Minggu, 30 Agustus 2026

Jalani Hidup dengan Berani

Satu hal yang pasti adalah bahwasannya hidup ini akan berakhir. Perlahan semua akan hilang, hartamu, jabatanmu, kebahagiaanmu, dan kesehatanmu. Sebelum semua itu lenyap, jangan biarkan penyesalan datang, maka jalani hidup dengan berani.

Seiring berdetaknya waktu, pergantian manusia, perjalanan membawaku kembali ke Garut, kota yang menjadi saksi pendakian pertamaku 11 tahun yang lalu. Melanjutkan rangkaian Sapaguci di Garut, setelah Papandayan sebagai gunung pertamaku, Cikuray pada 2024, dan kesempatan kali ini membawaku ke Gunung Guntur dengan ketinggian 2.249 MDPL, yang lagi-lagi, Gunung ini mengajarkanku bahwa kesulitan Gunung tidak bisa dinilai dengan ketinggiannya.

Belakangan, formasi pendakian berubah, aku mendapatkan kawan-kawan baru di kantor yang tertarik dengan pendakian gunung, dan sebenarnya ini adalah gunung kedua kami bersama. Pendakian dilaksanakan pada 24-26 Juli 2026 bersama Hendi, Roberthus, dan Dea (kedepannya akan ditulis dengan Cece). Setelah selesai melaksanakan perjalanan dinas yang kebetulan di Garut. Aku menjemput Cece di Tegalluar bersama dengan Berthus, sementara Hendi menunggu di homestay. Kami baru sampai homestay di Garut malam hari dan langsung istirahat, packing kami lakukan esok hari karena sudah lelah.
Gerbang pendakian

25 Juli pagi, kami beli sarapan sekaligus membeli logistik untuk keperluan pendakian, di pendakian inilah menu favorit ditemukan, yaitu fish roll Cedea, hehe. Jam 10.30 kami baru menuju basecamp pendakian yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari homestay. Setelah registrasi di basecamp Umi Tati dan melakukan final check, kami baru mendaki sekitar jam 11, di tengah terik matahari dan jalur pendakian dengan vegetasi yang terbuka. Target mendaki hari ini adalah pos 3, lupa memberikan informasi, kami mendaki dari jalur Citiis karena pertimbangan sumber air yang lebih mudah dibanding via Cikahuripan.

Perjalanan dimulai dengan jalur perumahan warga yang dibeton sekaligus melewati Edu Wisata Gunung Guntur, trek Guntur didominasi bebatuan dan pasir mengingat Guntur masih aktif sehingga hal yang wajar bahwa trek Guntur seperti ini.  Sesekali trek tertutup pohon yang cukup membantu menangkal sinar matahari. Perjalanan ke pos 1 lumayan panjang, kami membutuhkan 90 menit dari Basecamp hingga akhirnya tiba disini tepat pukul 12.30. Di pos 1 kami buka perbekalan nasi bungkus sekaligus hidrasi dengan minuman manis karena di pos 1 terdapat warung, musholla, sumber air, dan toilet. Setelah perut isi kembali, perjalanan dilanjut jam 13.15.
Pos 1

Perjalanan ke pos 2 trek cenderung tertutup vegetasi walaupun pohon-pohon tidak terlalu besar, perjalanan menuju pos 2 juga melewati Curug Citiis sehingga kami sempat ambil foto sebentar dan juga merasakan airnya yang segar di tengah cuaca yang menyengat. Perjalanan hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk kami sampai ke pos 2. Pos 2 hanya sebuah lahan kecil dengan view kota Garut, tanpa bisa mendirikan tenda, dan juga tidak ada sumber air. Sehingga setelah sedikit berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan.
View point at pos 2

Curug Citiis

Perjalanan ke pos 3 tidak membutuhkan waktu lama, hanya butuh 45 menit dari pos 2, menjelang pos 3 vegetasi akan terbuka kembali dan perlahan jalur kembali berpasir. Pos 3 adalah campsite yang cukup lengkap, terdapat musholla, sumber air, warung yang menyediakan makanan dan sewa alat, serta toilet lengkap dengan WC nya. Pos 3 juga menjadi batas terakhir yang diperbolehkan untuk pendaki melakukan camp, sehingga nantinya summit akan dilakukan dari sini.
Prepare for a camp

Sampai pos 3 kami langsung melapor ke pos jaga bahwa akan melakukan camp, kemudian mendirikan tenda, memasak untuk makan malam, dan juga beristirahat. Beberapa kejadian ajaib juga terjadi disini, setelah makan malam, ketika Hendi dan Berthus sudah tertidur. Aku dan Cece memutuskan keluar di depan tenda, menggelar plastik sampah untuk kita berdua, lalu berbaring menatap bintang, bulan, serta lampu malam Kota Garut di bawah sana. Malam itu kita bicara, diskusi, bertukar pikiran dan hati, sekaligus mewujudkan salah satu mimpi Cece, melihat bintang gemintang di alam terbuka. Hampir 1 jam di luar, angin malam semakin dingin tapi hati kita hangat, lalu kami memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan istirahat.

Esok harinya, aku yang bangun paling awal seperti biasa, jam 02.30 aku langsung memasak untuk bekal tenaga summit attack. Oh iya, ada peraturan khusus bahwa summit di Guntur baru boleh dilakukan setelah jam 3, tidak boleh lebih cepat dari itu. Setelah makan, kami langsung bersiap keluar tenda dan melanjutkan perjalanan dengan estimasi 4 jam perjalanan sampai Puncak 2 Guntur. Awal mendaki trek langsung disuguhi jalur pasir aktif, dimana jika kita melangkah, kaki akan sedikit merosot ke bawah. Vegetasi juga terbuka sepanjang jalur menuju puncak, sehingga paparan matahari langsung mengenai tubuh.
Citylight Garut

Perjalanan menuju puncak Guntur adalah perjalanan yang panjang, di tengah perjalanan rombongan sempat terpisah, Berthus dan Hendi melaju lebih dahulu, sementara aku sebagai sweeper menyesuaikan kecepatan Cece berjalan dan terus mendorong semangatnya tetap menyala. Pada akhirnya sekitar pukul 8 aku dan Cece sampai Puncak 1. Istirahat sejenak sembari snack time, kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan ke Puncak 2 yang sudah terlihat dekat di mata, tapi sebenarnya tidak. Kemudian perjalanan dilanjut menuju Puncak 2, pemandangan di lepas mata indah sekali walaupun jalurnya kejam. Berjalan sebentar, akhirnya tepat pukul 9 kami sampai di Puncak 2 Guntur disambut dengan pemandangan kawah Guntur, Gunung Papandayan, Cikuray, dan Sagara di depan mata.
Break di Puncak 1

Kami memutuskan hanya mendaki sampai Puncak 2, butuh waktu lebih lama lagi jika memutuskan untuk melanjutkan sampai Puncak 3 dan 4 Gunung Guntur, walaupun sebenarnya Puncak selanjutnya terlihat dekat di depan mata. Setelah mengabadikan momen, kami memasuki bagian paling menyeramkan dari mendaki Gunung Guntur, yaitu perjalanan turunnya. Selama perjalanan turun dengan trek pasir aktif, jatuh, berguling, dan meluncur adalah yang pasti terjadi, jalur seperti ini juga menjadi sangat kejam untuk sepatu karena memakan sol sepatu lebih banyak. Tapi bagaimana lagi, menurun tetap harus dilakukan. 2 jam menurun kami sampai di tenda, karena waktu yang terbatas, aku memasak, dibantu kawan-kawan yang merapihkan tenda dan barang bawaan. Lalu sekitar jam 15 kami baru turun menuju basecamp diselingi istirahat sebentar-sebentar di perjalanan turun. Tepat jam 17.00 kami selamat sampai di basecamp, kemudian kami bertolak ke Nagara Hot Spring untuk bebersih, kemudian kembali pulang ke kota perjuangan, Jakarta.
Kita di Puncak 2 Guntur

Karenanya hidup cuma satu kali, jangan biarkan hidup yang terbatas ini selesai dengan penyesalan. Maka apapun itu, selama baik. Lakukanlah!

Arsip Baru

Tidak sempat menulis belakangan, berikut adalah beberapa arsip perjalananku saat ke Bismo-Pakuwaja pada Mei 2025, Pangrango pada September 2025, Touring ke Jawa Tengah dan mendaki Ungaran pada Desember 2025, dan mendaki ke Merbabu pada Mei 2026. Sebelumnya mohon maaf belum sempat menulis lagi.

















Perjalanan berikutnya akan kutulis dalam kisah, ditunggu ya, kawan.

Senin, 23 Maret 2026

Mimpi Adalah Milik Kita Sendiri

Takdir langit membawaku ke perjalanan ini, perjalanan yang memang menjadi impianku sedari awal. Aku sadar betul bahwa mimpi-mimpi adalah selalu milik kita sendiri, jangan tunggu orang lain.

Angin menjemputku untuk perjalanan kali ini, perjalanan yang tidak pernah kusangka-sangka akan kulakukan dalam hidupku, perjalanan mimpi, perjalanan hati, yang sulit diungkapkan dengan sebuah kalimat. Perjalanan ke Sulawesi, untuk menggapai puncak tertinggi, Gunung Latimojong dengan ketinggain 3.478 mdpl.

Hari-hari kini, perjalanan dengan kawan-kawan lama sudah sangat sulit untuk dilakukan. Semakin bertambah dewasa, kegiatan kami semakin beragam, sulit untuk menemukan waktu yang pas untuk bertemu, apalagi untuk melakukan perjalanan panjang. Jadi perjalanan kali ini dilakukan dengan menggunakan jasa open trip layaknya pendakian gunung-gunung 7 summits sebelumnya (Kerinci dan Rinjani) supaya akses dan akomodasi lebih mudah walaupun harus membayar sedikit lebih mahal, tetapi arah perjalanan menjadi lebih jelas.

Perjalanan dimulai pada tanggal 24 Januari 2025, setelah pulang menjalankan tugas dari Garut, aku mampir ke rumah sebentar untuk packing dan mempersiapkan perlengkapan. Sampai rumah sekitar jam 16 WIB, dan penerbanganku ke Makassar dijadwalkan pukul 22.10 WIB, sehingga di rumah hanya sebentar dan sehabis shalat maghrib langsung bertolak ke bandara. Malam itu penerbangan tidak ada kendala, baik dari waktu keberangkatan, cuaca, maupun kedatangan. Sampai di bandara Sultan Hasanuddin sekitar jam 01.30 WITA dan sudah ditunggu oleh leader perjalanan kami, Bang Roes. Beberapa kawan peserta pun sudah ada yang datang menunggu, Kakak Rizka, Kakak Ode, Pak Eko, Bang Wira, dan Mba Nova. Sementara secara kebetulan aku satu penerbangan dengan Cece Monic, Pak Fajar, dan kak Wiwik.

Menjelang shubuh, setelah rombongan lengkap kami bertolak ke menuju Karangan menggunakan 2 mobil. Sebagai informasi, Karangan adalah desa terakhir untuk menggapai atap Sulawesi yang masih harus ditempuh sekitar 9-10 jam dari Makassar, perjalanan yang cukup panjang. Sesekali kami singgah untuk istirahat dan mereganggkan badan. Mampir ke kamar kecil, sarapan, membeli perbekalan, berhenti untuk mengambil gambar jika ada spot yang bagus. Sebab memang perjalanan ke Sulawesi adalah pertama kali untuk beberapa dari kami, termasuk aku. Perjanan panjang sudah ditempuh, sekitar jam 13.30 WITA kami sampai di Baraka, kecamatan terakhir sebelum kami berganti kendaraan menjadi truk, karena tidak memungkinkan jalur selanjutnya ditempuh menggunakan mobil pribadi.

Rehat sejenak di Baraka, memindahkan barang ke truk, kemudian perjalanan dilanjut sampai ke Karangan sekitar 2 jam lagi dengan kondisi hujan deras. Pemandangan sepanjang dari Baraka sampai Karangan indah dan cantik sekali. Tetapi jalan setapak dan kiri kanannya langsung jurang terjal, tidak bisa dideskripsikan kata-kata. Akhirnya setelah perjalanan yang sangat jauh, kami sampai di Karangan sekitar pukul 17 WITA dengan kondisi lembab, dingin, dan ingin tidur. Tidak banyak yang dilakukan di Karangan hari itu, karena selain masih jetlag, pendakian esok hari membutuhkan tenaga eksra karena jarak dan biaya untuk sampai sini bukanlah hal yang murah dan mudah.

26 Januari 2025, suasana Karangan dingin, menusuk, dan syahdu. Karena Karangan berlokasi di lembah, maka walaupun langit sudah terang, tetapi matahari belum "terbit" karena terhalang tebing-tebing gunung. Matahari baru muncul sekitar jam 07.30 WITA ketika sudah cukup tinggi di cakrawala. Di Karangan ada opsi untuk mempercepat perjalanan dan menghemat tenaga karena tersedia ojek motor sampai ke pos 1, tapi sudah tentu ada biaya yang harus dibayar. Di antara seluruh rombongan, hanya saya dan Pak Wira yang memutuskan untuk berjalan saja dari basecamp, jadi kami bersama tim porter memulai pendakian lebih awal dari yang lain sekitar jam 8 WITA. Perjalanan dari basecamp ke pos 1 didominasi jalur mendatar dan perkebunan kopi, kontur jalur pendakian yang sering ditemui di berbagai gunung di Indonesia.

Lagi-lagi aku kalah dengan mood dan memoriku. Ini adalah perjalanan awal 2025, sedangkan untuk dilanjutkan sekarang terlupa detail dan kejadian secara rinci. Singkatnya pada 26 Januari kami bermalam di pos 5, esok harinya melakukan Summit Attack yang syukurnya berhasil kami lakukan. Lalu turun basecamp di hari yang sama. 28 Januari kami bertolak dari Karangan untuk menuju Toraja, tepatnya Kete Kesu dan Patung Yesus Memberkati. Lalu pada 29 Januari 2025 pagi hari sekali, aku kembali bertolak ke Jakarta.

Barangkali hidup memang harus mempunyai mimpi, sedangkan mimpi-mimpi tidak pernah ada yang mustahil. Jangan sampai tunggu orang lain untuk mendukungmu baru kamu menggapainya. Bergeraklah, tanpa menunggu siapapun.