Satu hal yang pasti adalah bahwasannya hidup ini akan berakhir. Perlahan semua akan hilang, hartamu, jabatanmu, kebahagiaanmu, dan kesehatanmu. Sebelum semua itu lenyap, jangan biarkan penyesalan datang, maka jalani hidup dengan berani.
Seiring berdetaknya waktu, pergantian manusia, perjalanan membawaku kembali ke Garut, kota yang menjadi saksi pendakian pertamaku 11 tahun yang lalu. Melanjutkan rangkaian Sapaguci di Garut, setelah Papandayan sebagai gunung pertamaku, Cikuray pada 2024, dan kesempatan kali ini membawaku ke Gunung Guntur dengan ketinggian 2.249 MDPL, yang lagi-lagi, Gunung ini mengajarkanku bahwa kesulitan Gunung tidak bisa dinilai dengan ketinggiannya.
Belakangan, formasi pendakian berubah, aku mendapatkan kawan-kawan baru di kantor yang tertarik dengan pendakian gunung, dan sebenarnya ini adalah gunung kedua kami bersama. Pendakian dilaksanakan pada 24-26 Juli 2026 bersama Hendi, Roberthus, dan Dea (kedepannya akan ditulis dengan Cece). Setelah selesai melaksanakan perjalanan dinas yang kebetulan di Garut. Aku menjemput Cece di Tegalluar bersama dengan Berthus, sementara Hendi menunggu di homestay. Kami baru sampai homestay di Garut malam hari dan langsung istirahat, packing kami lakukan esok hari karena sudah lelah.
![]() |
| Gerbang pendakian |
25 Juli pagi, kami beli sarapan sekaligus membeli logistik untuk keperluan pendakian, di pendakian inilah menu favorit ditemukan, yaitu fish roll Cedea, hehe. Jam 10.30 kami baru menuju basecamp pendakian yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari homestay. Setelah registrasi di basecamp Umi Tati dan melakukan final check, kami baru mendaki sekitar jam 11, di tengah terik matahari dan jalur pendakian dengan vegetasi yang terbuka. Target mendaki hari ini adalah pos 3, lupa memberikan informasi, kami mendaki dari jalur Citiis karena pertimbangan sumber air yang lebih mudah dibanding via Cikahuripan.
Perjalanan dimulai dengan jalur perumahan warga yang dibeton sekaligus melewati Edu Wisata Gunung Guntur, trek Guntur didominasi bebatuan dan pasir mengingat Guntur masih aktif sehingga hal yang wajar bahwa trek Guntur seperti ini. Sesekali trek tertutup pohon yang cukup membantu menangkal sinar matahari. Perjalanan ke pos 1 lumayan panjang, kami membutuhkan 90 menit dari Basecamp hingga akhirnya tiba disini tepat pukul 12.30. Di pos 1 kami buka perbekalan nasi bungkus sekaligus hidrasi dengan minuman manis karena di pos 1 terdapat warung, musholla, sumber air, dan toilet. Setelah perut isi kembali, perjalanan dilanjut jam 13.15.
![]() |
| Pos 1 |
Perjalanan ke pos 2 trek cenderung tertutup vegetasi walaupun pohon-pohon tidak terlalu besar, perjalanan menuju pos 2 juga melewati Curug Citiis sehingga kami sempat ambil foto sebentar dan juga merasakan airnya yang segar di tengah cuaca yang menyengat. Perjalanan hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk kami sampai ke pos 2. Pos 2 hanya sebuah lahan kecil dengan view kota Garut, tanpa bisa mendirikan tenda, dan juga tidak ada sumber air. Sehingga setelah sedikit berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan.
![]() |
| View point at pos 2 |
![]() |
| Curug Citiis |
Perjalanan ke pos 3 tidak membutuhkan waktu lama, hanya butuh 45 menit dari pos 2, menjelang pos 3 vegetasi akan terbuka kembali dan perlahan jalur kembali berpasir. Pos 3 adalah campsite yang cukup lengkap, terdapat musholla, sumber air, warung yang menyediakan makanan dan sewa alat, serta toilet lengkap dengan WC nya. Pos 3 juga menjadi batas terakhir yang diperbolehkan untuk pendaki melakukan camp, sehingga nantinya summit akan dilakukan dari sini.
![]() |
| Prepare for a camp |
Sampai pos 3 kami langsung melapor ke pos jaga bahwa akan melakukan camp, kemudian mendirikan tenda, memasak untuk makan malam, dan juga beristirahat. Beberapa kejadian ajaib juga terjadi disini, setelah makan malam, ketika Hendi dan Berthus sudah tertidur. Aku dan Cece memutuskan keluar di depan tenda, menggelar plastik sampah untuk kita berdua, lalu berbaring menatap bintang, bulan, serta lampu malam Kota Garut di bawah sana. Malam itu kita bicara, diskusi, bertukar pikiran dan hati, sekaligus mewujudkan salah satu mimpi Cece, melihat bintang gemintang di alam terbuka. Hampir 1 jam di luar, angin malam semakin dingin tapi hati kita hangat, lalu kami memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan istirahat.
Esok harinya, aku yang bangun paling awal seperti biasa, jam 02.30 aku langsung memasak untuk bekal tenaga summit attack. Oh iya, ada peraturan khusus bahwa summit di Guntur baru boleh dilakukan setelah jam 3, tidak boleh lebih cepat dari itu. Setelah makan, kami langsung bersiap keluar tenda dan melanjutkan perjalanan dengan estimasi 4 jam perjalanan sampai Puncak 2 Guntur. Awal mendaki trek langsung disuguhi jalur pasir aktif, dimana jika kita melangkah, kaki akan sedikit merosot ke bawah. Vegetasi juga terbuka sepanjang jalur menuju puncak, sehingga paparan matahari langsung mengenai tubuh.
![]() |
| Citylight Garut |
Perjalanan menuju puncak Guntur adalah perjalanan yang panjang, di tengah perjalanan rombongan sempat terpisah, Berthus dan Hendi melaju lebih dahulu, sementara aku sebagai sweeper menyesuaikan kecepatan Cece berjalan dan terus mendorong semangatnya tetap menyala. Pada akhirnya sekitar pukul 8 aku dan Cece sampai Puncak 1. Istirahat sejenak sembari snack time, kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan ke Puncak 2 yang sudah terlihat dekat di mata, tapi sebenarnya tidak. Kemudian perjalanan dilanjut menuju Puncak 2, pemandangan di lepas mata indah sekali walaupun jalurnya kejam. Berjalan sebentar, akhirnya tepat pukul 9 kami sampai di Puncak 2 Guntur disambut dengan pemandangan kawah Guntur, Gunung Papandayan, Cikuray, dan Sagara di depan mata.
![]() |
| Break di Puncak 1 |
Kami memutuskan hanya mendaki sampai Puncak 2, butuh waktu lebih lama lagi jika memutuskan untuk melanjutkan sampai Puncak 3 dan 4 Gunung Guntur, walaupun sebenarnya Puncak selanjutnya terlihat dekat di depan mata. Setelah mengabadikan momen, kami memasuki bagian paling menyeramkan dari mendaki Gunung Guntur, yaitu perjalanan turunnya. Selama perjalanan turun dengan trek pasir aktif, jatuh, berguling, dan meluncur adalah yang pasti terjadi, jalur seperti ini juga menjadi sangat kejam untuk sepatu karena memakan sol sepatu lebih banyak. Tapi bagaimana lagi, menurun tetap harus dilakukan. 2 jam menurun kami sampai di tenda, karena waktu yang terbatas, aku memasak, dibantu kawan-kawan yang merapihkan tenda dan barang bawaan. Lalu sekitar jam 15 kami baru turun menuju basecamp diselingi istirahat sebentar-sebentar di perjalanan turun. Tepat jam 17.00 kami selamat sampai di basecamp, kemudian kami bertolak ke Nagara Hot Spring untuk bebersih, kemudian kembali pulang ke kota perjuangan, Jakarta.
![]() |
| Kita di Puncak 2 Guntur |
Karenanya hidup cuma satu kali, jangan biarkan hidup yang terbatas ini selesai dengan penyesalan. Maka apapun itu, selama baik. Lakukanlah!

.jpeg)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar