![]() |
| Gerbang pendakian |
![]() |
| Pos 1 |
![]() |
| View point at pos 2 |
![]() |
| Curug Citiis |
![]() |
| Prepare for a camp |
![]() |
| Citylight Garut |
![]() |
| Break di Puncak 1 |
![]() |
| Kita di Puncak 2 Guntur |
Tidak pernah mati, abadi.
![]() |
| Gerbang pendakian |
![]() |
| Pos 1 |
![]() |
| View point at pos 2 |
![]() |
| Curug Citiis |
![]() |
| Prepare for a camp |
![]() |
| Citylight Garut |
![]() |
| Break di Puncak 1 |
![]() |
| Kita di Puncak 2 Guntur |
Tidak sempat menulis belakangan, berikut adalah beberapa arsip perjalananku saat ke Bismo-Pakuwaja pada Mei 2025, Pangrango pada September 2025, Touring ke Jawa Tengah dan mendaki Ungaran pada Desember 2025, dan mendaki ke Merbabu pada Mei 2026. Sebelumnya mohon maaf belum sempat menulis lagi.
Perjalanan berikutnya akan kutulis dalam kisah, ditunggu ya, kawan.
Takdir langit membawaku ke perjalanan ini, perjalanan yang memang menjadi impianku sedari awal. Aku sadar betul bahwa mimpi-mimpi adalah selalu milik kita sendiri, jangan tunggu orang lain.
Angin menjemputku untuk perjalanan kali ini, perjalanan yang tidak pernah kusangka-sangka akan kulakukan dalam hidupku, perjalanan mimpi, perjalanan hati, yang sulit diungkapkan dengan sebuah kalimat. Perjalanan ke Sulawesi, untuk menggapai puncak tertinggi, Gunung Latimojong dengan ketinggain 3.478 mdpl.
Hari-hari kini, perjalanan dengan kawan-kawan lama sudah sangat sulit untuk dilakukan. Semakin bertambah dewasa, kegiatan kami semakin beragam, sulit untuk menemukan waktu yang pas untuk bertemu, apalagi untuk melakukan perjalanan panjang. Jadi perjalanan kali ini dilakukan dengan menggunakan jasa open trip layaknya pendakian gunung-gunung 7 summits sebelumnya (Kerinci dan Rinjani) supaya akses dan akomodasi lebih mudah walaupun harus membayar sedikit lebih mahal, tetapi arah perjalanan menjadi lebih jelas.
Perjalanan dimulai pada tanggal 24 Januari 2025, setelah pulang menjalankan tugas dari Garut, aku mampir ke rumah sebentar untuk packing dan mempersiapkan perlengkapan. Sampai rumah sekitar jam 16 WIB, dan penerbanganku ke Makassar dijadwalkan pukul 22.10 WIB, sehingga di rumah hanya sebentar dan sehabis shalat maghrib langsung bertolak ke bandara. Malam itu penerbangan tidak ada kendala, baik dari waktu keberangkatan, cuaca, maupun kedatangan. Sampai di bandara Sultan Hasanuddin sekitar jam 01.30 WITA dan sudah ditunggu oleh leader perjalanan kami, Bang Roes. Beberapa kawan peserta pun sudah ada yang datang menunggu, Kakak Rizka, Kakak Ode, Pak Eko, Bang Wira, dan Mba Nova. Sementara secara kebetulan aku satu penerbangan dengan Cece Monic, Pak Fajar, dan kak Wiwik.
Menjelang shubuh, setelah rombongan lengkap kami bertolak ke menuju Karangan menggunakan 2 mobil. Sebagai informasi, Karangan adalah desa terakhir untuk menggapai atap Sulawesi yang masih harus ditempuh sekitar 9-10 jam dari Makassar, perjalanan yang cukup panjang. Sesekali kami singgah untuk istirahat dan mereganggkan badan. Mampir ke kamar kecil, sarapan, membeli perbekalan, berhenti untuk mengambil gambar jika ada spot yang bagus. Sebab memang perjalanan ke Sulawesi adalah pertama kali untuk beberapa dari kami, termasuk aku. Perjanan panjang sudah ditempuh, sekitar jam 13.30 WITA kami sampai di Baraka, kecamatan terakhir sebelum kami berganti kendaraan menjadi truk, karena tidak memungkinkan jalur selanjutnya ditempuh menggunakan mobil pribadi.
Rehat sejenak di Baraka, memindahkan barang ke truk, kemudian perjalanan dilanjut sampai ke Karangan sekitar 2 jam lagi dengan kondisi hujan deras. Pemandangan sepanjang dari Baraka sampai Karangan indah dan cantik sekali. Tetapi jalan setapak dan kiri kanannya langsung jurang terjal, tidak bisa dideskripsikan kata-kata. Akhirnya setelah perjalanan yang sangat jauh, kami sampai di Karangan sekitar pukul 17 WITA dengan kondisi lembab, dingin, dan ingin tidur. Tidak banyak yang dilakukan di Karangan hari itu, karena selain masih jetlag, pendakian esok hari membutuhkan tenaga eksra karena jarak dan biaya untuk sampai sini bukanlah hal yang murah dan mudah.
26 Januari 2025, suasana Karangan dingin, menusuk, dan syahdu. Karena Karangan berlokasi di lembah, maka walaupun langit sudah terang, tetapi matahari belum "terbit" karena terhalang tebing-tebing gunung. Matahari baru muncul sekitar jam 07.30 WITA ketika sudah cukup tinggi di cakrawala. Di Karangan ada opsi untuk mempercepat perjalanan dan menghemat tenaga karena tersedia ojek motor sampai ke pos 1, tapi sudah tentu ada biaya yang harus dibayar. Di antara seluruh rombongan, hanya saya dan Pak Wira yang memutuskan untuk berjalan saja dari basecamp, jadi kami bersama tim porter memulai pendakian lebih awal dari yang lain sekitar jam 8 WITA. Perjalanan dari basecamp ke pos 1 didominasi jalur mendatar dan perkebunan kopi, kontur jalur pendakian yang sering ditemui di berbagai gunung di Indonesia.
Lagi-lagi aku kalah dengan mood dan memoriku. Ini adalah perjalanan awal 2025, sedangkan untuk dilanjutkan sekarang terlupa detail dan kejadian secara rinci. Singkatnya pada 26 Januari kami bermalam di pos 5, esok harinya melakukan Summit Attack yang syukurnya berhasil kami lakukan. Lalu turun basecamp di hari yang sama. 28 Januari kami bertolak dari Karangan untuk menuju Toraja, tepatnya Kete Kesu dan Patung Yesus Memberkati. Lalu pada 29 Januari 2025 pagi hari sekali, aku kembali bertolak ke Jakarta.
Barangkali hidup memang harus mempunyai mimpi, sedangkan mimpi-mimpi tidak pernah ada yang mustahil. Jangan sampai tunggu orang lain untuk mendukungmu baru kamu menggapainya. Bergeraklah, tanpa menunggu siapapun.
Hidup selalu memiliki kejutan di setiap perjalanannya. Yang kali ini tidak sesuai harapan.
Petualangan kembali membawaku bersama Habibie, Daffa, dan Nabil melakukan pendakian. Saat ini Nabil adalah pemula, yang sebenarnya kemampuannya sangat aku khawatirkan. Tapi biarlah, selalu percaya rekan pendakian penting untuk menjaga suasana pikiran tetap kondusif. Sebelum lebih jauh, pendakian kali ini menuju ke Gunung Gede, gunung yang sangat menjadi andalan kawan-kawan di Jabodetabek sebagai tempat healing yang dekat-dekat saja. Namun supaya pendakian berbeda, aku memutuskan tidak lewat jalur Cibodas ataupun Gunung Putri, pendakian dilakukan melalui jalur Selabintana, jalur terpanjang dan tersulit untuk menggapai Puncak Gunung Gede.
| Beli sayur di Sukabumi |
Pendakian dimulai dari rumah untuk bertemu dan menuju basecamp dengan mengendarai motor, untuk menghemat biaya dan karena memang yang tersedia adalah kendaraan roda dua. Setelah melakukan persiapan administrasi, pengecekan perlengkapan, mengemas barang, dan tidur singkat, perjalanan dimulai menuju basecamp Selabintana yang sekaligus kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Perjalanan dimulai sekitar pukul 03.00 WIB, dengan 2 motor dan carrier penuh, kami siap melintas jalur Bogor-Sukabumi. 2,5 jam berkendara sampai kami sampai di Sukabumi kota dan memutuskan untuk istirahat sejenak sembari menunaikan shalat shubuh, sekaligus berbelanja sedikit kebutuhan makanan untuk di jalur pendakian. Sayur adalah makanan wajib, membeli sawi putih, jagung manis, nugget, dan bumbu dapur, sepertinya akan jadi menu yang lezat di atas nanti.
Jam 6 perjalanan di lanjut, di jalan kembali bungkus nasi dan lauk untuk makan siang serta sarapan terlebih dahulu. Supaya kegiatan masak-masak baru dilaksanakan di malam hari. Karena perjalanan yang memang santai, kami sampai basecamp Selabintana jam 8 tepat. Sampai basecamp langsung mengurus administrasi, checklist perlengkapan, dan mengikuti arahan dari pihak basecamp. Administrasi untuk mendaki Gunung Gede Pangrango sudah rapih dan dapat diurus online, jika seluruh berkas lengkap, proses administrasi tidak akan memakan waktu yang lama. Hanya informasi, di basecamp Selabintana sudah tidak ada sinyal provider apapun, untuk akses internet ada fasilitas wifi yang dapat diakses secara gratis, tanya saja kepada petugas untuk kata sandinya.
![]() |
| Sesaat sebelum mendaki |
Setelah semua urusan selesai, jam 09.30 kami mulai melangkah, trek dimulai dengan jalur batu bersusun dan menyusuri sungai, maklum jalur awal masih menjadi satu dengan jalur ke Curug Cibereum, jadi dibuat senyaman dan seaman mungkin karena memang jalur wisata. Di 20 menit pertama, belum terasa bahwa Selabintana adalah jalur tersulit untuk mencapai Puncak Gede. Setelah bertemu pertigaan, ambil jalur ke kiri, kemudian kontur jalur berubah, trek tanah dan sepertinya ini jalur pendakian sebenarnya. 15 menit berjalan kami sampai di pos Citingar, ini bukan pos yang luas, hanya ada sedikit dudukan dan plang yang dikaitkan di pohon, kami berisitirahat sejenak disini sebelum melanjutkan perjalanan.
| Pertigaan Cibereum dan Jalur Pendakian |
| Sesaat setelah tersengat kawanan Lebah |
| Pos Cigeber |
![]() |
| Suasana Pos Citingar |
| Korban utama lebah |
Sebenarnya tulisan ini belum selesai, tapi jika diceritakan secara detail, sudah lupa kejadiannya, hehe maklum, susah sekali menemukan mood untuk menulis belakangan ini. Singkatnya, sekitar jam 3 kami bangun, melihat perkembangan badan rekan-rekan sepertinya tidak memungkinkan untuk memaksakan ke puncak. Akhirnya kami lanjut tidur dan pagi hari sarapan, setelah sarapan sekitar jam 10 an kami mulai turun gunung. Sampai basecamp sekitar jam 2 siang, lalu kami berkemas kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan motor yang masih 5 jam lagi.
![]() |
| Menu makan pagi |
| Sebelum turun gunung |
Satu hal yang pasti dalam hidup ini adalah hidup pasti akan berputar layaknya roda. Bagian yang menyakitkan adalah, kita tidak pernah tahu pasti kapan titik nol mampir di hidup kita.
Kesempatan kali ini membawaku ke kota dimana aku memulai pendakian pertama ku, Garut. Tepat 9 tahun lalu aku datang di kota ini untuk memulai semuanya di Gunung Papandayan, Februari 2024 aku kembali untuk mendaki Gunung Cikuray, salah satu gunung yang juga cukup populer di Garut. Seperti hari-hari pendakian pada umumnya, aku hanya berangkat dengan rombongan kecil, 4 orang, Aku, Tiara, Habibie, dan rekan baru yaitu Daffa. Perjalanan dimulai pada tanggal 8 Februari jam 03.30 WIB di pool bus Primajasa Ciputat. Kami ambil bus paling pagi supaya dapat langsung mendaki di hari yang sama. Perjalanan ke Garut membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam menggunakan bus, dan kami sampai di Terminal Guntur Garut sekitar jam 9 pagi.
Sampai di Garut langsung belanja ke pasar dan bungkus nasi dahulu sebagai bekal pendakian di siang hari (rencananya). Setelah urusan perbekalan selesai, kami mencarter angkot dengan tarif Rp 170.000 dari terminal sampai basecamp Kiara Janggot. Sampai basecamp jam 10, lalu sarapan nasi goreng dahulu di basecamp, urus simaksi, dan final check untuk perlengkapan yang akan dibawa ke atas. Pendakian via Kiara Janggot akan melewati 8 pos, dan sesuai rencana, kami akan camp di Pos 6 dengan estimasi jam 4 sore sampai.
![]() |
| Kita di basecamp. |
![]() |
| Lalat sepanjang perjalanan menuju pos 2 |
Matahari semakin turun ketika kami sampai di pos 4, seingatku saat itu sudah jam 4 sore. Hanya istirahat sebentar di pos 4 untuk melonggarkan otot, selain karena cuaca masih hujan, di pos 4 juga tidak ada siapa-siapa, pertanda yang buruk jika harus sampai pos 6 terlalu lama dan bermalam tanpa ada rombongan lain. Semakin berjalan, kepercayaan diri semakin turun untuk bermalam di pos 6. Fisik semakin lelah karena sudah berangkat dari pagi buta, ditambah cuaca masih hujan, dan yang terparah, bekal makan siang yang kami bungkus di terminal Garut belum kami makan, yang artinya saat itu perut kami sudah mulai keroncongan. Akhirnya, keputusan bulat kami bermalam di pos 5 saja, entah ada rombongan lain atau tidak, kami berhenti. Risiko bermalam sendirian lebih kecil dibanding kami harus melanjutkan perjalanan ke pos 6 dengan kondisi fisik yang sudah tidak prima, dan hari yang semakin gelap.
Namun sepertinya alam mendukung kami, setelah berjalan 30 menit dari pos 4, kami mulai mendengar suara ramai dan aroma kopi yang sedang diseduh, yang kami harap saat itu kami sudah hampir sampai di pos 5. Dan benar saja, di pos 5 terdapat satu rombongan dengan 5 tenda, yang artinya kami tidak akan bermalam sendirian di pos 5. Sampai di pos 5 kami langsung membagi tugas, pasang tenda, memanaskan sayur, jemur pakaian, dan tata tenda untuk tidur. Setelah makan, kami sepakat untuk istirahat saja dan tidak perlu makan malam kembali, dan makan lagi nanti sebelum summit attack, jam 2 dini hari.
| Suasana di tenda |
Esok harinya, kami bangun untuk persiapan summit. Karena rencana camp di pos 6 tidak terealisasi, maka kami harus bangun lebih awal supaya sampai di puncak saat sunrise. Setelah memasak nasi, mie instan, dan goreng bakso, kami melakukan packing untuk persiapan summit. Estimasi perjalanan adalah 3 jam, dan saat ini pukul 03.30. Perjalanan dimulai, trek masih sama saja seperti sebelumnya, akar, tanah, sesekali basah karena bekas hujan kemarin. Perjalanan malam lebih terasa ringan, tiba tiba saja kami sampai pos 6, buang hajat sebentar, lalu lanjut mendaki. Sebelum sampai pos 7, kami bertemu pertemuan antara jalur Pemancar dan Kiara Janggot. Setelah melewati persimpangan, berarti perjalanan sisa sedikit lagi, melewati pos 7, kemudian pos 8, dan 5 menit dari pos 8 kami sampai di Puncak Gunung Cikuray tepat pukul 07.00.
![]() |
| Sunrise di tengah summit attack |
Seperti biasa, di puncak saatnya selebrasi dan dokumentasi. Setelah dirasa cukup, pukul 07.50 kami kembali turun ke camp di pos 5, sampai pos 5 jam 10, kemudian makan terlebih dahulu sembari packing, dan tepat sebelum dzuhur kami sudah siap turun. Perjalanan turun menggunakan sisa-sisa tenaga, sampai pos 1 aku masih menjaga supaya anggota pendakian tetap rapat dan tidak saling meninggalkan. Setelah sampai pos 1 pukul 13.00, baru aku mempersilahkan Habibie dan Daffa untuk mendahului, karena jalur yang juga sudah jelas dari sini. Musabab kaki Tiara terluka, perjalanan aku dan Tiara menjadi lebih lambat menuju basecamp, sehingga baru sampai basecamp jam 14.30. Kemudian istirahat sebentar sembari berganti pakaian bersih, sekitar pukul 17.00 kami pamit dari basecamp menuju ke terminal, lalu perjalanan dilanjutkan menggunakan bus menuju Jakarta.
![]() |
| Kami di Puncak Cikuray |