Selasa, 26 November 2019

Kita Serumpun atau Saling Timbun ?

Demi harga diri bangsa, ujarnya.
Ada ungkapan yang sering terdengar bahwasanya sepak bola tanpa penggemar ibarat sayur yang terasa hambar. Bagaimana jika kita bertandang ke negeri seberang justru malah diserang ? Apa arti serumpun jika kemarin perwakilan teriakan “Garuda di Dadaku” malah ditimbun ?

Beberapa hari lalu, tepatnya Selasa, 19 November 2019 meski sudah terpuruk tanpa poin sedikit pun, Tim Nasional Sepak Bola Indonesia tetap bertandang ke Malaysia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia. Sampai di Malaysia bukannya disambut dengan baik, tetangga yang satu ini malah membuat suasana menjadi lebih pelik. Terjadi insiden pemukulan dan pengeroyokan terhadap beberapa penggemar Indonesia yang turut membawa nama Garuda di tanah Malaya.

Lewat keterangan pers yang disebar melalui akun Facebook-nya, Kepolisian Malaysia menyebutkan, insiden tersebut berlangsung di kawasan Bukit Bintang, Malaysia, 19 November pukul 02.00 dini hari. Korban atas nama Fuad dan Yovan kemudian melaporkan kejadian itu kepada polisi pada pukul 08.00 pagi.

Insiden ini muncul ke permukaan setelah ada video yang beredar di sosial media yang menampakkan paspor bernama "Fuad Naji". Yovan juga membenarkan bahwa di dalam video tersebut adalah Ia dengan kawannya, Fuad. Mereka dikeroyok oleh sekumpulan oknum saat hendak kembali ke hotel.

"Kepolisian Malaysia meminta pelapor dan rekannya yang menjadi korban dalam insiden itu segera bertemu dengan penyidik untuk melanjutkan penyelidikan. Kepolisian Malaysia juga memohon bantuan KBRI agar menginformasikan hal ini kepada pelapor," bunyi pernyataan resmi Kepolisian Malaysia.

Pemerintah Indonesia juga tidak diam saja, melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, Indonesia melayangkan nota protes dan menuntut permintaan maaf Malaysia. Walaupun kasus ini sempat didiamkan dan dicap hoaks oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq. Namun kemudian, Saddiq meminta maaf kepada masyarakat Indonesia. Saddiq mengaku telah meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian dalam video tersebut. Saddiq juga meminta agar korban atau saksi muncul untuk membantu pihak kepolisian menungkap kasus tersebut.

Tapi apakah sebuah permintaan maaf akan menyembuhkan luka kita begitu saja ? Saya yakin ini adalah persepsi masing - masing yang jawabannya boleh kalian simpan di dalam hati saja.

Jika sudah seperti ini, rakyat Indonesia menjadi terapit oleh dua situasi, di antara ingin marah tetapi tetangga, ingin pura - pura baik - baik saja tapi geram sudah merasuk di dada, ingin membuat suasana tidak kalut tapi batin sudah terlanjur tersulut. Hal yang ini juga tidak bisa dipaksakan adanya, setiap orang punya keinginan yang berbeda dalam menuntaskannya. Tetapi, saya ingin berpesan kepada negara tercinta. Ketahuilah, negara kita adalah negara yang cinta damai, sekalipun rakyat kita berjumlah 260 juta jiwa, kita punya pabrik senjata yang diakui di Bandung, dan juga pasukan elit terbaik di kerak bumi saya rasa ini sudah cukup jadi modal saat kita ingin cari 'masalah' dengan pihak manapun bukan ? Tapi satu hal yang tidak kita punya, adalah keinginan untuk melakukannya, betapa terhormatnya negeri kita. Jadi saat kalian ingin membalas kembali lah ke kalimat awal, kita adalah negara yang cinta damai, jagalah kehormatan kita, jika kelak mereka datang kesini sambut mereka dengan pertemanan bukan keroyokan.

Saya juga ingin berpesan kepada Malaysia atau negara manapun yang hendak mengganggu Indonesia. Jangan ajak kami berperang, jika ingin kami sudah melakukannya. Lagipula dahulu kami sudah berperang 350 tahun melawan Belanda dan kami menang, belum ditambah 3,5 tahun dengan Jepang, yang pada akhirnya kami memproklamirkan kemerdekaan kami sendiri tanpa bantuan mereka sedikitpun. Tapi, jika ingin bersahabat, ayo kita lakukan sampai dunia tamat.

Salam sayang,
Imam Panji


Tidak ada komentar:

Posting Komentar