Senin, 31 Desember 2018

Perjalanan Akhir Tahun #1

Perjalanan jauh akan membuat kalian tahu, siapa orang yang benar – benar menjadi kawan kalian. Dan dengan bangga saya berhasil melakukannya.


Ya seperti itulah perjalanan jauh kali ini terjadi, dengan sedikit kebanggaan. Semua berawal dari akibat adanya libur panjang yang diakibatkan oleh masa pelajaran yang telah habis di semester ganjil dan diperlukan istirahat sekitar 2 mingguan sebelum berlanjut ke semester genap. Hal ini tentu saja tak boleh dilewatkan, apalagi untuk saya. Keputusan itu membuat kami, iya kami, memutuskan untuk menjelajah, Jawa Tengah tepatnya.



Rencana berawal dari bulan Oktober, 2 bulan sebelum hari pelaksanaan, setelah ajak kawan sana – sini. Akhirnya tim berjumlah 5 orang, yaitu Saya, Kemal, Reynaldy, Ridwan, dan juga Ilmi. Dari bulan Oktober juga lah kami memulai persiapan terutama persiapan fisik, supaya perjalanan tidak terlalu menyiksa nantinya. Karena sudah pasti, penjelajahan kali ini akan menguras tenaga maupun mental.



Waktu terus berlalu, akhirnya bulan November datang dan saya memutuskan untuk membeli tiket berangkat dan pulang terlebih dahulu untuk penjelajahan bulan depan. Karena kami tidak terlalu mengejar waktu, ya akhirnya kami sepakat membeli tiket kereta Serayu rute Pasar Senen - Purwokerto yang harganya paling murah walaupun perjalanannya paling lama. Setelah tiket dibayar, yang ada rasa tidak sabar semakin mengguncang, katanya ingin cepat – cepat menjelajah kembali.



Kemudian, yang ada waktu berlalu terus begitu, hari pelaksanaan datang tepat tanggal 25 Desember, dan titik kumpul kami adalah di rumah Ridwan di daerah tanah kusir. Naas, saat hari pelaksanaan rombongan harus berkurang satu yaitu Ilmi karena Ilmi mengalami sedikit insiden yang mengakibatkannya gagal berangkat. Bagi kami berempat sisanya, kami tetap harus berangkat, karena semuanya sudah terlanjur.


Yasudah, setelah Shalat Ashar, carrier kamipun sudah rapi dikemas, dan yakin tak ada yang tertinggal, kami pun berangkat dari rumah Ridwan sekaligus berpamitan dengan kedua orang tuanya. Kami berangkat menuju Stasiun Pasar Senen menggunakan KRL dari stasiun Kebayoran dan langsung menuju Pasar Senen. Kami datang sangat awal sehingga harus menunggu agak lama, karena kereta kami baru akan berangkat pukul 21.00. Jelas saja, yang namanya kereta berangkat tidaklah pernah telat, kami tepat berangkat jam 21.00. Karena perjalanan akan memakan waktu yang tidak lama, kami mengisi waktu dengan banyak hal di dalam kereta.


Stasiun Manggarai


Tak terasa esok hari datang, dan perlahan – lahan udara ibukota yang biasa kami hirup pun seketika berubah menjadi lebih segar, wangi pedesaan dan pepohonan. Sayang, kereta kami terlambat sampai setengah jam dan cuaca turun hujan saat kami sampai, benar – benar bukan hal yang kami harapkan. Sampai sana kami langsung sarapan kemudian mencari kendaraan untuk menuju Baturraden, karena setelah berunding kami sepakat mendaki Gunung Slamet via Baturraden karena jaraknya paling dekat dengan Purwokerto, walaupun jalur pendakian paling favorit adalah via Bambangan.

Nasehat Sebelum Berangkat
Penjaga Pintu Kereta
Setelah memesan taksi online kami bertolak menuju Baturraden, yang perlu kalian ketahui, Gunung Slamet via Baturraden tidak memiliki basecamp yang berbentuk pos / rumah / gedung sehingga jika ingin mendaki dari Baturraden harus melapor kepada anggota Radenpala dahulu sebagai perizinan. Karena H-1 kami sudah melapor ke Radenpala hendak mendaki, akhirnya hari itu taksi online menurunkan kami di depan pintu Palawi tempat kami janjian dengan salah satu anggota Radenpala yang kami hubungi, yaitu Pak Dasirun. Setelah itu kami diantar menggunakan semacam angkot dari pintu Palawi menuju pintu rimba yang menurut penuturan Pak Dasirun jaraknya masih 3km dari pintu Palawi. Dan karena Baturraden bukan jalur yang bebas didaki, pintu rimba disini pun sangat dirahasiakan, bahkan saya sempat tidak percaya betapa rapihnya Radenpala menyembunyikan pintu rimba untuk menghindari pendaki yang tidak melapor untuk naik via Baturraden.
Pintu Palawi
Setelah itu, Pak Dasirun hanya bisa mengantar sampai pintu rimba dan dari sinilah perjalanan panjang kami mulai. Estimasi perjalanan sampai menuju puncak adalah 12 jam berjalan, dengan rencana mendirikan tenda di pos 4 dengan resiko kami sampai pos 4 sekitar jam 10 malam, perjalanan malam yang cukup beresiko.
Pos 1


Pacet


Kami mulai mendaki dari pintu rimba tepat jam 10.46 dengan kondisi cuaca yang tidak terang dan tidak hujan juga, saya rasa ini cukup baik, karena cuaca seperti ini pas untuk mendaki. Dengan kondisi jalur yang sangat tertutup, lembab, dan dipenuhi pacet, perjalanan menjadi sangat berat. Dan kami baru sampai pos 1 setelah 1 jam 15 menit berjalan, sekitar pukul 12.00. Tentu saja kami memilih istirahat terlebih dahulu sambil memeriksa seluruh badan apakah ada pacet yang menempel atau tidak. Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2, dan sayangnya di tengah perjalanan menuju pos 2, hujan turun dengan lebatnya yang memaksa kami harus menggunakan jas hujan supaya tidak terlalu basah.
Perjalanan menjadi terasa semakin sulit menuju pos 2, selain jarak yang jauh dari pos 1 ke pos 2, hujan juga menambah beban selama mendaki. Dan di tengah perjalanan, kami sempat berunding tetap mau mendirikan tenda di pos 2 atau pos 4. Karena saya pikir, jika memaksa mendaki sampai pos 4 dengan estimasi sampai sekitar jam 10 malam, itu adalah hal yang sangat beresiko. Akhirnya keputusan ditemukan, sehingga kami akan mendirikan tenda di pos 2 dengan resiko kami akan melakukan perjalanan menuju puncak lebih cepat, sekitar jam 11 malam sudah harus berjalan.


Pos Bayangan 2














Kami sampai di pos 2 jam 15.30, di ketinggian 1800 mdpl, kamipun sempat kaget, karena setelah 5 jam berjalan kami hanya naik 900 meter, karena ketinggian di pintu rimba tadi adalah 900mdpl. Titik start pendakian yang sangat rendah jika dibanding mendaki dari Bambangan yang dimulai di 1300mdpl. Setelah itu saya dan Ridwan kebagian mendirikan tenda, sedangkan Kemal dan Reynaldy saya minta untuk mengisi air yang lokasinya tepat di sebelah kiri pos 2. Setelah itu kami memasak, makan dan istirahat sekitar jam 17.30, supaya nanti malam punya tenaga lebih untuk berjalan 7 jam lagi menuju puncak.
 
String "Jalur Pendakian"





Singkatnya, jam 22.00 di hari yang sama alarm kami berbunyi dan saya yang pertama kali terbangun, kemudian saya membangunkan Ridwan untuk membantu saya memasak, sedangkan tetap membiarkan Kemal dan Reynaldy terus tertidur. Tapi, karena baru makan di sore harinya, akibatnya perut masih terasa kenyang dan saya memutuskan untuk merebus imukal saja untuk menambah stamina, setidaknya sampai besok siang ketika kami sampai tenda kembali. Tapi, sesuatu yang tidak diinginkan malah terjadi kembali, ketika jam 23.30 semua sudah siap, Ridwan minta perjalanan ditunda 30 menit karena merasa mual dengan isi perutnya. Yasudah kami merebahkan diri kembali 30 menit setelahnya. Dan Jam 00.00 kami mulai keluar tenda sekaligus kembali memakai pakaian tempur, diiringi dengan isi perut Ridwan yang tak sengaja juga keluar.



Setelah berdoa kembali, kami memulai perjalanan pukul 00.14 dengan estimasi 7 jam perjalanan, ya perjalanan yang sangat panjang dari ketinggian 1800mdpl ke 3428mdpl, untungnya cuaca malam itu sangat bersahabat, tak ada hujan walaupun pada awalnya bulan juga tak ingin muncul. Perjalanan malam itu setidaknya membuat saya sedikit tenang karena walaupun jalannya ditutupi hutan lebat, di jalur ini setiap beberapa meter sekali terdapat string yang bertuliskan “Jalur Pendakian” yang juga terlihat walaupun malam hari. Sambil berjalan, beberapa kali kami juga berhenti karena Ridwan terus memuntahkan isi perutnya, dan Ia tetap memaksakan ingin naik, mungkin karena tidak enak dengan kami bertiga. Padahal pikir saya, kalau memang ia tak kuat, saya turun pun tak apa, saya takut hal yang tidak – tidak malah terjadi pada dirinya, tapi karena keinginan kuat ia untuk tetap naik, sayapun percaya dia bisa melanjutkan perjalanan.
 
Ekspedisi Malam Hari

Kami terus berjalan sampai waktu menunjukan pukul 04.30 dan kami tiba di pos 4. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dan sampai di pos 5 pukul 05.45, dan tiba di Plawangan yaitu batas vegetasi pukul 06.30 di ketinggian 3100mdpl. Dari Plawangan saya semakin semangat, karena jika dilihat dari mata, jaraknya dekat sekali, tetapi ternyata jauh di kaki, sangat jauh. Akibat tubuh yang semakin drop, perjalanan menjadi semakin terasa berat dengan kemiringan jalur sekitar 70 derajat. Perlahan, perlahan akhirnya pukul 07.45 lah kami baru sampai di titik tertinggi Jawa Tengah, dengan perasaan campur aduk, terutama bagi Kemal dan Reynaldy, karena ini adalah pendakian pertama mereka. Ya tidak salah, ini adalah pendakian pertama mereka, dan langsung di Gunung Slamet, titik tertinggi Jawa Tengah. Itupun via Baturraden yang notabene jalurnya sangat panjang bukan dari Bambangan yang kita ketahui sebagai jalur favorit karena lebih pendek jalurnya.
 
Plawangan dari Bawah




PUNCAK SURONO




Di puncak inilah kami baru menemukan pendaki lain, karena yang saya bilang di awal Baturraden bukanlah jalur yang bebas diakses yang mengakibatkan selama mendaki kami tidak bertemu dengan siapapun begitupun nanti ketika turun. Setelah berfoto jam 08.30 kami turun dari puncak, dan sempat bingung mencari jalur ke batas vegetasi yang akan kami lewati, sehingga estimasi saya 45 menit sudah menemui vegetasi lagi malah mundur menjadi 2 jam untuk muter – muter di Plawangan. Dengan kemiringan trek yang lumayan membuat kami turun menjadi sangat cepat, dan jam 12.55 kami sudah di tenda lagi, kemudian memasak sekaligus bersiap untuk turun.


Plawangan dari Atas

Setelah semuanya rapih tepat pukul 15.30 kami langsung turun melalui jalur yang sama, kemudian sampai di pintu rimba pukul 18.15. Dengan fisik yang sangat lelah sekali akibat berjalan selama 18 jam, perjalanan yang sangat jauh. Setelah itu kami bertemu dengan Pak Dasirun kembali yang sebelumnya sudah kami hubungi ketika kami di pos bayangan 1. Dari pintu rimba kami mencarter angkot, kawan dari Pak Dasirun ke depan Universitas Jendral Soedirman sekaligus berkunjung, di sana kami makan angkringan sekaligus meminta Om Adi yang kebetulan sedang berada di Banyumas di rumah sanak saudaranya untuk menjemput kami dan untungnya Om Adi bersedia menampung kami di kediamannya sampai waktu kepulangan kami tiba nanti, 30 Desember. Itu tandanya, penjelajahan belum selesai.
 
Desa Kejawar, bersama Tante Ai
Banyak sekali hal yang dapatkan dalam pendakian tanah tertinggi Jawa Tengah, lelah, berserah, pasrah. Semua saya dapatkan, apalagi membawa kawan baru dalam pendakian itu juga merupakan kebahagiaan tersendiri untuk saya. Dan tetap belajar bersabar ketika menghadapi teman yang sedang tidak terlalu sehat, juga menjadi catatan untuk saya supaya mendaki lebih hati – hati lagi. Dan hal yang paling saya dalami adalah seperti slogan kami “Tabah Sampai Akhir”

Bersambung........

-Imam Panji

Sabtu, 08 Desember 2018

Tentang Foto yang Berhasil Mengubah Jalan Hidupku

Banyak hal di dunia ini yang dapat merubah jalan hidup seseorang, merubah yang lebih baik ataupun menjadi semakin buruk. Dan mungkin, hasil jepretan kamera dapat menjadi alasan yang tepat, mengapa hidup saya berubah.

Seperti yang pernah saya katakan di awal blog ini terbentuk, saya adalah Imam Panji, entah mengapa jalan hidup saya menjadi seperti ini sekarang. Saya yang semakin bertambah usia, tumbuh menjadi seorang pendaki gunung, pengelana, dan juga penulis blog. Tidak semua hal itu serta – merta saya lakukan tanpa alasan. Banyak pertanyaan yang bunyinya kenapa saya mendaki gunung, kenapa saya berkendara jauh dengan sepeda motor, atau mengapa saya menulis. Semua itu tidak ada yang pernah salah, semua orang berhak melontarkan pertanyaan atas apa yang mereka ingin tahu. Dan saya, akan menjawabnya.

Dahulu, entah beberapa tahun yang lalu, hidup saya hanyalah hidup anak sekolah dasar yang tak tau menau tentang apa itu Indonesia, apa isi negeri ini, dan apa yang harus saya cari. Semua berubah, sesederhana karena saya berhasil melihat foto yang tercetak di album lawas ayah saya. Seperti yang sudah pernah saya katakan, hati saya mulai terketuk untuk mendaki gunung ketika saya berhasil menemukan foto ayah di Mahameru tahun 1999 silam. Dan sebenarnya tak hanya Mahameru, saya berhasil menemukan foto ayah muda di Gunung Salak, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Gede. Ditemukannya foto – foto itu beriringan dengan pertanyaan yang seperti biasa saya dapatkan “Kenapa ayah mendaki gunung ?” dan sekarang pertanyaan itu dapat saya jawab sendiri tanpa perlu ayah menjawabnya.

Entah mengapa sewaktu melihat foto tersebut, hati saya ingin melakukan pendakian, padahal saat menemukannya saya tidak tahu apa – apa tetapi memiliki keinginan untuk tahu yang sangat besar, itu kuncinya. Sampai hidup saya terus berlalu, hidup saya terus berjalan, saya berhasil melakukan pendakian perdana di Gunung Papandayan, gunung yang tidak akan saya lupakan, dan terakhir kemarin Lawu sudah saya singgahi dan juga pendakiannya dilakukan bersama orang yang telah menularkan semuanya “ayah”.

Dan keputusan untuk menjadi seorang pendaki gunung tidaklah mudah sebenarnya, banyak yang harus dilakukan, termasuk berbohong kepada bunda sewaktu saya melakukan pendakian di Merbabu tahun 2016. Kategori itu sebenarnya bukan termasuk berbohong juga, lebih tepatnya telat mengabarkan bahwa saya akan mendaki. Jadi, setelah tiket kereta di tangan, barulah saya coba berbicara supaya saya mendapatkan izin untuk berangkat. Dan itu bukan pengorbanan yang satu – satunya. Pengorbanan yang setiap kali dirasakan mendaki gunung juga tak kalah hebat, harus menyiapkan fisik yang prima, mental yang siap, dan tukang urut yang tepat ketika sudah sampai rumah setelah melakukan pendakian. Karena nyeri di kaki setelah pendakian gunung itu tidak akan hilang sampai 2 – 3 hari ke depan, tapi itu kalau yang saya rasakan, entah kalau pendaki lain.

Dan satu tambahan yang mungkin kalian juga harus ketahui, pendakian ayah di Semeru tahun 1999 adalah pendakian terakhir ayah sebelum ayah mulai mendaki lagi di tahun 2015, bersama kedua anaknya. Ya, setelah 16 tahun lamanya.
Ayah di Puncak Gede

Mahameru 1999

Ya mungkin memang seperti itu, banyak hal yang dapat merubah jalan hidup seseorang, termasuk kalian, saya, orang – orang di luar sana. Tapi yang perlu diingat, setiap orang punya hal yang berbeda – beda tentang sesuatu apa yang akan mengubah jalan hidupnya. Dan menjadi orang yang berubah setelah melihat sebuah foto bukanlah hal yang salah menurut saya. Dan kalian semua juga tidak harus berubah setelah melihat foto orang tua kalian di masa lalu, karena kalian juga punya hal lain yang tidak mungkin sama juga dengan saya, atau mungkin ada yang sama ?

Ok, mungkin sekian dulu tentang cerita yang sekarang. Mungkin kalian juga bisa membagikan kisah kalian di kolom komentar tentang apa – apa yang telah berhasil merubah jalan hidup kalian. Demikian kisahnya. SEBARKAN !

Tetap terpelajar,

-Imam Panji