Rabu, 27 November 2019

Yang Tergantikan

Manusia, makhluk fana yang hatinya sulit diterima dan tidak setia. Jika punya barang, di awal cinta, setahun kemudian ingin ganti keluaran terkini. Begitu juga rekan pendakian, yang terpaksa tergantikan walaupun bukan karena rasa bosan.

2 bulan terhitung sejak Agustus, ada rasa yang kurang jika tidak tahu Semarang dan sekitarnya. Oleh karena itu, keputusan bulat untuk kembali lagi ke gunung sekedar melepas rindu akan letihnya berjalan. Tapi, masalah kembali muncul domisili saya di Semarang tidak mungkin mengajak rekan setia pendakian yang sekarang masih sibuk mengurus pendidikan di Ibukota. Apalagi tiba - tiba meminta ayah untuk datang ke Semarang hanya untuk sekedar mendaki, ah lucu sekali.

Takdir menjawab, rekan pendakian datang tiga orang ditambah baru saja menyelesaikan UTS membuat perkuliahan sedikit santai.


Perkenalkan,
Imam Panji, Akuntansi 2019
Uli Kurniawan, Teknik Mesin 2018
Abid Muflih, Teknik Mesin 2018
Kevin Razak, Teknik Mesin 2018

Perbedaan yang sangat tajam bukan ?

Perjalanan di mulai dari Tembalang pukul 00.00 dengan 2 sepeda motor, menembus dinginnya malam dan jauhnya perjalanan, sekitar jam 01.45 kami sudah sampai di Desa Sawit, salah satu Desa yang dijadikan pos lapor pendakian Gunung Andong. Segera istirahat sejenak dan memulai pendakian jam 03.00. Namun sayang, di pos 2 kendala melanda, mas Abid pusing. Entah karena kurang tidur, kurang makan, atau kurang kasih sayang. Istirahat agak lama disini untuk meredakan pusing di kepala sambil menenggak beberapa obat yang kebetulan kami bawa.
Registrasi





Dengan kesepakatan bersama, perjalanan di lanjutkan, sebelum sampai pos 3, tersadar Merbabu dan Merapi sudah mengintip akibat sinar mentari yang perlahan terbit. Semangat kembali terpicu, mas Abid yang sempat pusing kini memimpin kami di depan. Sampai puncak pukul 04.30 dan terkejut akan terpaan angin, tersedianya warung, dan tidak ada lahan luas untuk berjalan (sangat penuh dengan tenda). Ya sudah, karena sudah sampai dan matahari masih bersembunyi, tunaikan ibadah sejenak dengan segala keterbatasan setelah itu menanti mentari terbit sambil menyantap kudapan yang kami bawa.
Terima kasih Andong.

Kelak kami kembali.

Menikmati puncak, indahnya Merbabu, Merapi, Sindoro, dan Sumbing di kejauhan. Jam 06.30 Tembalang kembali memanggil kami untuk kuliah, karena ada 21 SKS pekan depan, iya kembali beraktivitas. Sampai di bawah jam 07.30 kemudian langsung meredakan dahaga dengan es campur di jam yang masih sangat pagi, kemudian melanjutkan sarapan dan istirahat sejenak sebelum perjalanan pulang. Jam 12.00 kami terbangun kemudian menuju Tembalang dan perjalanan usai tapi kenangannya tidak.


Menanti Restu Bapak Ibu.

Kebanyakan hal harus tergantikan di dunia ini, entah terpaksa atau karena keinginan. Kendaraan, gawai, pasangan, rasa sedih, rasa senang, termasuk juga rekan pendakian. Walaupun jujur tidak ingin terganti, tapi pada akhirnya kami memiliki jalan masing - masing yang seharusnya itu saya sadari sedari awal.

Salam sayang,
Imam Panji

Dipersembahkan kepada rekan pendakian yang memutuskan pergi dan akan terganti.




Mungkin akan sangat aneh rasanya jika suatu saat nanti saya melupakan pernah mendaki bersama kalian.

Selasa, 26 November 2019

Kita Serumpun atau Saling Timbun ?

Demi harga diri bangsa, ujarnya.
Ada ungkapan yang sering terdengar bahwasanya sepak bola tanpa penggemar ibarat sayur yang terasa hambar. Bagaimana jika kita bertandang ke negeri seberang justru malah diserang ? Apa arti serumpun jika kemarin perwakilan teriakan “Garuda di Dadaku” malah ditimbun ?

Beberapa hari lalu, tepatnya Selasa, 19 November 2019 meski sudah terpuruk tanpa poin sedikit pun, Tim Nasional Sepak Bola Indonesia tetap bertandang ke Malaysia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia. Sampai di Malaysia bukannya disambut dengan baik, tetangga yang satu ini malah membuat suasana menjadi lebih pelik. Terjadi insiden pemukulan dan pengeroyokan terhadap beberapa penggemar Indonesia yang turut membawa nama Garuda di tanah Malaya.

Lewat keterangan pers yang disebar melalui akun Facebook-nya, Kepolisian Malaysia menyebutkan, insiden tersebut berlangsung di kawasan Bukit Bintang, Malaysia, 19 November pukul 02.00 dini hari. Korban atas nama Fuad dan Yovan kemudian melaporkan kejadian itu kepada polisi pada pukul 08.00 pagi.

Insiden ini muncul ke permukaan setelah ada video yang beredar di sosial media yang menampakkan paspor bernama "Fuad Naji". Yovan juga membenarkan bahwa di dalam video tersebut adalah Ia dengan kawannya, Fuad. Mereka dikeroyok oleh sekumpulan oknum saat hendak kembali ke hotel.

"Kepolisian Malaysia meminta pelapor dan rekannya yang menjadi korban dalam insiden itu segera bertemu dengan penyidik untuk melanjutkan penyelidikan. Kepolisian Malaysia juga memohon bantuan KBRI agar menginformasikan hal ini kepada pelapor," bunyi pernyataan resmi Kepolisian Malaysia.

Pemerintah Indonesia juga tidak diam saja, melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, Indonesia melayangkan nota protes dan menuntut permintaan maaf Malaysia. Walaupun kasus ini sempat didiamkan dan dicap hoaks oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq. Namun kemudian, Saddiq meminta maaf kepada masyarakat Indonesia. Saddiq mengaku telah meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian dalam video tersebut. Saddiq juga meminta agar korban atau saksi muncul untuk membantu pihak kepolisian menungkap kasus tersebut.

Tapi apakah sebuah permintaan maaf akan menyembuhkan luka kita begitu saja ? Saya yakin ini adalah persepsi masing - masing yang jawabannya boleh kalian simpan di dalam hati saja.

Jika sudah seperti ini, rakyat Indonesia menjadi terapit oleh dua situasi, di antara ingin marah tetapi tetangga, ingin pura - pura baik - baik saja tapi geram sudah merasuk di dada, ingin membuat suasana tidak kalut tapi batin sudah terlanjur tersulut. Hal yang ini juga tidak bisa dipaksakan adanya, setiap orang punya keinginan yang berbeda dalam menuntaskannya. Tetapi, saya ingin berpesan kepada negara tercinta. Ketahuilah, negara kita adalah negara yang cinta damai, sekalipun rakyat kita berjumlah 260 juta jiwa, kita punya pabrik senjata yang diakui di Bandung, dan juga pasukan elit terbaik di kerak bumi saya rasa ini sudah cukup jadi modal saat kita ingin cari 'masalah' dengan pihak manapun bukan ? Tapi satu hal yang tidak kita punya, adalah keinginan untuk melakukannya, betapa terhormatnya negeri kita. Jadi saat kalian ingin membalas kembali lah ke kalimat awal, kita adalah negara yang cinta damai, jagalah kehormatan kita, jika kelak mereka datang kesini sambut mereka dengan pertemanan bukan keroyokan.

Saya juga ingin berpesan kepada Malaysia atau negara manapun yang hendak mengganggu Indonesia. Jangan ajak kami berperang, jika ingin kami sudah melakukannya. Lagipula dahulu kami sudah berperang 350 tahun melawan Belanda dan kami menang, belum ditambah 3,5 tahun dengan Jepang, yang pada akhirnya kami memproklamirkan kemerdekaan kami sendiri tanpa bantuan mereka sedikitpun. Tapi, jika ingin bersahabat, ayo kita lakukan sampai dunia tamat.

Salam sayang,
Imam Panji


Selasa, 15 Oktober 2019

Ibadah Awal

Apapun itu, yang berkaitan dengan ibadah baiknya dilakukan di awal waktu. Tapi, mari simak cerita ini supaya kalian mengerti apa maksudku.

Dengan segala usaha sejak Maret lalu dan juga restu dari sang Ilahi dan sang Ibu, alhamdulillah tahun ini punya kesempatan untuk langsung melanjutkan studi di salah satu Universitas yang bahkan tidak pernah kukunjungi dan kupikirkan sama sekali, Universitas Diponegoro. Dan bersyukur juga direstui di fakultas dan program studi yang sudah kuiinginkan sedari awal, S1 Akuntansi. Sungguh sangat disadari bahwasannya ini kesempatan yang sangat besar karena ada beberapa kawan yang harus merelakan untuk menunggu tahun depan supaya mendapatkan kesempatan kembali untuk studi di kampus ini.

Berhubung UNDIP salah satu kampus yang memulai perkuliahan sangat awal, jadilah saya sudah di Semarang sejak tanggal 3 Agustus, karena rangkaian orientasi lingkungan kampus akan dimulai pada tanggal 5 Agustus. Disambut oleh pak Rektor di stadion kampus kami, kemudian melaksanakan pendidikan karakter di dalam ruangan selama 4 hari berikutnya. Dan perkuliahan baru dimulai pada pekan berikutnya 12 Agustus. Sempat pulang sejenak pada akhir Agustus karena ada yang harus diurus di rumah tercinta, setelah masuk September keputusan menjadi bulat bahwa saya akan melanjutkan studi disini, Semarang.

Di satu sisi, sungguh bahagia karena dapat mewujudkan satu cita untuk langsung melanjutkan studi, di sisi lain, mungkin inilah hal pahitnya. Memang sedari awal berniat untuk studi yang agak berjarak dari rumah ,tapi setelah hidup beberapa bulan disini, cukup terasa ternyata jauh dari rumah dalam waktu lama tidak senyaman yang dibayangkan, atau memang hal ini biasa untuk mahasiswa baru seperti saya (?). Beberapa kawan malah mengatakan ini hal yang biasa di semester pertama, pada nantinya pulang ke rumah adalah hal yang mungkin jarang saya lakukan. Seperti itu kah (?) Entahlah, yang jelas saya rindu rumah, suasananya tepatnya.

Pada akhirnya saya memang tetap harus menatap kenyataan bahwa memang saya harus berjuang dan menghabiskan waktu beberapa tahun disini, itu juga demi orang - orang yang saya rindukan di rumah. Karena saya paham betul, pendidikan tinggi adalah salah satu jalannya. Dan bicara Semarang, Semarang bukanlah kota yang buruk, kota ini indah dan nyaman untuk ditempati. Warganya, suasananya, dan panasnya tentunya saat mentari tepat di atas kepala. Masih banyak yang saya rasakan di Semarang beberapa akhir ini, tapi mungkin akan dibahas di lain kesempatan, tulisan ini hanya sebagai bentuk rasa syukur masih bisa memanfaatkan blog ini dan sudah melangkah satu langkah lebih jauh untuk menghadapi masa depan nantinya.

Dan mengenai ibadah awal, ini sangat benar, dan sangat baik untuk melakukan ibadah di awal waktu. Tapi bukan itu, efek samping pindah dan bertahan hidup disini adalah mengharuskan saya untuk melakukan ibadah saya lebih awal, 14 - 15 menit tepatnya. Ini hal yang wajar karena letak geografis Semarang yang lebih ke arah timur dibanding kediaman tercinta yang juga berdampak jam 5 pagi disini terasa sudah terang sekali seperti jam 6 di rumah. Terima kasih Allah, ayah, bunda.
Terima kasih juga, mereka di foto ini.


-Imam Panji

Jumat, 28 Juni 2019

Pengalaman Baru

Perjalanan - perjalanan menjelajah dunia selalu memiliki kesan masing - masing. Yang ini terlalu banyak untuk diceritakan.

Setelah melewati kehidupan pasca SMA, banyak hal - hal yang terjadi. Di sela - sela waktu tes yang padat dan rumit, bersyukur masih bisa mendaki gunung. Dengan kesengajaan hanya mendaki dengan jumlah yang sedikit, hanya Ridwan dan Rafly yang menjadi rekan pendakian bukan berarti pendakian tidak menjadi menyenangkan.

3 kursi jadi 1 oleh abang potek
Kesepakatan membuat kami berangkat tanggal 24 Juni 2019 dari Ciputat pukul 07.00, naik bus ke arah Kuningan karena rencana kami mendaki via Palutungan yang terdapat di Kab. Kuningan. Kesepian isi bus karena bertepatan dengan hari Senin menjadikan suasana seperti bus pribadi. Bus melesat dan sampai di Kuningan pukul 12.00. Dari pusat kota menuju basecamp kami memutuskan menggunakan jasa taksi online daripada harus carter angkot yang lebih mahal, hal itu berdampak dari kami yang mendaki hanya bertiga di hari biasa.

Sampai di basecamp jam 13.00 langsung tancap makan siang dan mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi. Setelah shalat dzuhur, pas jam 14.00 kami mulai mendaki dan berencana untuk bermalam di pos 5.

Jalur awal pendakian
Gerbang selamat datang










Perjalanan menuju pos 1 adalah perjalanan terpanjang untuk menuju puncak Ciremai via Palutungan, dan bagi saya pribadi, menuju pos 1 adalah yang terberat karena rasanya tidak ada ujungnya. 2 jam mendaki akhirnya kami sampai di pos 1 dan di pos 1 ini terdapat musholla, warung, toilet, dan juga mata air. Kami beristirahat sejenak, dan melanjutkan pendakian sekitar jam 16.30.

Pos 1
Setelah dari pos 1, perjalanan menuju pos selanjutnya tidak sejauh basecamp ke pos 1. Dari pos 1 ke pos 2, kami hanya butuh waktu 12 menit mendaki tapi yang perlu diingat, di pos 2 tidak bisa dijadikan tempat bermalam karena tidak ada lahan yang luas, hanya akar - akar pohon.

Tak mau berlama - lama kami langsung bergegas menuju pos 3, estimasi adalah 1 jam mendaki. dan kami sampai di pos 3 lebih cepat sekitar jam 17.30. Setelah dari pos 3 lah lika - liku dimulai.

10 menit melanjutkan pendakian, kaki saya kram di tengah jalan, akibat perut yang sudah lapar, udara yang semakin dingin, dan juga trek yang makin sulit. Hal itu mungkin yang jadi pemicu. Saya minta istirahat sejenak karena tidak bisa dipaksa berjalan. Istirahat menuju pos 4 kami lakukan agak lama, mengingat kami melintasi waktu maghrib dimana bagi saya sendiri adalah hal yang tabu melakukan aktivitas di waktu maghrib apalagi di alam terbuka. Jam 18.00 kami melanjutkan pendakian dan sudah berganti pakaian menjadi pakaian malam.

Air mineral terenak oleh abang Ridwan
Tak lama baru mendaki, kami bertemu dengan 3 orang pendaki asli Kuningan. Menurut penuturannya Ia sudah mendaki Ciremai 3 kali dan ini yang ke 4 kalinya. Dapat dibayangkan bagaimana hafal mereka bertiga dengan jalur yang ingin dilalui. Awalnya kami mempersilahkan mereka untuk berjalan lebih dahulu mengingat setelah saya kram perjalanan kami jadi sedikit melambat. Tapi mereka bertiga menolak, dan memilih mendaki bersama kami walaupun kami sudah kelelahan.

Dan yang tidak enak kembali terjadi, belum sampai pos 4 kram saya pindah ke kaki Rafly. Saya kembali mempersilahkan mereka untuk mendaki lebih dulu, karena kami kembali memiliki kendala. Namun mereka kembali menolak. Saat itu juga saya langsung memutuskan untuk bermalam di pos 4 saja dibanding pos 5 karena kondisi tim kami yang semakin tidak memungkinkan. Akhirnya jam 18.30 kami sampai di pos 4. Setelah melihat - lihat, pos 4 tidak terlalu luas, dan sudah ada beberapa tenda yang bermalam disana. Karena keterpaksaan tersebut akhirnya kami memaksakan tetap menuju pos 5 yang berjarak sekitar 30 menit.

Pendakian malam terus dilakukan, dan sampai pos 5 jam 19.00, kurang lebih setengah jam. Namun disana tidak ada tenda siapa - siapa. Padahal saat di pos 4 kami bertanya ada yang menjawab terdapat 3 tenda di pos 5. Saya tidak habis pikir, bagaimana jika tadi saya mempersilahkan mereka mendahului kami dan mereka menyetujui itu, dan mereka bermalam di pos 6, yang ada hanya kami bermalam sendirian di pos 5, hal yang sungguh menyulitkan.

Kami mendirikan tenda bersebelahan, antisipasi jika ada yang butuh bantuan hal tersebut dapat dilakukan dengan segera. Setelah mendirikan tenda, memasak, dan makan malam, akhirnya kami istirahat di tenda masing - masing dan sepakat akan melakukan Summit Attack pukul 02.00 hari selanjutnya.

Pengalaman baru kembali muncul, jam 22.30 saya terbangun karena ada suara berisik dari luar tenda, setelah saya perhatikan sekitar 15 menit, saya baru menyadari bahwa itu adalah suara babi hutan. Jujur saya sangat takut karena belum pernah diganggu babi saat melakukan pendakian sebelumnya, yang saya lakukan hanya diam tanpa menimbulkan suara sedikitpun karena saya benar - benar tidak tau bagaimana mengatasinya. Setelah itu saya tidak bisa tidur karena babi terus berkeliling di tenda kami. Beruntung jam 00.30 ada rombongan pendaki yang lewat untuk ke puncak, dan saat itu pula babi pun pergi dan kami memilih bangun sampai jam 02 sambil berbincang.

Suasana malam setelah diganggu babi
Jam 02.15 kami berenam sudah siap melanjutkan pendakian. Setelah berdoa pendakian pun dimulai. Akibat pundak yang sudah tidak menggendong carrier seberat sebelumnya, perjalanan menjadi lebih ringan walaupun tetap saja melelahkan. 20 menit mendaki kami sampai di Pasanggrahan 1, 20 menit kemudian kami sampai di Pasanggrahan 2. Istirahat kami lakukan di tengah - tengah jalur pendakian dan tidak terlalu lama, hanya secukupnya. Jam 03.30 kami sampai di pos 7 dan dari sini pohon - pohon besar mulai hilang. Karena pohon - pohon yang mulai hilang akibatnya angin malam semakin terasa kencang karena tidak ada yang menghalangi, karena matahari juga belum muncul, badan kami menjadi terasa dingin.

Simpang Apuy - Palutungan
Jalur dari pos 7 ke pos 8 sangat terjal dan berdebu. Menuju pos 8 juga akan kita temui simpangan dari jalur Apuy yang berada di Majalengka. Karena ada kesepakatan antara kami dan 3 orang yang asli Kuningan tersebut, akhirnya kami mendaki terlebih dahulu, sekitar jam 05.40 sampai di pos 8, dari sini langit mulai berubah menjadi jingga dan keadaan semakin hangat. Dan kamipun sampai di atap Jawa Barat tepat pukul 06.00 dan perasaan yang tidak dapat diungkapkan sampai di atas sini dengan pemandangan yang luar biasa. 30 menit di atas puncak kami memutuskan turun setelahnya, dan sebelum turun kami bertemu dengan 3 orang tersebut dan kami menyempatkan foto sekaligus berterima kasih dan pamitan kepada mereka.

Terbit.
Slamet.









Aku.
Perjalanan turun sangat cepat, jam 08.30 kami sampai di pos 5 kembali, setelah itu makan dan merapihkan alat bermalam. Jam 10.20 kami sudah siap turun dan mereka bertiga belum kembali, untungnya kami sempat berpamitan. 1 jam turun gunung kami kembali sampai di pos 1. Dan yang menyebalkan perjalanan dari pos 1 ke basecamp sama lamanya dengan basecamp ke pos 1 yaitu 2 jam berjalan. Sampai di basecamp jam 13.20, setelah itu mandi, lapor diri sudah turun, makan siang, dan menuju pusat kota agar bisa kembali pulang ke rumah masing - masing.

Kita.
Begitu berharga perjalanan kali ini dengan banyak pengalaman baru, mendaki dengan anggota yang sedikit, bertemu orang lain tetapi ingin menemani pendakian, tidur diganggu babi, mendaki tanpa kesulitan makan (karena jujur pendakian di Ciremai, kami tidak makan nasi yang seperti kerupuk), sampai pulang menumpang mobil bakter yang berisi pakan ayam. Setiap pengalaman baru akan terus datang dan berganti, bukan hanya di alam terbuka, bisa jadi di semua tempat. Yang terpenting bagaimana kita menyikapi pengalaman yang datang tersebut, sikapilah dengan bijak dan dengan benar. Jadilah pencari pengalaman sejati. Sampai jumpa, sekian.

-Imam Panji
Mereka.

Jumat, 03 Mei 2019

Dadakan

Semua hal di dunia ini memerlukan rencana agar berjalan dengan baik. Namun kadang rencana tersebut terpaksa harus gagal karena beberapa hal.

Masih di bulan yang sama, April 2019. Sangat beruntung karena dapat menjelajah kembali bersama keluarga tercinta. Setelah direncanakan matang - matang dari bulan Januari 2019. Rencana berangkat tanggal 18 April 2019. Karena kecerobohan sendiri, kami baru memutuskan untuk membeli tiket bus ke Wonsobo H-1 padahal saat itu adalah libur panjang. Sudah bisa ditebak, kami kehabisan tiket untuk tanggal 18 April, dan dengan sangat mendadak memutuskan berangkat hari itu saja padahal belum mengemas barang - barang sama sekali. Saat itu pukul 13.30 dan bus akan berangkat menuju Wonosobo dari Ciputat pukul 17.30. Sudah bisa dibayangkan ?

Dengan mudahnya rencana yang disusun dari Januari hancur begitu saja. Di rumah mengemas barang dengan sangat terburu - buru dan tidak karuan. Sekelibat barang berhasil masuk di tas carrier pukul 15.00 dan masih punya waktu untuk merapihkan badan.

Singkat berhasil sampai di Ciputat jam 16.30, namun baru tersadar ada beberapa yang tertinggal, ya mungkin karena dadakan itu tadi. Beras, korek, tertinggal semua di rumah, padahal beras begitu pentingnya. Yasudah karena terlanjur yang penting berangkat dulu ke Wonosobo nanti bisa dilengkapi disana, gitu pikirnya.

Basecamp
Bus melaju, kemudian sampai di Wonosobo dini harinya sekitar pukul 4 pagi. Saat itu juga tidak langsung memutuskan untuk menuju Patak Banteng, tetapi istirahat di terminal sebentar sambil menunggu loket bus buka untuk membeli tiket pulang esok harinya. Sekitar jam 8 pagi baru menuju Patak Banteng, dan melakukan pendakian pukul 10 pagi, dengan estimasi mendaki 3 jam berjalan dengan jarak 500 meter vertikal.

Kondisi Trek











Sebenarnya saya sempat ragu akan sampai 3 jam karena mendaki bersama bunda dan Cantika, tetapi ragu saya sangat salah karena kami berhasil sampai jam 13.30. Waktu yang masih tidak jauh dari estimasi mendaki. Sampai di atas lansung mendirikan tenda dan memasak untuk makan siang. Dan disini efek dadakan kembali baru disadari, kami tidak membawa logistik selain 5 bungkus mie instan, dan beras 1/2 liter yang kami beli di basecamp. Kami juga tidak membawa kopi atau teh atau minuman yang bisa menghangatkan tubuh. Disinilah baru disadari bahwa rencana memang sangat penting untuk dibuat.
Daisy Daisy










Dengan logistik seadanya dan harus cukup sampai besok pagi, apa boleh buat harus dimanfaatkan. Siang itu dipakai untuk istirahat, dan rencana baru menikmati suasana puncak esok paginya. Namun, cuaca malah tidak bersahabat, berkabut sepanjang malam sampai pagi yang mengakibatkan tidak dapat pemandangan apa - apa selain warna putih di depan mata. Padahal harapannya kami dapat melihat Sindoro - Sumbing dari arah Timur namun kembali gagal.
Kabut











Sekitar pukul 08.00 kami sudah siap untuk turun, dan sampai di bawah jam 10.00 kemudian langsung makan nasi dan lauk yang sangat kami rindukan, maklum semalaman kemarin hanya makan mie instan. Langsung merapihkan badan dan berhubung itu hari Jumat, saya dan ayah Shalat Jumat di masjid terdekat dan baru melesat menuju Terminal Mendolo pukul 13.00 dan bus menuju Lebak Bulus akan berangkat pukul 16.00.

Perjalanan pulang terasa begitu cepat, mungkin karena itu malam hari dan kami kelelahan yang mengakibatkan di dalam bus lebih banyak diisi dengan tidur. Setelah sampai di Lebak Bulus, kami langsung bertolak menuju rumah.

Dengan terpaksa, sebagian hal yang dilakukan harus terjadi secara dadakan walaupun sudah direncanakan. Di samping itu kita perlu mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika suatu hal kita lakukan secara dadakan. Namun perjalanan yang dilakukan secara mendadak nantinya juga akan mendidik kita bahwa rencana dan persiapan sangatlah diperlukan. Sekian.

-Imam Panji

Mengulang Hal yang Sama

April tahun lalu, ada penjadwalan untuk mengunjungi jembatan gantung terpanjang di Asia yang kebetulan terletak di Sukabumi. Kecewanya karena kekurangan informasi, saat itu jembatan belum dibuka, mau tidak mau hal tersebut tertunda dan saya harus mengulangnya.

Alasan tersebutlah yang membuat saya harus datang kembali ke Sukabumi untuk menunaikan rasa penasaran bagaiimana rasanya melewati jembatan gantung sepanjang 250 meter dan menggantung 150 meter dari atas tanah. Karena sesekali perjalanan tidak perlu rencana saat itu pula juga saya dengan segenap keluarga dengan tanpa rencana dan bertolak ke Sukabumi tepat April setelahnya di tanggal 3.

Perjalanan membutuhkan waktu 3 jam dari rumah dengan kondisi jalanan yang tidak terlalu ramai mungkin karena masih pagi. Namun sesampainya disana sekitar pukul 9, ternyata keadaannya berbanding terbalik dengan jalanan yang kami lalui, kondisi disana sangat sangat sangat sangat ramai.

Suspension Bridge Situ Gunung !!!
Sampai disana karena kondisi pengunjung yang sangat ramai, saya harus mengantri sekitar 1 jam untuk melewati jembatan tersebut. Jika boleh menerka - nerka, mungkin saat itu terdapat 1500 orang pengunjung yang hadir, dapat dibayangkan betapa ramainya. Tapi masalah keamanan tidak perlu diragukan karena saat naik ke jembatan kita difasilitasi carrabiner jika sewaktu - waktu terjadi masalah di atas jembatan, dan kapasitas maksimal jembatan juga 150 orang, itulah alasan mengapa harus mengantri saat naik.
View

Setelah menyebrang diselingi foto sedikit - sedikit, karena maklum kondisi yang sangat ramai mengharuskan saya berjalan agak cepat karena banyak orang juga yang ingin lewat. Kami meneruskan jalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju Curug Sawer, seperti namanya debit air Curug Sawer sangat deras sehingga sangat dilarang untuk berenang / mandi tepat di bawah tempat terjunnya air.

Curug Sawer
Karena tak bawa baju ganti juga, di curug hanya rendam - rendam kaki dan cuci muka sehabis itu kembali lagi menuju parkiran karena kebetulan rasa penasaran yang timbul di April 2018 sudah berhasil dibayar di April 2019.

Perjalanan Pulang
Dalam beberapa hal kita dipaksa untuk mengulang hal yang sama karena sebelumnya hal itu gagal atau kita ketagihan. Namun disaat kita mengulang karena gagal, bukan berarti sebelumnya kita orang yang lemah, kita akan dituntun untuk menjadi orang yang lebih kuat. Salam sayang.

-Imam Panji

Rabu, 01 Mei 2019

Orang Pertama

Semua orang di dunia ini berhak menjadi orang pertama, dalam apapun itu. Saya dan kami salah dua yang memiliki kesempatan itu.

 








Bulan lalu, Ibukota sempat gempar dan ramai akibat beroperasinya MRT Jakarta untuk pertama kalinya. Berbondong - bondong rakyat ingin merasakan sensasinya apalagi terdapat layanan gratis yang dilakukan dari 12 - 24 Maret 2019. Berkesempatan menjadi salah satu yang merasakannya pun saya sangat antusias melakukannya.

Mendapat kesempatan pada tanggal 22 Maret 2019, setelah selesai melaksanakan Ujian Sekolah hari terakhir, saya langsung bertolak dengan *ehem* Rizka dari sekolah menuju Stasiun MRT Lebak Bulus, kebetulan perjalanan kali ini saya senang berhasil mengajaknya menikmati MRT Jakarta dengan Ayah Bunda sekaligus Cantika.

Kamu.
Kami mengambil sesi terakhir pada hari itu tepat jam 14.00 - 16.00 WIB, setelah menunjukan e-ticket kami naik tangga sambil melihat - lihat betapa masih rapihnya stasiun ini. 

Ketepatan Waktu tak dapat dihiraukan lagi, gerbong melaju tepat jam 14.00 dengan sentakan yang saya sedikit terkejut. Karena jujur, akselerasi MRT sangat berbeda dengan KRL, atau mungkin karena armada MRT ini baru ? Atau hanya perasaan saya saja ?

Pahlawan
Malaikat, Anak Malaikat










Tujuan kami tentu ya stasiun akhir yaitu Hotel Indonesia, sesampainya disana kami sempat sedikit menikmati bundaran Hotel Indonesia, namun karena hari itu tepat juga dengan pengumuman SNMPTN, Bunda memaksa saya dan Rizka untuk melihat hasil kami berdua, naas hasilnya tertulis "maaf", sontak setelah itu suasana berubah menjadi lebih muram hehe.

Ya namun itulah kehidupan, kadang keberuntungan tidak berpihak kepada kita karena suatu alasan. Setelah itu yang saya lakukan hanya berusaha menenangkan suasana walaupun hati saya pun juga tak karuan karena mendapatkan latar merah di pengumuman saya, tapi saya berusaha mengerti bahwasanya perempuan memang lebih perasa.

Kemudian, ya kita pulang kembali lagi ke Lebak Bulus karena kami tidak boleh lewat dari jam 16.00 atau kami pulang dengan kendaraan lain.

Saya minta maaf jikalau tulisan ini sangat pendek sekali, saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya menikmatinya waktu itu. Lagipula tulisan ini juga untuk merayakan kembalinya saya setelah 4 bulan tidak menulis disini karena berbagai hal. Atau mungkin ada yang juga ingin berbagi pengalaman menaiki MRT Jakarta ? Atau belum punya waktu merasakannya ? Atau malah ada juga yang tidak lolos SNMPTN ? Bisa juga dibagikan dengan yang lainnya, karena apapun yang terjadi kita tetap harus kuat dan tegar :)

Tentang judul tulisan ini, memang seperti itu, beberapa orang di dunia ini memang berkesempatan menjadi yang pertama, atau malah ada yang berharap menjadi yang terakhir, atau lebih dalam lagi ada yang berharap menjadi pertama dan terakhir. Termasuk kami yang menjadi salah satu pertama merasakannya, atau saya yang menjadi pertama miliknya. Di paragraf ini saya hanya ingin jujur, paragraf terakhir untukmu, takut kamu tidak menyadarinya.

Teruntukmu (Lagi),

-Imam Panji

Ayah + Bunda + Cantika = Captain Marvel