Terbangun dari tidur yang kurang tenang akibat memikirkan bisa sampai atau tidak. Tapi mau tidak mau, kaki harus dipaksa melangkah, karena tidak mungkin hidup di atas sini selamanya.
Esok harinya, setelah sarapan dan merapihkan alat - alat bermalam, kami harus lanjut berjalan dengan target shelter 2, estimasi 3 jam jalan kaki. Saya pikir dengan lebih singkat waktunya perjalanan akan lebih santai, tapi kita lihat nanti, bagaimana jadinya. Dan mengapa tidak shelter 3, karena di shelter 3 sudah tidak ada pohon yang dapat menghalangi terpaan angin, yang dikhawatirkan nanti terjadi badai, tenda kami malah rusak, dan ini menjadi keputusan yang tepat.
Sekitar jam 10, kami mulai mendaki lagi, sama seperti hari kemarin, rombongan terpecah - pecah tapi hati saya dan dia tidak. Walaupun sesekali Ia berkata "Kalau Rizka terlalu lambat, kamu duluan aja,gapapa" kemudian saya mengangguk tanda paham, tapi tidak pernah saya lakukan. Jalur yang dilalui ternyata semakin gila dari sebelumnya, beberapa titik kami harus merunduk supaya kepala tidak terkena tumbuhan, bagi saya sendiri beberapa kali harus terbentur pohon karena ada pohon yang menjuntai ke jalur pendakian.
 |
| Di Shelter 2 |
Tak dinyana pendakian semakin banyak istirahat hari ini, banyak mengeluh juga, hujan juga tetap mengguyur, bagaimana lagi memang itu yang terjadi, tapi menyerah jangan. Dari estimasi 3 jam, kami sampai di shelter 2 jam 14, kelewat 1 jam dari estimasi, yasudah tidak apa masih cukup beristirahat lama. Sore hari sampai malam hari kami isi dengan macam - macam, ada yang istirahat banyak, ada yang bercerita banyak, dan segalanya. Yang terpenting esoknya kami punya tujuan sama, Puncak Indrapura.
 |
| Persiapan sebelum summit attack |
Keesokan, kami bangun sekitar jam 2, kemudian mempersiapkan segala, dan jam 03.30 sudah siap. Diawali berdoa, memuncak kami mulai. Dan memang benar keputusan untuk bermalam di shelter 2 adalah yang terbaik, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana jika memutuskan untuk bermalam di shelter 3, sudah jalannya sempit, curam, banyak akar, tidak dapat didefinisikan. Sampai shelter 3 memang benar kata Pakde, disini tidak ada pohon yang menghalangi terpaan angin langsung, cukup berbahaya. Istirahat sejenak, kemudian langit mulai menjingga dan terlihat Danau Gunung Tujuh di arah matahari terbit, karunia luar biasa.
 |
| Rizka dan Pakde |
 |
| Rizka dan Mas Dwiki |
 |
| Entah ini jalur apa |
Perjalanan dilanjut, dari sini tanah lumpur yang sedari pintu rimba kami rasakan, berubah menjadi batuan berpasir, dengan kemiringan yang lebih gokil. Setelah shelter 3 banyak sekali hambatan, terutama di Rizka banyak berhenti akibat merasa sakit di perutnya, namun syukur Ia masih mau berjalan dan melawannya. Jam 07.30 sampai di Tugu Yuda, tugu fenomenal di Kerinci, dari situ puncak sangat dekat, apakah bisa ?
 |
| Tugu Yuda |
Pada akhirnya saya, Rizka, Mas Dwiki (orang baik yang sangat sabar membantu saya menyemangatinya) sampai di puncak pukul 8, mata Rizka basah, tak percaya sampai sini, begitupun saya yang tidak percaya Ia menjadikan Kerinci sebagai gunung pertamanya. Karena di puncak aroma belerang dari kawah Kerinci sangat menyengat, jam 9 kami turun, perjalanan turun menjadi lebih sulit karena kemiringan yang luar biasa, sampai di shelter 2 jam 13.00, makan siang, dan ternyata ketika hendak turun, badai menerjang dan terpaksa kami menginap satu malam lagi di shelter 2.
 |
| Aku dan Dia |
 |
| Aku dan Pakde |
Esoknya kami turun sekitar pukul 8 pagi, hati sudah ceria karena bisa sampai atap Sumatera walaupun rumah masih sangat jauh, sampai pintu rimba pukul 13.00 kemudian dijemput mobil bak terbuka, di
basecamp merapihkan diri, beli buah tangan, dan perjalanan 2 hari 2 malam kembali dilakukan sekitar jam 20.
Pada akhirnya judul tulisan ini tidak menggambarkan segalanya, bisa sampai Atap Sumatera dan kembali ke rumah tanpa kekurangan apapun adalah suatu anugerah. Terima kasih kepada semua rekan pendakian baru yang mau berbagi suka, duka, cerita, dan tawa. Pengalaman dengan kalian tidak akan ku lupa.
Terima kasih. (Dari kiri ke kanan)
Atas : Mas Yoga - Solo, Mas Aji - Solo, Kak Mae - Cibinong, Kak Yohanna - Jakarta, Om Soghiro - Jakarta, Bang Danang - Jakarta, Aku, Rizka - Jakarta, Bang Bobi - Jakarta, Kang Adnan - Leuwiliang, Mba Sherina - Solo, Kang Riki - Muara Enim, Mas Dwiki - Solo.
Bawah : Kang Dio - Cibinong, Mas Bima - Surabaya, Bang Fadil - TangSel, Kang Hendi - Leuwiliang, Bang Gondrong - Tangerang, Bang Bram - Lampung.