Ok sob, balik lagi sama gua nih, Imam Panji. Yang menawan
dan baik hati, eitssss. Ga ga, tidak boleh takabur. Di pos ini ada pos tentang
kembaran dari Gunung Sumbing yaitu Gunung Si(Ndoro). Tapi, sebelum kalian baca
ini lebih baik kalian baca perjalanan di Gunung Sumbing terlebih dahulu disini daripada nanti kalian bingung
karena gabaca dari awal perjalanan.
Perlu kalian ketahui juga, Gunung Sindoro terletak persis di sebrang Gunung Sumbing, menjulang dengan ketinggian 3153 Mdpl di tanah Jawa yang perkasa. Gunung Sindoro memiliki ketinggian yang lebih pendek dibanding Gunung Sumbing tapi hiraukan hal itu, setiap gunung punya cara masing – masing untuk membuat manusia takjub akan dirinya.
Seperti yang gua bilang, pendakian ini gua langsung menjajal 2 gunung yang kebetulan letaknya sangat – sangat berdekatan. Pada tanggal 25 dan 26 Maret 2017 gua udah mendaki di Sumbing dan di tanggal berikutnya 27 dan 28 Maret 2017, I came for you Sindoro.
Jadi tanggal 26 setelah turun dari Gunung Sumbing di sore
hari, kami memutuskan untuk menginap di basecamp Garung baru besok paginya
melaksanakan perjalanan ke Basecamp Kledung. FYI, Kledung sama seperti Garung,
Kledung adalah desa terakhir sebelum melakukan pendakian Sindoro via Kledung.
| Gunung Sindoro dari basecamp Garung |
27 Maret 2017
Rencana keberangkatan dari Garung ke Kledung adalah jam
08.00 tapi gua udah bangun jam 06.30 waktu itu. Pas bangun, matahari bersinar
dan puncak Sindoro keliatan dari Garung. Yang ini baru namanya Good News !!!
Karena masih ada waktu 1 setengah jam sebelum ke Kledung lebih baik waktu itu
dimanfaatkan untuk kegiatan yang berguna. Jadi, 1 setengah jam itu gua pake
buat sarapan, mandi (ga sabunan pastinya, dingin gaes), terus karena cuaca pagi
itu cerah sekali jadinya barang – barang yang digunakan di pendakian Sumbing
dijemur terlebih dahulu supaya tidak terlalu basah. Karena waktu di pendakian
Sumbing kami kehujanan sepanjang
pendakian. Tapi bener aja, berangkat ngaret lagi yaitu mulai ngepak ke
dalem mobil jam 09.20. Jam 09.30 kami mulai perjalanan ke basecamp Kledung.
Bagi kalian yang ingin melakukan pendakian Sindoro – Sumbing jangan khawatir
jarak basecamp keduanya hanya 10 menit berkendara. Dikarenakan faktor logisitik
jadi sempet berhenti sekali di minimarket untuk beli keperluan di atas baru
menuju basecamp.
Sampe basecamp yang dilakukan sama, urus perizinan dan ternyata ada satu hal yang diingatkan oleh pihak basecamp “Kalo ada yang lagi berhalangan jangan muncak ya mas, cukup sampai pos 3 aja” kalimat itu diucapkan pihak basecamp ke leader kita Bang Bahrun. Dengan sigap bang Bahrun nanya ke tim, dan bener aja ternyata Mba Fitri masih berhalangan. Tapi Mba Fitri bersikeras ingin muncak dan menemui pihak basecamp. Setelah bernegoisasi ternyata dibolehkan dengan syarat Mba Fitri harus mandi dulu. Daripada nunggu mba Fitri lama jadi bang Bahrun memutuskan tim jalan duluan kecuali Bang Bahrun, Bang Alif, dan Mba Fitri supaya bisa menghemat waktu. Dari basecamp Kledung juga tersedia jasa ojek yang tarifnya Rp 15.000 sampai pos 1 dan Rp. 25.000 sampai pertengahan pos 2. Tim yang jalan duluan memutuskan untuk naik ojek sampai pos 1 saja, dikarenakan juga masih punya banyak waktu untuk trekking ke pos 3 (Camping Area). Sekitar 15 menit perjalanan dan sampai di pos 1 langsung dilakukan brifing sama Bang Condet selaku leader dan tidak lupa berdoa. Lalu mulailah kita mendaki, belum sampai di pertengahan pos 2 kita bertemu kelompok Bang Bahrun yang sudah menyusul dengan ojek. Jadi, di pertengahan pos 2 tim memutuskan istirahat sebentar baru melanjutkan pendakian.
Menurut gua, karakteristik jalur pendakiannya 11 12 lah sama
Sumbing, hanya saja pendakian Sindoro jalurnya lebih sempit jadi harus lebih
berhati – hati. Setelah berlelah – lelah melangkah, akhirnya kami sampai di pos
3 jam 13.15. Sesuai rencana langsung bikin tenda, formasi tenda berbeda, di
Sindoro kita hanya membuat 3 tenda dengan dapur yang hanya beratap Fly Sheet
saja. Dari jam segitu sampai malam yang kami lakukan hanya makan, bercengkrama
satu sama lain dan pastinya berdoa agar kami direstukan ke puncak Sindoro kala
itu. Gua tau puncak itu cuma bonus, dan tujuannya adalah rumah, tapi gapernah
salah ketika kita ambil bonusnya selama memungkinkan sob. Jam 22.00 kami satu
persatu mulai tidur untuk persiapan SUMMIT ATTACK dini harinya yang rencananya
akan dimulai jam 03.00.
| Suasana pos 1 sebelum pendakian |
| Kemesraan yang terjadi saat mendaki menuju pos 3 |
| Suasana pos 3 |
28 Maret 2017
Inilah hari penentuan dan hari spesial yang ke – 16. Gua
rasa untuk hari spesial gaada yang tau kecuali bokap dan AA, karena yang lain
baru kenal gua. Lanjut, bangun telat yang rencananya jam 03.00 jalan tapi malah
jam segitu baru bangun, jadi kami harus sigap karena kami juga mengejar bus
balik ke Jakarta jam 16.00. Dengan segala persiapan kami berangkat jam 03.30
yang didahulukan brifing dan berdoa, estimasi SUMMIT attack dari pos 3 adalah 3
– 4 jam tergantung kecepatan jalan. Di perjalanan menuju puncak kita akan
banyak melihat banyak pohon lamtoro di kiri kanan kita, gua gatau kenapa
padahal di lagunya itu banyak pohon cemara, cuma tak apalah. Sebelum mencapai
puncak pendaki bakal melewati satu pos lagi yaitu “Pos 4, Batu Tatah”. 2 jam
pendakian langit mulai memerah, penanda bahwa surya akan datang. Perlahan juga
Sumbing menunjukkan kegagahannya di belakang, view inilah yang membuat si
Gunung Kembar ini juara daripada kalo gunung lain kalo tentang view. Di SUMMIT
attack sesekali bang Condet semangatin kita dengan kalimat “Kalo capek nengok
atas aja sob” maksudnya adalah nengok atas itu puncak udah nungguin kita di
atas, ayo sedikit lagi gitu. Bau belerang makin kecium, makin pusing, kenapa
belerang ? Karena Sindoro adalah gunung yang memiliki kawah masih aktif
sehingga bau belerang masih tercium. Tapi itu salah satu tantangannya, dari
belerang setiap orang itu bisa pusing, atau bahkan sesak pernapasan. Maka gua
sarankan di setiap pendakian bawa masker / buff untuk menutupi hidung dari bau
– bau seperti belerang ini, karena kalo terhirup secara langsung juga sangat
berbahaya. Tepat jam 07.00 suara aktivitas kawah dan suara gemuruh pendaki yang
lain terdengar, perlahan terlihat jaket mereka, bendera merah putih.
ALHAMDULILLAH, Alam mengizinkan kami mendapatkan puncak Sindoro kali itu.
![]() |
| WE ARE, WE ARE !!! |
![]() |
| Hadiah dari temen - temen, and ini yang namanya Nindy |
![]() |
| W/ Kampret |
Setelah semua kumpul, tenda di beresin, carrier di beresin
dan kemudian makan siang. Sebelum perjalanan turun dilakuin brifing terakhir
dan gua inget satu kalimat lagi dari bang Con “Kalo ga gila emang gagitu,
belajar gila aja di gunung, tuh gua dapet kaos kan” dia ngomong gitu karena dia
berkesempatan tukeran kaos sama satu pendaki dari Bandung yang bahkan dia baru
kenal di Sumbing dan itulah keistimewaan mendaki. Jam 11.45 brifing selesai dan
mulai perjalanan turun, sampai pertengahan pos 2 jam 13.30 dan banyak ojek yang
menawarkan jasa ke basecamp dengan tarif yang sama seperti naik, gua dan Aa
mutusin untuk jalan kaki lagi dan sisanya naik ojek. Gua ama Aa agak jalan
cepet karena kita tau bus udah nungguin kita. Sampe basecamp jam 14.15 dan
alhamdulillah masih ditungguin. Jam 14.30 kita mulai pamit dari kedua gunung
ini, mulai perjalanan ke terminal Mendolo karena tujuan itu rumah sob. Sampe
terminal jam 15.15 dan masih ada waktu untuk makan dan bersih – bersih badan
dulu. Masuk bus jam 16.00 tapi baru on the way jam 16.30, kami sampai di
terminal Kp Rambutan besok paginya jam 04.00 dan saling bersalaman karena ini
perpisahan dari pendakian kali ini setelah 5 hari bersama. Dan gua sama Aa
langsung sekolah hari itu juga karena ada UTS, gua ke rumah Aa dan mandi
disana, karena jika pulang terlalu jauh dan nanti malah gabisa sekolah.
Jadi, itulah catatan perjalanan di Gunung Sumbing – Sindoro
24 – 28 Maret 2017. Banyak pelajaran yang bisa gua ambil dari mendaki,
bagaimana kita mengambil keputusan, berbahagia karena hasil yang kita capai,
mengerti arti apa itu kebersamaan. Masih banyak lagi sebenernya, dan ini bakal
jadi cerita, buat siapapun. Mendaki itu bukan sekedar perjalanan mencari puncak
sejati bagi gua, mendaki itu perjalanan hati. Kalo kata ayah “Shalat itu bukan
cuma yang 5 waktu, mendaki itu juga shalat, karena mendaki kita juga ibadah
bagaimana cara bersyukur dan menikmati karunia-Nya”.
Di pos ini gua juga mau ucapin terima kasih kepada Allah
SWT, keluarga baru gua yang gua dapat di trip kali ini, kedua orang tua
tercinta yang sudah mendukung, tim Theater Adventure yang berkenan
memfasilitasi dan pihak – pihak lain pokoknya. Selain terima kasih gua juga mau
ucapin sama – sama ke Averyl karena di blognya dia bilang makasih sama gua
karena diajak mendaki.
Jadi setelah gua pos ini, satu pertanyaan “kapan mau mendaki ?” itu terserah kalian karena passion setiap orang beda – beda. Tapi , jika ingin mendaki jangan pernah rusak alam, jangan rusak gunung yang kita tumpang selama pendakian, karena lihat kejadiannya di pendakian gua, ketika di Sumbing ada 1 orang yang ternyata berhalangan ternyata alam tidak merestui, saat di Sindoro ketika sudah tidak berhalangan alam merestui kami. Jadi, gunung itu punya cara tersendiri bagaimana membalas perbuatan pendaki – pendaki yang buang sampah sembarang, corat – coret di batu atau di plang pendakian. Kalo kalian masih lakuin itu sadar sob itu perbuatan norak ! Sekian ok sob ? Iya sekian toh ceritanya udah selesai. Santai dan Terpelajar.
Waktu relatif pendakian Gunung Sindoro
27 Maret 2017
09.30 – 09.50 Perjalanan ke Kledung dari Garung
10.00 – 01.15 Trekking menuju pos 3
01.15 – 22.00 Acara bebas, makan, bercengkrama.
22.00 – 03.00 Istirahat
28 Maret 2017
03.30 – 07.00 SUMMIT ATTACK
07.00 – 08.00 Enjoy puncak, foto – foto.
08.00 – 10.50 Perjalanan kembali ke tenda.
10.50 - 11.40 Re – pack, makan siang.
11.45 – 14.15 Trekking menuju Basecamp
14.30 – 15.15 Perjalanan menuju terminal Mendolo
16.30 – 04.00 Perjalanan kembali ke Jakarta dan pendakian
selesai.
Ambil yang perlu diambil, buang yang tidak terpakai !
Rumah Tercinta, 7 April
2017



Tidak ada komentar:
Posting Komentar