Hidup adalah sebuah persinggahan. Persinggahan menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu.
Itulah yang saya gagas dalam perjalanan kali ini. Kembali memenuhi agenda tahunan untuk mendaki, jodohnya tahun ini adalah Rinjani, iya salah satu 7 summits Indonesia dan menjadi urutan ke-3 di daftar tersebut. Rinjani juga menjadi gunung ke-2 aku dan kami dalam rangkaian 7 summits, setelah sebelumnya pada 2020 kami berkunjung ke Kerinci.
Perjalanan ini dimulai sejak Oktober, tahap persiapan. Aku dan Rizka (partner perjalanan ku) banyak berdiskusi tentang kemana kami tahun ini, Rizka ingin ke Semeru (Oktober itu Semeru belum meletus), namun sepengetahuan ku Semeru memang sudah ditutup sejak Juli akibat kebijakan PPKM. Sedangkan aku ingin ke Rinjani -gunung yang katanya punya banyak sekali keindahan-. Namun itu berarti, kami kembali mendaki di luar Pulau Jawa dan harus menyiapkan dana lebih banyak. Dengan berbagai pertimbangan, keputusan bulat untuk ke Rinjani menggunakan open trip, bukan perjalanan independen. Singkat cerita kami persiapan ekstra, dan perjalanan baru akan dimulai pada 23-30 Desember 2021.
Hari beranjak, tibalah 23 Desember hari keberangkatan kami, kembali melakukan perjalanan via darat dan bertemu di UKI Cawang untuk titik temu Kota Jakarta, setelah sebelumnya bus berangkat dari Bandung dan Bogor. Sekilas informasi mengatakan kami akan berangkat sekitar 50 an orang, dan memang benar karena bus yang kami gunakan adalah armada besar. Jam 13.30 WIB kami berangkat dari UKI Cawang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Agendanya kapal akan bersandar pukul 19.00 WIB keesokan harinya, namun karena kami telat datang, kami kebagian kapal jam 23.00 WIB, tetapi kendala terjadi kembali, kapal yang harusnya tiba pukul 23 tersebut mengalami kerusakan, sehingga kami harus menunggu sampai jam 7 pagi untuk berlayar ke Lombok. Benar-benar pengorbanan yang luar biasa.
| Kebersamaan di Kapal |
Perjalanan laut dari Banyuwangi ke Lombok cukup lama, kami sampai di Lombok sekitar jam 01.00 WITA keesokan harinya. Langsung bertolak ke Desa Sembalun yang masih harus ditempuh 4-5 jam perjalanan, sekitar jam 07.00 WITA kami sampai di basecamp bang Ady. Karena keterlambatan kapal, pagi itu juga kami harus langsung mendaki, karena sesuai dengan SIMAKSI yang kami urus, pendakian dilakukan tanggal 26-28 Desember 2021.
| Makan di Ketapang |
Pendakian dimulai dari kandang sapi, setelah dari basecamp menaiki mobil bak terbuka. Setelah berdoa, kami memulai pendakian sekitar pukul 11 WITA, ketika matahari hampir di puncak teriknya. Mendaki dengan jumlah 50 orang tidak mudah, rombongan menjadi terpecah-pecah secara otomatis sesuai gaya mendakinya. Lagipula, siang itu Rinjani panas sekali, leher cepat kering, kaki cepat panas, laksana hatimu. Sekitar jam 13 WITA saya sampai di pos 2, kondisi pos 2 lumayan nyaman, ada beberapa pendopo yang dapat digunakan untuk istirahat. Sekitar 15 menit istirahat, kami lanjutkan perjalanan, trek Rinjani sampai pos 3 cenderung landai dan terbuka. Sangat minim pohon besar di jalur pendakian, ini juga yang menyebabkan cuaca (apapun itu) akan langsung mengenai tubuh karena tidak terhalang.
| Kandang Sapi |
Perjalanan ke pos 3 cenderung dekat, sekitar jam 15 WITA kami sudah sampai di pos 3. Disini istirahat cukup lama, karena katanya setelah ini pendakian baru akan dimulai, jadi tadi apa? Jalur selanjutnya adalah bukit penyesalan -yang cukup terkenal di Rinjani itu-. Katanya juga ini jalur yang melewati 7 bukit dan seakan tak habis-habis. Memang, awal memasuki jalur, konturnya berbeda dengan jalur dari kandang sapi sampai pos 3. Sejak pos 3 jalur lebih curam dan menanjak, tentunya juga semakin menguras tenaga karena hari semakin larut. Jam 16.30 WITA sampai di pos 4 dalam kondisi gerimis, tapi bukan disini tempat kami bermalam, namun karena perut kosong, memutuskan untuk membuka perbekalan sejenak sebelum berlanjut. Di pos 4 juga sudah banyak tampil monyet-monyet yang berusaha merebut makanan pendaki, hal inilah yang juga patut diwaspadai ketika ingin mendaki Rinjani.
<Jalur dari kandang sapi - pos 3>
Tak banyak yang dilakukan, malam itu makan kemudian tidur, namun malam itu tidak mengasyikkan karena dini harinya kami diserang badai.
Akan berlanjut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar