Senin, 09 Maret 2020

Tidak Akan Sampai #2

Terbangun dari tidur yang kurang tenang akibat memikirkan bisa sampai atau tidak. Tapi mau tidak mau, kaki harus dipaksa melangkah, karena tidak mungkin hidup di atas sini selamanya.

Esok harinya, setelah sarapan dan merapihkan alat - alat bermalam, kami harus lanjut berjalan dengan target shelter 2, estimasi 3 jam jalan kaki. Saya pikir dengan lebih singkat waktunya perjalanan akan lebih santai, tapi kita lihat nanti, bagaimana jadinya. Dan mengapa tidak shelter 3, karena di shelter 3 sudah tidak ada pohon yang dapat menghalangi terpaan angin, yang dikhawatirkan nanti terjadi badai, tenda kami malah rusak, dan ini menjadi keputusan yang tepat.

Sekitar jam 10, kami mulai mendaki lagi, sama seperti hari kemarin, rombongan terpecah - pecah tapi hati saya dan dia tidak. Walaupun sesekali Ia berkata "Kalau Rizka terlalu lambat, kamu duluan aja,gapapa" kemudian saya mengangguk tanda paham, tapi tidak pernah saya lakukan. Jalur yang dilalui ternyata semakin gila dari sebelumnya, beberapa titik kami harus merunduk supaya kepala tidak terkena tumbuhan, bagi saya sendiri beberapa kali harus terbentur pohon karena ada pohon yang menjuntai ke jalur pendakian.

Di Shelter 2
Tak dinyana pendakian semakin banyak istirahat hari ini, banyak mengeluh juga, hujan juga tetap mengguyur, bagaimana lagi memang itu yang terjadi, tapi menyerah jangan. Dari estimasi 3 jam, kami sampai di shelter 2 jam 14, kelewat 1 jam dari estimasi, yasudah tidak apa masih cukup beristirahat lama. Sore hari sampai malam hari kami isi dengan macam - macam, ada yang istirahat banyak, ada yang bercerita banyak, dan segalanya. Yang terpenting esoknya kami punya tujuan sama, Puncak Indrapura.

Persiapan sebelum summit attack
Keesokan, kami bangun sekitar jam 2, kemudian mempersiapkan segala, dan jam 03.30 sudah siap. Diawali berdoa, memuncak kami mulai. Dan memang benar keputusan untuk bermalam di shelter 2 adalah yang terbaik, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana jika memutuskan untuk bermalam di shelter 3, sudah jalannya sempit, curam, banyak akar, tidak dapat didefinisikan. Sampai shelter 3 memang benar kata Pakde, disini tidak ada pohon yang menghalangi terpaan angin langsung, cukup berbahaya. Istirahat sejenak, kemudian langit mulai menjingga dan terlihat Danau Gunung Tujuh di arah matahari terbit, karunia luar biasa.

Rizka dan Pakde
Rizka dan Mas Dwiki











Entah ini jalur apa
Perjalanan dilanjut, dari sini tanah lumpur yang sedari pintu rimba kami rasakan, berubah menjadi batuan berpasir, dengan kemiringan yang lebih gokil. Setelah shelter 3 banyak sekali hambatan, terutama di Rizka banyak berhenti akibat merasa sakit di perutnya, namun syukur Ia masih mau berjalan dan melawannya. Jam 07.30 sampai di Tugu Yuda, tugu fenomenal di Kerinci, dari situ puncak sangat dekat, apakah bisa ?

Tugu Yuda
Pada akhirnya saya, Rizka, Mas Dwiki (orang baik yang sangat sabar membantu saya menyemangatinya) sampai di puncak pukul 8, mata Rizka basah, tak percaya sampai sini, begitupun saya yang tidak percaya Ia menjadikan Kerinci sebagai gunung pertamanya. Karena di puncak aroma belerang dari kawah Kerinci sangat menyengat, jam 9 kami turun, perjalanan turun menjadi lebih sulit karena kemiringan yang luar biasa, sampai di shelter 2 jam 13.00, makan siang, dan ternyata ketika hendak turun, badai menerjang dan terpaksa kami menginap satu malam lagi di shelter 2.

Aku dan Dia
Aku dan Pakde














Esoknya kami turun sekitar pukul 8 pagi, hati sudah ceria karena bisa sampai atap Sumatera walaupun rumah masih sangat jauh, sampai pintu rimba pukul 13.00 kemudian dijemput mobil bak terbuka, di basecamp merapihkan diri, beli buah tangan, dan perjalanan 2 hari 2 malam kembali dilakukan sekitar jam 20.

Pada akhirnya judul tulisan ini tidak menggambarkan segalanya, bisa sampai Atap Sumatera dan kembali ke rumah tanpa kekurangan apapun adalah suatu anugerah. Terima kasih kepada semua rekan pendakian baru yang mau berbagi suka, duka, cerita, dan tawa. Pengalaman dengan kalian tidak akan ku lupa.



Terima kasih. (Dari kiri ke kanan)

Atas : Mas Yoga - Solo, Mas Aji - Solo, Kak Mae - Cibinong, Kak Yohanna - Jakarta, Om Soghiro - Jakarta, Bang Danang - Jakarta, Aku, Rizka - Jakarta, Bang Bobi - Jakarta, Kang Adnan - Leuwiliang, Mba Sherina - Solo, Kang Riki - Muara Enim, Mas Dwiki - Solo.

Bawah : Kang Dio - Cibinong, Mas Bima - Surabaya, Bang Fadil - TangSel, Kang Hendi - Leuwiliang, Bang Gondrong - Tangerang, Bang Bram - Lampung.

Kamis, 05 Maret 2020

Tidak Akan Sampai #1

Perjalanan dengan jarak yang ekstrim memang memakan waktu, karena itu yang kali ini, tidak akan sampai.

Akibat libur kuliah sekitar 2 bulan lamanya. saya kembali memutuskan untuk mendaki gunung. Ini sangat spesial, karena sempat ingin ke Sumbing namun tidak ada kawan. Pindah ke Gunung Salak, apes saat kami ingin mendaki Salak ditutup akibat cuaca yang masih buruk. Dan ternyata setelah itu diputuskan untuk ke Kerinci, bersama rekan - rekan baru yang dipertemukan akibat open trip dan juga Rizka. Sebuah keputusan yang sangat gila untuk orang yang belum pernah mendaki gunung sama sekali dan saat mulai mendaki gunung, langsung menuju Kerinci, iya tertinggi ke - 2 di Indonesia.

Ketika hendak sampai Bakauheni
Sebab perjalanan kami tempuh via darat (maklum dana untuk via udara terlampau mahal), jarak harus ditempuh dengan sangat sabar, 2 hari 2 malam. Berangkat 24 Januari jam 7 pagi, sampai di Kersik Tuo 26 Januari jam 1 pagi. Perjalanan yang sangat jauh dari rumah, dengan kondisi jalan yang tidak seperti di pulau Jawa. Sampai sana saya memutuskan untuk langsung istirahat karena nanti pagi, pendakian akan dimulai, dengan estimasi 3 hari di dalam hutan.
Istirahat di salah satu rumah makan. Lahat, Sumatera Selatan.

Paginya, ketika terbangun, sempat khawatir cuaca tidak bersahabat, akibat Kerinci sama sekali tidak terlihat dari basecamp, sembari ditinggal mandi, sarapan, dan persiapan, perlahan Kerinci menampakkan diri di balik kebun teh terluas di Asia. Dari situ terbesit "bisa ke atas dan pulang kembali atau tidak ?" pertanyaan yang seharusnya tidak muncul di benak saya.


Om Soghiro - Jakarta
Ketika sampai basecamp





Selfie dulu ges

Sekitar jam 11 kami mulai siap berangkat, diantar dengan mobil bak terbuka sampai pintu rimba sekitar 20 menitan, itu cukup menghemat tenaga daripada kami harus berjalan. Sampai di pintu rimba berdoa, dan selanjutnya pendakian dimulai.
Persiapan berangkat

Kontur awal - awal pendakian bisa dibilang landai, bahkan hampir tidak menanjak. Seperti jalan santai, namun akibat hujan kemarin, tanah jadi basah dan beberapa titik, kaki dapat masuk lumpur se mata kaki, bayangkan belum sampai pos 1 sepatu sudah cokelat saja. Istirahat sebentar di pos 1 karena adzan dzuhur sudah terdengar, kemudian perjalanan dilanjutkan, karena target hari ini kami harus bermalam di shelter 1.

Pintu Rimba
Pos 1 - Bangku Panjang











Menuju pos 2, jalur sudah sedikit menanjak, tanaman masih rapat, maklum Kerinci hutannya masih "perawan" buktinya harimau Sumatera masih hidup di sini. Hewan yang tidak akan pernah ditemui di hutan pulau Jawa.

Beberapa kali rombongan terpecah, maklum, mendaki dengan 22 orang berarti mendaki dengan 22 ambisi, tapi saya terus di sekitar Rizka karena saya tau dia butuh dukungan tambahan di gunung pertamanya. Sampai pos 2 kembali istirahat, namun disini tidak terlalu lama, mengingat hari semakin sore, dan cukup berbahaya berjalan malam hari di hutan yang jarang dijamah manusia ini. Di pos 3 istirahat sambil menyeduh teh, kopi, dan makan biskuit. Disini istirahat lumayan lama dibanding sebelumnya. Karena kata Pakde -begitu ia ingin dipanggil- (salah satu pemandu lokal asli Kersik Tuo) setelah ini pendakian baru dimulai. Benakku "Jadi yang tadi apa ? Padahal kaki sudah sekotor ini"

Benar saja perjalanan ke shelter 1 benar - benar mendaki, dan tidak wajar. Akar dimana - mana, sempat terguyur hujan, beberapa jalan memaksa kami hingga kaki menyentuh dada, Rizka banyak istirahat dan bertanya "Kapan sampai ?", maklum badan sudah lelah, ingin segera tidur, tapi tidak mungkin tidur di trek yang basah dan sempit. Namun kaki terus melangkah walaupun kuantitas istirahat cukup banyak, sekitar jam 16.30 kami yang terbagi dalam kelompok belakang baru sampai.

Suasana senja shelter 1
Setelah itu langsung makan, dan tidak banyak pertanyaan, saya memutuskan tidur sambil berpikir "Saya takut tidak akan sampai malah jadi kenyataan"


Bersambung.