aku memutuskan pendakian hari ini berhenti disini. Walaupun sebenarnya Citingar bukan pos yang ideal untuk camp, karena lahan yang sempit dan terbatas.

Suasana Pos Citingar

Segera mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam, tentunya sembari berbincang. Dari perbincangan dengan teman-teman sepertinya kondisi mereka belum juga membaik. Aku sudah berkali-kali mengatakan jika badan tidak mendukung jangan terlalu memaksakan, karena perjalanan untuk ke puncak masih cukup jauh, sekitar 4 jam lagi dari sini. Di malam itu juga Habibie mendeklarasikan sepertinya tidak akan muncak dengan pertimbangan badan yang semakin memburuk, sedangkan Daffa memutuskan melihat perkembangan nanti malam. Jika dirasa badang membaik, kita bisa berangkat. Ya walaupun malam itu Daffa juga masih pusing dan mual yang disebabkan sengatan lebah tadi siang. Setelah makanan habis kami semua tidur, dan aku bilang nanti malam tetap bangun jam 2 pagi untuk persiapan summit jika memungkinkan, jika tidak, toh tidur di Citingar juga sangat nyaman. Mendaki tidak selalu tentang puncak bukan?

Korban utama lebah

Sebenarnya tulisan ini belum selesai, tapi jika diceritakan secara detail, sudah lupa kejadiannya, hehe maklum, susah sekali menemukan mood untuk menulis belakangan ini. Singkatnya, sekitar jam 3 kami bangun, melihat perkembangan badan rekan-rekan sepertinya tidak memungkinkan untuk memaksakan ke puncak. Akhirnya kami lanjut tidur dan pagi hari sarapan, setelah sarapan sekitar jam 10 an kami mulai turun gunung. Sampai basecamp sekitar jam 2 siang, lalu kami berkemas kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan motor yang masih 5 jam lagi.

Menu makan pagi
Perjalanan mendaki itu memang seperti kehidupan, kadang naik, kadang turun, menemui semak belukar, harus merangkak di celah ranting, bertemu dengan berbagai macam makhluk hidup, sampai puncak, dan terkadang tidak sesuai harapan. Tapi penting untuk kuat dan terus bertahan, sampai kembali diminta pulang oleh-Nya.

Sebelum turun gunung

Senin, 22 April 2024

Titik Nol

Satu hal yang pasti dalam hidup ini adalah hidup pasti akan berputar layaknya roda. Bagian yang menyakitkan adalah, kita tidak pernah tahu pasti kapan titik nol mampir di hidup kita.

Kesempatan kali ini membawaku ke kota dimana aku memulai pendakian pertama ku, Garut. Tepat 9 tahun lalu aku datang di kota ini untuk memulai semuanya di Gunung Papandayan, Februari 2024 aku kembali untuk mendaki Gunung Cikuray, salah satu gunung yang juga cukup populer di Garut. Seperti hari-hari pendakian pada umumnya, aku hanya berangkat dengan rombongan kecil, 4 orang, Aku, Tiara, Habibie, dan rekan baru yaitu Daffa. Perjalanan dimulai pada tanggal 8 Februari jam 03.30 WIB di pool bus Primajasa Ciputat. Kami ambil bus paling pagi supaya dapat langsung mendaki di hari yang sama. Perjalanan ke Garut membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam menggunakan bus, dan kami sampai di Terminal Guntur Garut sekitar jam 9 pagi.

Sampai di Garut langsung belanja ke pasar dan bungkus nasi dahulu sebagai bekal pendakian di siang hari (rencananya).  Setelah urusan perbekalan selesai, kami mencarter angkot dengan tarif Rp 170.000 dari terminal sampai basecamp Kiara Janggot. Sampai basecamp jam 10, lalu sarapan nasi goreng dahulu di basecamp, urus simaksi, dan final check untuk perlengkapan yang akan dibawa ke atas. Pendakian via Kiara Janggot akan melewati 8 pos, dan sesuai rencana, kami akan camp di Pos 6 dengan estimasi jam 4 sore sampai.

Kita di basecamp.
Pendakian dimulai sekitar jam 11 siang, trek pertama menuju pos 1, dan sepanjang perjalanan masih dikelilingi pemukiman dan perkebunan warga. Pos 1 ditandai dengan sebuah plang, dan jika sudah sampai pos 1, berarti sudah ada di batas antara hutan dan pemukiman. Kami sampai di pos 1 sekitar jam 1 siang, memang, perjalanan menuju pos 1 adalah yang terpanjang, pos-pos setelahnya hanya butuh waktu 30-45 menit.  Ambil nafas dan minum sebentar di pos 1, kemudian melanjutkan perjalanan.

Lalat sepanjang perjalanan menuju pos 2
Perjalanan menuju pos 2 langit mulai berubah gelap, pertanda hujan akan datang. Saat itu hanya harap-harap cemas, jangan hujan dulu, pos 6 masih jauh, batinku. Setelah 35 menit berjalan, kami sampai di pos 2. Benar saja, yang sedari tadi dicemaskan datang juga. Hujan turun tepat setelah kami sampai di pos 2, sangat deras. Pos 2 juga menjadi tempat sumber air terakhir sehingga kami mengisi penuh perbekalan air disini. Lokasi sumber air tidak di pinggir jalur, perlu melipir sedikit 50 meter ke kanan jalur dan terdapat pipa yang menyalurkan air dari atas gunung. Jalur sumber air cukup jelas dan terlihat, hanya tinggal ikut jalan saja sumber air dapat ditemukan.

Setelah perbekalan air siap dan berganti ke setelan pendakian hujan, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Dari sini kontur pendakian berubah, yang sebelumnya dari basecamp sampai pos 2 cenderung landai, menuju pos 3 kontur berubah lebih terjal, ditambah cuaca hujan, lengkap sudah. Perjalanan ke pos 3 sempat terhambat sebentar karena di tengah jalan kakiku kram, entah mengapa belakangan ini setiap mendaki kram kaki selalu terjadi, padahal rasanya pemanasan sudah cukup maksimal. Ketika sampai di pos 3, kami tidak beristirahat, dan langsung tancap gas menuju pos 4, mengingat hari sudah semakin sore, dan rencana kami bermalam di pos 6, juga sudah cukup istirahat ketika insiden kram kaki terjadi.

Matahari semakin turun ketika kami sampai di pos 4, seingatku saat itu sudah jam 4 sore. Hanya istirahat sebentar di pos 4 untuk melonggarkan otot, selain karena cuaca masih hujan, di pos 4 juga tidak ada siapa-siapa, pertanda yang buruk jika harus sampai pos 6 terlalu lama dan bermalam tanpa ada rombongan lain. Semakin berjalan, kepercayaan diri semakin turun untuk bermalam di pos 6. Fisik semakin lelah karena sudah berangkat dari pagi buta, ditambah cuaca masih hujan, dan yang terparah, bekal makan siang yang kami bungkus di terminal Garut belum kami makan, yang artinya saat itu perut kami sudah mulai keroncongan. Akhirnya, keputusan bulat kami bermalam di pos 5 saja, entah ada rombongan lain atau tidak, kami berhenti. Risiko bermalam sendirian lebih kecil dibanding kami harus melanjutkan perjalanan ke pos 6 dengan kondisi fisik yang sudah tidak prima, dan hari yang semakin gelap.

Namun sepertinya alam mendukung kami, setelah berjalan 30 menit dari pos 4, kami mulai mendengar suara ramai dan aroma kopi yang sedang diseduh, yang kami harap saat itu kami sudah hampir sampai di pos 5. Dan benar saja, di pos 5 terdapat satu rombongan dengan 5 tenda, yang artinya kami tidak akan bermalam sendirian di pos 5. Sampai di pos 5 kami langsung membagi tugas, pasang tenda, memanaskan sayur,  jemur pakaian, dan tata tenda untuk tidur. Setelah makan, kami sepakat untuk istirahat saja dan tidak perlu makan malam kembali, dan makan lagi nanti sebelum summit attack, jam 2 dini hari.

Suasana di tenda

Esok harinya, kami bangun untuk persiapan summit. Karena rencana camp di pos 6 tidak terealisasi, maka kami harus bangun lebih awal supaya sampai di puncak saat sunrise. Setelah memasak nasi, mie instan, dan goreng bakso, kami melakukan packing untuk persiapan summit. Estimasi perjalanan adalah 3 jam, dan saat ini pukul 03.30. Perjalanan dimulai, trek masih sama saja seperti sebelumnya, akar, tanah, sesekali basah karena bekas hujan kemarin. Perjalanan malam lebih terasa ringan, tiba tiba saja kami sampai pos 6, buang hajat sebentar, lalu lanjut mendaki. Sebelum sampai pos 7, kami bertemu pertemuan antara jalur Pemancar dan Kiara Janggot. Setelah melewati persimpangan, berarti perjalanan sisa sedikit lagi, melewati pos 7, kemudian pos 8, dan 5 menit dari pos 8 kami sampai di Puncak Gunung Cikuray tepat pukul 07.00.

Sunrise di tengah summit attack

Seperti biasa, di puncak saatnya selebrasi dan dokumentasi. Setelah dirasa cukup, pukul 07.50 kami kembali turun ke camp di pos 5, sampai pos 5 jam 10, kemudian makan terlebih dahulu sembari packing, dan tepat sebelum dzuhur kami sudah siap turun. Perjalanan turun menggunakan sisa-sisa tenaga, sampai pos 1 aku masih menjaga supaya anggota pendakian tetap rapat dan tidak saling meninggalkan. Setelah sampai pos 1 pukul 13.00, baru aku mempersilahkan Habibie dan Daffa untuk mendahului, karena jalur yang juga sudah jelas dari sini.  Musabab kaki Tiara terluka, perjalanan aku dan Tiara menjadi lebih lambat menuju basecamp, sehingga baru sampai basecamp jam 14.30. Kemudian istirahat sebentar sembari berganti pakaian bersih, sekitar pukul 17.00 kami pamit dari basecamp menuju ke terminal, lalu perjalanan dilanjutkan menggunakan bus menuju Jakarta.

Kami di Puncak Cikuray
Layaknya kalimat awal tulisan ini, kita tidah pernah tahu kapan titik nol akan mampir di hidup kita. Satu hal yang pasti, waktu tersebut sudah pasti akan mampir, lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya adalah titik yang akan menentukan hidup kita selanjutnya. Tetap di titik nol selama-lamanya, atau kembali melangkah memulai dari 1 kembali.

Jumat, 29 September 2023

Sebuah Pepatah: Kecil-Kecil Cabai Rawit

Ribuan pepatah yang berlaku di dunia ini, tapi satu yang paling cocok untuk pendakian kali ini, "Kecil-Kecil Cabai Rawit". 

Pada akhir Juni 2023, tepatnya di tanggal 24-25 Juni, syukur masih memiliki kesempatan untuk mendaki gunung kembali. Pendakian kali ini tidak terlalu jauh tapi sangat berkesan dan menjadi salah satu gunung yang membuat aku penasaran sejak 4 tahun yang lalu, Gunung Salak. Seperti biasa, hari-hari kini, selalu memutuskan mendaki dengan jumlah yang tidak terlalu banyak supaya lebih mudah mengorganisir tim. Sehingga kali ini pendakian terdiri dari 4 orang, aku, Tiara, Ridwan (kawan lama yang akhirnya berhasil berjumpa lagi di trek pendakian), dan Habibie (pemula di pendakian kali ini). Sebenarnya sebuah keputusan yang berani untuk mengajak pemula mendaki Gunung Salak, tapi apa boleh dikata, aku selalu punya prinsip jangan berikan pemula gunung yang "enak" karena nanti jadi meremehkan pendakian gunung. Lagipula Gunung Salak juga sudah terkenal menjadi spot favorit tempat pelatihan dan pendidikan (Diklat) ratusan organisasi pecinta alam di Jabodetabek, jadi inilah saatnya. 

Kesepakatan membawa kami memilih jalur pendakian Pasir Reungit yang terletak di Leuwiliang, Bogor. Pasir Reungit memang jalur terpanjang dibanding dua lainnya yaitu Cidahu dan Cimelati, namun karena pertimbangan akses yang lebih mudah sekaligus melewati Kawah Ratu, jadi Pasir Reungit terpilih, sambil menyelam minum air, begitulah kira-kira. Pada tanggal 23 Juni 2023 kami sepakat berkumpul di rumahku, yang sekaligus rumah Tiara juga. Kami packing sebentar di malam hari dan melakukan pemeriksaan terakhir supaya tidak ada yang tertinggal, lalu kami istirahat. Pada pukul 02.00 WIB, kami mulai bangun, dan persiapan untuk melakukan perjalanan menuju pintu pendakian Pasir Reungit menggunakan sepeda motor. Ya, pendakian ini agak berbeda, karena Gunung Salak yang relatif masih dekat, aku memutuskan menggunakan motor saja untuk sampai ke basecamp, walaupun itu artinya harus menyetir sendiri yang membutuhkan tenaga, tapi tak apa. Jam 03.00 kami berangkat setelah pamit dengan orang tua, sekitar jam 05.30 kami sudah sampai di basecamp Pasir Reungit diselingi berputar-putar sebentar karena jalur masuk basecamp yang tidak terekspos di pinggir jalan. Kemudian kami melaksanakan Shalat Shubuh yang terlambat, sarapan, sembari menunggu petugas basecamp datang, kemudian registrasi, dan pendakian dimulai pada pukul 08.00. 

Trek awal pendakian termasuk masih sangat ramah pendaki pemula, landai, batu yang tersusun, dan jelas, sehinga kemungkinan kecil untuk mengalami disorientasi arah. Sepanjang jalur pendakian juga ditemani sungai yang mengalir tanpa henti, itu berarti sumber air sangat aman di Gunung Salak, setidaknya sampai Simpang Bajuri, namun itu berarti jalurnya juga basah dan lembab. Jalur pendakian terus begitu sampai di pukul 11.00 kami sampai di area Kawah Ratu, disini banyak juga dijumpai wisatawan yang hanya sekedar ke Kawah Ratu kemudian pulang. Itu sebabnya jalur dari basecamp dibuat sebaik mungkin karena memang jalur wisata. Di Kawah Ratu cukup lama, sebab selain foto-foto, kami sempat bingung mencari jalur pendakian menuju Simpang Bajuri, sehingga sempat berhenti dan mencari sejenak. Setelah Kawah Ratu istirahat sebentar sekitar 15 menit sembari menunggu waktu dzuhur selesai, kemudian pendakian dilanjutkan menuju Simpang Bajuri, jalurnya pun masih sama, landai dan batu bersusun, karena ini juga menjadi jalur wisata ke Kawah Ratu, namun via Cidahu.

Kemudian pendakian dilanjutkan, sesuai rencana kami akan bangun tenda di Simpang Bajuri, kemudian malam hari summit attack. Setelah melewati pos helipad, kami sampai di Simpang Bajuri sekitar jam 13.00. Lalu kami membangun tenda, mengambil persediaan air, memasak untuk makan siang, kemudian istirahat. Selama siang sampai malam pun tidak ada aktivitas yang terlalu berarti, malam memasak lagi, makan, kemudian istirahat untuk persiapan summit attack, karena perjalanan summit attack lebih panjang dari perjalanan hari ini, iya, masih 5 Km lagi serta 5 jam estimasi. Aku lupa bilang, sepatu Tiara sudah jebol saat ini, sehingga harus ada yang berkorban.

Malam harinya kami bangun, dengan persediaan nasi yang sudah dimasak sebelum tidur, kami memasak mi instan untuk tenaga tambahan sebelum summit. Setelah berbagai persiapan, kami memulai pendakian menuju puncak tepat pukul 03.00 WIB. Saat itu sepertinya baru kami yang mulai berjalan walaupun sebenarnya itu juga sudah telat 2 jam dari rencana awal, sebab pada pukul 01.00 kabut masih cukup tebal sehingga aku tidak berani untuk membawa tim berjalan. Perjalanan menuju puncak memiliki tekstur tanah, lembab, dan beberapa tempat mewajibkan pendaki rela kakinya terendam tanah setinggi mata kaki. Walaupun begitu, setiap 100 meter jalur menuju puncak terdapat patok yang dimulai dari HM 1 sampai dengan HM 50 (Puncak Salak 1), sehingga jika dalam kurun langkah tertentu HM tersebut tidak kita temukan, sudah dapat dipastikan, kita salah jalur.

Pendakian awal masih bugar, bahkan kami baru berhenti ketika adzan shubuh berkumandang, sekitar pukul 04.30 di antara HM 17 dan 18. Perjalanan menuju puncak pun kami sempat bertemu dengan beberapa pendaki yang ternyata bermalam, padahal kami pikir Simpang Bajuri adalah campsite terakhir. Kami bertemu kumpulan tenda yang cukup banyak di HM 25, dan di HM 30 kami juga bertemu satu tenda yang pada saat itu matahari sudah menampakkan sinarnya. Kami terus berjalan, beberapa jalur justru turun dahulu baru naik kembali, jalur menuju puncak ini memang banyak diputar karena memang cukup vertikal jika langsung menanjak. Kami sampai di Puncak Bayangan, juga tepat HM 39 sekitar jam 07.30, kami istirahat sebentar, karena setelah ini kami akan mendaki tebing, bukan tanah lagi.

Beberapa tebing harus dilewati dari Puncak Bayangan menuju Puncak 1, untungya di setiap tebing juga terdapat tali sebagai bantuan untuk mendaki. Memasuki HM 49, dapat dibilang pendakian "selesai" karena jalur melandai dan melewati kumpulan pohonan, sampai akhirnya 100 meter kemudian kami sampai di HM 50 sekaligus Puncak Salak 1 pada pukul 09.00 disertai puluhan tenda yang bermalam di atas, yang tidak kami sangka ternyata ada yang bermalam di Puncak. Pendaki yang bermalam di puncak sebagian besar berasal dari jalur Cimelati, namun ada beberapa pula yang berasal dari jalur Cidahu dan Pasir Reungit. 45 menit selebrasi, setelah itu usai, kami harus turun lagi ke Simpang Bajuri, 5 Km lagi harus ditempuh.

Formasi saat turun berubah, aku meminta Ridwan duluan saja dan turun lebih cepat untuk memasak sembari mencicil merapihkan tenda, sebab jika mengikuti tempo Tiara dan Habibie, mungkin kami akan sampai basecamp larut malam. Benar saja, Ridwan sampai sekitar waktu dzuhur, dan kami bertiga sampai di jam 13.00, syukur nasi sudah matang sehingga tersisa memasak sayur. Kemudian kami makan, berkemas, dan turun tepat pukul 15.00. Perjalanan turun sampai Kawah Ratu semua masih normal, 50 menit kami sampai Kawah Ratu. Tetapi dari Kawah Ratu menuju basecamp, ada sesuatu yang terjadi entah apa. Saat mendaki, kami membutuhkan 3 jam menuju Kawah Ratu, dan ternyata, saat turun kami menghabiskan waktu 3 jam juga sehingga baru sampai di Basecamp pukul 19.00, sangat di luar dugaan dan tidak pernah mengalami hal seperti ini, sebab seharusnya perjalanan turun lebih cepat dari perjalanan naik. Tapi sampai saat ini, aku belum tahu apa yang terjadi, semoga baik-baik saja.

Setelah makan dan berkemas, pendakian berarti selesai. Aku, Tiara, dan Habibie pulang menuju rumahku, sedangkan Ridwan langsung bertolak ke rumahnya, kami berpisah arah di Parung, dan suatu saat akan kembali lagi ke Salak, karena seluruh foto di kamera hilang sebab SD Card terpaksa diformat.

Setiap pendakian selalu punya ceritanya masing-masing, begitu juga Gunung Salak. Konon katanya Salak bukan berarti buah yang kita kenal, namun berasal dari kata Salaka yang berarti "Perak". Sehingga secara harfiah Gunung Salak memiliki arti Gunung Perak. Tapi apapun itu, bagiku, Gunung Salak adalah kecil-kecil cabai rawit!

Jumat, 21 Januari 2022

Satu Per Satu #2

Kata orang bijak, badai pasti akan berlalu. Ucapan itu kadang bisa dibenarkan, kadang juga tidak.

Itulah yang kami alami malam itu, badai tak kunjung berhenti hingga pagi. Bahkan jam 03.00 WITA, kerangka tenda kami sempat lepas karena angin yang terlalu kencang, memaksa kami terbangun dan harus memperbaiki tenda supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun perbaikan sifatnya hanya sementara, karena hari masih gelap, dan angin yang menerpa tubuh terasa sangat dingin.

Fajar menyingsing, ternyata cuaca sangat cerah hari itu, 27 Desember 2021. Segara Anak jelas di depan tenda, di belakang Dewi Anjani menyapa ingin digapai. Tapi ini memang bukan hari kami, pada hari ini, jadwalnya adalah turun ke Segara Anak (bagi yang mau) dan kemudian kembali lagi ke Pelawangan Sembalun. Waktu yang dibutuhkan untuk turun adalah sekitar 3 jam, dan untuk kembali naik sekitar 5-6 jam. Dengan kekuatan fisik aku dan menimbang untuk Summit Attack esok malam,  aku memutuskan untuk istirahat saja di tenda sembari menjaga tenda lainnnya dari serangan monyet-monyet. Bagiku, sudah cukup melihat Segara Anak dari sini, aku sudah tau kamu indah.

Arip dan Eca termasuk rombongan yang ikut untuk turun ke Danau, tapi sekitar jam 11 Arip dan Eca malah kembali ke tenda, pikirku sudah sampai, tapi ternyata mereka memutuskan kembali karena perjalanan masih jauh. Kejadian ini membuat aku merasa mengambil keputusan yang tepat untuk tidak ikut ke bawah. Hari itu, tak banyak yang kami lakukan, hanya banyak berbicara dan istirahat di tenda untuk persiapan esok harinya. Dan kami tidur sekitar jam 21 WITA untuk mulai berjalan sesuai rencana pada jam 01 WITA.

28 Desember 2021, hari yang kami nantikan. Di tengah kegelapan kami masih bisa melihat samar-samar puncak Rinjani tidak tertutup apapun, pertanda cuaca baik, dan semoga akan bertahan. Setelah makan, satu rombongan bersiap untuk menggapai puncak bersama-sama, walaupun rencana hanyalah rencana, kami mulai berjalan pada jam 02 WITA. Sekitar 30 menit berjalan dari Pelawangan, trek sudah berubah menjadi pasir, dan membuat tenaga lebih cepat terkuras karena sekali melangkah, kaki akan merosot setengah langkah, terus begitu sampai menjelang puncak.

3 jam berjalan, kami sampai di pinggir jurang, punggungan gunung. Perjalanan dari sini akan terus menyusur di sisi jurang sampai ke puncak, sesekali angin juga berhembus dan memaksa kami berlindung di balik bebatuan karena memang tidak ada apa-apa lagi disini selain batu dan pasir. Tak sadar hari mulai terang, saat itu juga kami mematikan senter karena jalur sudah jelas terlihat, kadang kondisi pendakian terang malah membuat mental lebih cepat tergerus, karena jalur yang terlihat jelas membuat kesan tujuan tidak kunjung sampai, padahal sama saja, langkah kaki kami tetap mencicil pelan-pelan.

Jam 07.30 pagi kami sampai di Letter E Rinjani, mental sudah tergerus, ditambah berjumpa dengan rombongan kami yang pertama sampai puncak pukul 6, ternyata sudah turun. Membuat kami semakin bertanya-tanya. Namun, perlahan tetap kami lanjutkan, jangan sampai kami bermimpi setelah pulang dan berhutang kepada Rinjani, walaupun Rinjani memang tidak akan kemana-mana.

Puncak semakin dekat, sekitar jam 09 WITA, akhirnya kami sampai di puncak Rinjani yang cukup mungil, sehingga harus antre untuk mengabadikan momen yang mungkin sekali seumur hidup ini. Kami memutuskan tidak berlama di atas, karena hari ini juga harus turun sampai basecamp. Sekitar jam 09.30 kami turun, dan sampai di Pelawangan Sembalun pukul 13 WITA. Setelah makan dan berkemas, kami mulai perjalanan turun, walaupun tubuh juga sudah lelah, namun karena terbatas SIMAKSI dan peraturan, mau tidak mau kami memang harus turun.

di Dewi Anjani

Pukul 17 WITA kami sampai di pos 2, ternyata kaki saya sudah sakit sekali, karena menahan beban tubuh selama turun. Sebab perjalanan ke kandang sapi masih sangat jauh, kami memutuskan untuk naik ojek yang memang tersedia di pos 2, setelah tawar-menawar dan menemui kesepakatan, sekitar maghrib kami sudah di kandang sapi dan menunggu jemputan.

Malam itu kami rapih-rapih, makan penyetan ayam di depan basecamp, tidur, dan esoknya perjalanan dilanjut ke Gili Trawangan sebelum kembali ke rumah dengan metode yang sama. Pelabuhan Lembar-Pelabuhan Ketapang-Tol Trans Jawa.

Mengutip dari kata-kata Pandji Pragiwaksono dalam videonya, Ia pernah berkata "jangan sekali-kali kubur mimpi kamu, karena sekeras apapun kamu pukul, mimpi itu hanya akan pingsan, dan suatu saat akan bangkit di usia tuamu dalam bentuk penyesalan". Seperti kalimat awal tulisan ini di episode #1, hidup adalah persinggahan untuk menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu. Dan ini adalah mimpi kami, 7 summit yang mana selanjutnya?

Tim Luar Biasa
Snorkling
Kulit terbakar di Gili Trawangan

Terima kasih untuk Allah, Ayah, Bunda, Tiara, Cantika, Rizka, dan Eppala Adventure dalam perjalanan ini. Terima kasih juga untuk kawan-kawan rombongan, perjalanan ini akan dikenang.

Kisah ini berakhir.

Senin, 17 Januari 2022

Satu Per Satu #1

Hidup adalah sebuah persinggahan. Persinggahan menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu.

Itulah yang saya gagas dalam perjalanan kali ini. Kembali memenuhi agenda tahunan untuk mendaki, jodohnya tahun ini adalah Rinjani, iya salah satu 7 summits Indonesia dan menjadi urutan ke-3 di daftar tersebut. Rinjani juga menjadi gunung ke-2 aku dan kami dalam rangkaian 7 summits, setelah sebelumnya pada 2020 kami berkunjung ke Kerinci.

Perjalanan ini dimulai sejak Oktober, tahap persiapan. Aku dan Rizka (partner perjalanan ku) banyak berdiskusi tentang kemana kami tahun ini, Rizka ingin ke Semeru (Oktober itu Semeru belum meletus), namun sepengetahuan ku Semeru memang sudah ditutup sejak Juli akibat kebijakan PPKM. Sedangkan aku ingin ke Rinjani -gunung yang katanya punya banyak sekali keindahan-. Namun itu berarti, kami kembali mendaki di luar Pulau Jawa dan harus menyiapkan dana lebih banyak. Dengan berbagai pertimbangan, keputusan bulat untuk ke Rinjani menggunakan open trip, bukan perjalanan independen. Singkat cerita kami persiapan ekstra, dan perjalanan baru akan dimulai pada 23-30 Desember 2021.

Hari beranjak, tibalah 23 Desember hari keberangkatan kami, kembali melakukan perjalanan via darat dan bertemu di UKI Cawang untuk titik temu Kota Jakarta, setelah sebelumnya bus berangkat dari Bandung dan Bogor. Sekilas informasi mengatakan kami akan berangkat sekitar 50 an orang, dan memang benar karena bus yang kami gunakan adalah armada besar. Jam 13.30 WIB kami berangkat dari UKI Cawang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Agendanya kapal akan bersandar pukul 19.00 WIB keesokan harinya, namun karena kami telat datang, kami kebagian kapal jam 23.00 WIB, tetapi kendala terjadi kembali, kapal yang harusnya tiba pukul 23 tersebut mengalami kerusakan, sehingga kami harus menunggu sampai jam 7 pagi untuk berlayar ke Lombok. Benar-benar pengorbanan yang luar biasa.
Kebersamaan di Kapal

Perjalanan laut dari Banyuwangi ke Lombok cukup lama, kami sampai di Lombok sekitar jam 01.00 WITA keesokan harinya. Langsung bertolak ke Desa Sembalun yang masih harus ditempuh 4-5 jam perjalanan, sekitar jam 07.00 WITA kami sampai di basecamp bang Ady. Karena keterlambatan kapal, pagi itu juga kami harus langsung mendaki, karena sesuai dengan SIMAKSI yang kami urus, pendakian dilakukan tanggal 26-28 Desember 2021.
Makan di Ketapang

Pendakian dimulai dari kandang sapi, setelah dari basecamp menaiki mobil bak terbuka. Setelah berdoa, kami memulai pendakian sekitar pukul 11 WITA, ketika matahari hampir di puncak teriknya. Mendaki dengan jumlah 50 orang tidak mudah, rombongan menjadi terpecah-pecah secara otomatis sesuai gaya mendakinya. Lagipula, siang itu Rinjani panas sekali, leher cepat kering, kaki cepat panas, laksana hatimu. Sekitar jam 13 WITA saya sampai di pos 2, kondisi pos 2 lumayan nyaman, ada beberapa pendopo yang dapat  digunakan untuk istirahat. Sekitar 15 menit istirahat, kami lanjutkan perjalanan, trek Rinjani sampai pos 3 cenderung landai dan terbuka. Sangat minim pohon besar di jalur pendakian, ini juga yang menyebabkan cuaca (apapun itu) akan langsung mengenai tubuh karena tidak terhalang.
Kandang Sapi

Perjalanan ke pos 3 cenderung dekat, sekitar jam 15 WITA kami sudah sampai di pos 3. Disini istirahat cukup lama, karena katanya setelah ini pendakian baru akan dimulai, jadi tadi apa? Jalur selanjutnya adalah bukit penyesalan -yang cukup terkenal di Rinjani itu-. Katanya juga ini jalur yang melewati 7 bukit dan seakan tak habis-habis. Memang, awal memasuki jalur, konturnya berbeda dengan jalur dari kandang sapi sampai pos 3. Sejak pos 3 jalur lebih curam dan menanjak, tentunya juga semakin menguras tenaga karena hari semakin larut. Jam 16.30 WITA sampai di pos 4 dalam kondisi gerimis, tapi bukan disini tempat kami bermalam, namun karena perut kosong, memutuskan untuk membuka perbekalan sejenak sebelum berlanjut. Di pos 4 juga sudah banyak tampil monyet-monyet yang berusaha merebut makanan pendaki, hal inilah yang juga patut diwaspadai ketika ingin mendaki Rinjani.


<Jalur dari kandang sapi - pos 3>









Setelah itu perjalanan di lanjut, katanya Pelawangan Sembalun masih 4 jam lagi dari pos 4, itu artinya kami akan melintas malam. Mau tidak mau ini dilakukan, karena memang tempat paling ideal untuk bermalam adalah di Pelawangan. Tubuh sudah lelah sekali di titik ini, ingin naik jauh, ingin turun sia-sia. Jalur Rinjani sudah tidak terlihat lagi, pandangan kami hanya sebatas senter yang kami gunakan, namun rasanya sama, tidak sampai-sampai, dimana Pelawangan? Setelah perjalanan panjang dan melawan diri sendiri, jam 21.30 WITA kami sampai di Pelawangan, kami salah satu rombongan yang di belakang saat itu, karena sudah ada beberapa kawan yang sampai Pelawangan lebih dulu, di Rinjani, kami satu tenda dengan Arip dan Eca, begitulah Ia dipanggil, selama 2 malam berbagi cerita juga tawa dengan caranya masing-masing. 

Tak banyak yang dilakukan, malam itu makan kemudian tidur, namun malam itu tidak mengasyikkan karena dini harinya kami diserang badai.

Akan berlanjut.