Jumat, 21 Januari 2022

Satu Per Satu #2

Kata orang bijak, badai pasti akan berlalu. Ucapan itu kadang bisa dibenarkan, kadang juga tidak.

Itulah yang kami alami malam itu, badai tak kunjung berhenti hingga pagi. Bahkan jam 03.00 WITA, kerangka tenda kami sempat lepas karena angin yang terlalu kencang, memaksa kami terbangun dan harus memperbaiki tenda supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun perbaikan sifatnya hanya sementara, karena hari masih gelap, dan angin yang menerpa tubuh terasa sangat dingin.

Fajar menyingsing, ternyata cuaca sangat cerah hari itu, 27 Desember 2021. Segara Anak jelas di depan tenda, di belakang Dewi Anjani menyapa ingin digapai. Tapi ini memang bukan hari kami, pada hari ini, jadwalnya adalah turun ke Segara Anak (bagi yang mau) dan kemudian kembali lagi ke Pelawangan Sembalun. Waktu yang dibutuhkan untuk turun adalah sekitar 3 jam, dan untuk kembali naik sekitar 5-6 jam. Dengan kekuatan fisik aku dan menimbang untuk Summit Attack esok malam,  aku memutuskan untuk istirahat saja di tenda sembari menjaga tenda lainnnya dari serangan monyet-monyet. Bagiku, sudah cukup melihat Segara Anak dari sini, aku sudah tau kamu indah.

Arip dan Eca termasuk rombongan yang ikut untuk turun ke Danau, tapi sekitar jam 11 Arip dan Eca malah kembali ke tenda, pikirku sudah sampai, tapi ternyata mereka memutuskan kembali karena perjalanan masih jauh. Kejadian ini membuat aku merasa mengambil keputusan yang tepat untuk tidak ikut ke bawah. Hari itu, tak banyak yang kami lakukan, hanya banyak berbicara dan istirahat di tenda untuk persiapan esok harinya. Dan kami tidur sekitar jam 21 WITA untuk mulai berjalan sesuai rencana pada jam 01 WITA.

28 Desember 2021, hari yang kami nantikan. Di tengah kegelapan kami masih bisa melihat samar-samar puncak Rinjani tidak tertutup apapun, pertanda cuaca baik, dan semoga akan bertahan. Setelah makan, satu rombongan bersiap untuk menggapai puncak bersama-sama, walaupun rencana hanyalah rencana, kami mulai berjalan pada jam 02 WITA. Sekitar 30 menit berjalan dari Pelawangan, trek sudah berubah menjadi pasir, dan membuat tenaga lebih cepat terkuras karena sekali melangkah, kaki akan merosot setengah langkah, terus begitu sampai menjelang puncak.

3 jam berjalan, kami sampai di pinggir jurang, punggungan gunung. Perjalanan dari sini akan terus menyusur di sisi jurang sampai ke puncak, sesekali angin juga berhembus dan memaksa kami berlindung di balik bebatuan karena memang tidak ada apa-apa lagi disini selain batu dan pasir. Tak sadar hari mulai terang, saat itu juga kami mematikan senter karena jalur sudah jelas terlihat, kadang kondisi pendakian terang malah membuat mental lebih cepat tergerus, karena jalur yang terlihat jelas membuat kesan tujuan tidak kunjung sampai, padahal sama saja, langkah kaki kami tetap mencicil pelan-pelan.

Jam 07.30 pagi kami sampai di Letter E Rinjani, mental sudah tergerus, ditambah berjumpa dengan rombongan kami yang pertama sampai puncak pukul 6, ternyata sudah turun. Membuat kami semakin bertanya-tanya. Namun, perlahan tetap kami lanjutkan, jangan sampai kami bermimpi setelah pulang dan berhutang kepada Rinjani, walaupun Rinjani memang tidak akan kemana-mana.

Puncak semakin dekat, sekitar jam 09 WITA, akhirnya kami sampai di puncak Rinjani yang cukup mungil, sehingga harus antre untuk mengabadikan momen yang mungkin sekali seumur hidup ini. Kami memutuskan tidak berlama di atas, karena hari ini juga harus turun sampai basecamp. Sekitar jam 09.30 kami turun, dan sampai di Pelawangan Sembalun pukul 13 WITA. Setelah makan dan berkemas, kami mulai perjalanan turun, walaupun tubuh juga sudah lelah, namun karena terbatas SIMAKSI dan peraturan, mau tidak mau kami memang harus turun.

di Dewi Anjani

Pukul 17 WITA kami sampai di pos 2, ternyata kaki saya sudah sakit sekali, karena menahan beban tubuh selama turun. Sebab perjalanan ke kandang sapi masih sangat jauh, kami memutuskan untuk naik ojek yang memang tersedia di pos 2, setelah tawar-menawar dan menemui kesepakatan, sekitar maghrib kami sudah di kandang sapi dan menunggu jemputan.

Malam itu kami rapih-rapih, makan penyetan ayam di depan basecamp, tidur, dan esoknya perjalanan dilanjut ke Gili Trawangan sebelum kembali ke rumah dengan metode yang sama. Pelabuhan Lembar-Pelabuhan Ketapang-Tol Trans Jawa.

Mengutip dari kata-kata Pandji Pragiwaksono dalam videonya, Ia pernah berkata "jangan sekali-kali kubur mimpi kamu, karena sekeras apapun kamu pukul, mimpi itu hanya akan pingsan, dan suatu saat akan bangkit di usia tuamu dalam bentuk penyesalan". Seperti kalimat awal tulisan ini di episode #1, hidup adalah persinggahan untuk menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu. Dan ini adalah mimpi kami, 7 summit yang mana selanjutnya?

Tim Luar Biasa
Snorkling
Kulit terbakar di Gili Trawangan

Terima kasih untuk Allah, Ayah, Bunda, Tiara, Cantika, Rizka, dan Eppala Adventure dalam perjalanan ini. Terima kasih juga untuk kawan-kawan rombongan, perjalanan ini akan dikenang.

Kisah ini berakhir.

Senin, 17 Januari 2022

Satu Per Satu #1

Hidup adalah sebuah persinggahan. Persinggahan menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu.

Itulah yang saya gagas dalam perjalanan kali ini. Kembali memenuhi agenda tahunan untuk mendaki, jodohnya tahun ini adalah Rinjani, iya salah satu 7 summits Indonesia dan menjadi urutan ke-3 di daftar tersebut. Rinjani juga menjadi gunung ke-2 aku dan kami dalam rangkaian 7 summits, setelah sebelumnya pada 2020 kami berkunjung ke Kerinci.

Perjalanan ini dimulai sejak Oktober, tahap persiapan. Aku dan Rizka (partner perjalanan ku) banyak berdiskusi tentang kemana kami tahun ini, Rizka ingin ke Semeru (Oktober itu Semeru belum meletus), namun sepengetahuan ku Semeru memang sudah ditutup sejak Juli akibat kebijakan PPKM. Sedangkan aku ingin ke Rinjani -gunung yang katanya punya banyak sekali keindahan-. Namun itu berarti, kami kembali mendaki di luar Pulau Jawa dan harus menyiapkan dana lebih banyak. Dengan berbagai pertimbangan, keputusan bulat untuk ke Rinjani menggunakan open trip, bukan perjalanan independen. Singkat cerita kami persiapan ekstra, dan perjalanan baru akan dimulai pada 23-30 Desember 2021.

Hari beranjak, tibalah 23 Desember hari keberangkatan kami, kembali melakukan perjalanan via darat dan bertemu di UKI Cawang untuk titik temu Kota Jakarta, setelah sebelumnya bus berangkat dari Bandung dan Bogor. Sekilas informasi mengatakan kami akan berangkat sekitar 50 an orang, dan memang benar karena bus yang kami gunakan adalah armada besar. Jam 13.30 WIB kami berangkat dari UKI Cawang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Agendanya kapal akan bersandar pukul 19.00 WIB keesokan harinya, namun karena kami telat datang, kami kebagian kapal jam 23.00 WIB, tetapi kendala terjadi kembali, kapal yang harusnya tiba pukul 23 tersebut mengalami kerusakan, sehingga kami harus menunggu sampai jam 7 pagi untuk berlayar ke Lombok. Benar-benar pengorbanan yang luar biasa.
Kebersamaan di Kapal

Perjalanan laut dari Banyuwangi ke Lombok cukup lama, kami sampai di Lombok sekitar jam 01.00 WITA keesokan harinya. Langsung bertolak ke Desa Sembalun yang masih harus ditempuh 4-5 jam perjalanan, sekitar jam 07.00 WITA kami sampai di basecamp bang Ady. Karena keterlambatan kapal, pagi itu juga kami harus langsung mendaki, karena sesuai dengan SIMAKSI yang kami urus, pendakian dilakukan tanggal 26-28 Desember 2021.
Makan di Ketapang

Pendakian dimulai dari kandang sapi, setelah dari basecamp menaiki mobil bak terbuka. Setelah berdoa, kami memulai pendakian sekitar pukul 11 WITA, ketika matahari hampir di puncak teriknya. Mendaki dengan jumlah 50 orang tidak mudah, rombongan menjadi terpecah-pecah secara otomatis sesuai gaya mendakinya. Lagipula, siang itu Rinjani panas sekali, leher cepat kering, kaki cepat panas, laksana hatimu. Sekitar jam 13 WITA saya sampai di pos 2, kondisi pos 2 lumayan nyaman, ada beberapa pendopo yang dapat  digunakan untuk istirahat. Sekitar 15 menit istirahat, kami lanjutkan perjalanan, trek Rinjani sampai pos 3 cenderung landai dan terbuka. Sangat minim pohon besar di jalur pendakian, ini juga yang menyebabkan cuaca (apapun itu) akan langsung mengenai tubuh karena tidak terhalang.
Kandang Sapi

Perjalanan ke pos 3 cenderung dekat, sekitar jam 15 WITA kami sudah sampai di pos 3. Disini istirahat cukup lama, karena katanya setelah ini pendakian baru akan dimulai, jadi tadi apa? Jalur selanjutnya adalah bukit penyesalan -yang cukup terkenal di Rinjani itu-. Katanya juga ini jalur yang melewati 7 bukit dan seakan tak habis-habis. Memang, awal memasuki jalur, konturnya berbeda dengan jalur dari kandang sapi sampai pos 3. Sejak pos 3 jalur lebih curam dan menanjak, tentunya juga semakin menguras tenaga karena hari semakin larut. Jam 16.30 WITA sampai di pos 4 dalam kondisi gerimis, tapi bukan disini tempat kami bermalam, namun karena perut kosong, memutuskan untuk membuka perbekalan sejenak sebelum berlanjut. Di pos 4 juga sudah banyak tampil monyet-monyet yang berusaha merebut makanan pendaki, hal inilah yang juga patut diwaspadai ketika ingin mendaki Rinjani.


<Jalur dari kandang sapi - pos 3>









Setelah itu perjalanan di lanjut, katanya Pelawangan Sembalun masih 4 jam lagi dari pos 4, itu artinya kami akan melintas malam. Mau tidak mau ini dilakukan, karena memang tempat paling ideal untuk bermalam adalah di Pelawangan. Tubuh sudah lelah sekali di titik ini, ingin naik jauh, ingin turun sia-sia. Jalur Rinjani sudah tidak terlihat lagi, pandangan kami hanya sebatas senter yang kami gunakan, namun rasanya sama, tidak sampai-sampai, dimana Pelawangan? Setelah perjalanan panjang dan melawan diri sendiri, jam 21.30 WITA kami sampai di Pelawangan, kami salah satu rombongan yang di belakang saat itu, karena sudah ada beberapa kawan yang sampai Pelawangan lebih dulu, di Rinjani, kami satu tenda dengan Arip dan Eca, begitulah Ia dipanggil, selama 2 malam berbagi cerita juga tawa dengan caranya masing-masing. 

Tak banyak yang dilakukan, malam itu makan kemudian tidur, namun malam itu tidak mengasyikkan karena dini harinya kami diserang badai.

Akan berlanjut.