Jumat, 03 Mei 2019

Dadakan

Semua hal di dunia ini memerlukan rencana agar berjalan dengan baik. Namun kadang rencana tersebut terpaksa harus gagal karena beberapa hal.

Masih di bulan yang sama, April 2019. Sangat beruntung karena dapat menjelajah kembali bersama keluarga tercinta. Setelah direncanakan matang - matang dari bulan Januari 2019. Rencana berangkat tanggal 18 April 2019. Karena kecerobohan sendiri, kami baru memutuskan untuk membeli tiket bus ke Wonsobo H-1 padahal saat itu adalah libur panjang. Sudah bisa ditebak, kami kehabisan tiket untuk tanggal 18 April, dan dengan sangat mendadak memutuskan berangkat hari itu saja padahal belum mengemas barang - barang sama sekali. Saat itu pukul 13.30 dan bus akan berangkat menuju Wonosobo dari Ciputat pukul 17.30. Sudah bisa dibayangkan ?

Dengan mudahnya rencana yang disusun dari Januari hancur begitu saja. Di rumah mengemas barang dengan sangat terburu - buru dan tidak karuan. Sekelibat barang berhasil masuk di tas carrier pukul 15.00 dan masih punya waktu untuk merapihkan badan.

Singkat berhasil sampai di Ciputat jam 16.30, namun baru tersadar ada beberapa yang tertinggal, ya mungkin karena dadakan itu tadi. Beras, korek, tertinggal semua di rumah, padahal beras begitu pentingnya. Yasudah karena terlanjur yang penting berangkat dulu ke Wonosobo nanti bisa dilengkapi disana, gitu pikirnya.

Basecamp
Bus melaju, kemudian sampai di Wonosobo dini harinya sekitar pukul 4 pagi. Saat itu juga tidak langsung memutuskan untuk menuju Patak Banteng, tetapi istirahat di terminal sebentar sambil menunggu loket bus buka untuk membeli tiket pulang esok harinya. Sekitar jam 8 pagi baru menuju Patak Banteng, dan melakukan pendakian pukul 10 pagi, dengan estimasi mendaki 3 jam berjalan dengan jarak 500 meter vertikal.

Kondisi Trek











Sebenarnya saya sempat ragu akan sampai 3 jam karena mendaki bersama bunda dan Cantika, tetapi ragu saya sangat salah karena kami berhasil sampai jam 13.30. Waktu yang masih tidak jauh dari estimasi mendaki. Sampai di atas lansung mendirikan tenda dan memasak untuk makan siang. Dan disini efek dadakan kembali baru disadari, kami tidak membawa logistik selain 5 bungkus mie instan, dan beras 1/2 liter yang kami beli di basecamp. Kami juga tidak membawa kopi atau teh atau minuman yang bisa menghangatkan tubuh. Disinilah baru disadari bahwa rencana memang sangat penting untuk dibuat.
Daisy Daisy










Dengan logistik seadanya dan harus cukup sampai besok pagi, apa boleh buat harus dimanfaatkan. Siang itu dipakai untuk istirahat, dan rencana baru menikmati suasana puncak esok paginya. Namun, cuaca malah tidak bersahabat, berkabut sepanjang malam sampai pagi yang mengakibatkan tidak dapat pemandangan apa - apa selain warna putih di depan mata. Padahal harapannya kami dapat melihat Sindoro - Sumbing dari arah Timur namun kembali gagal.
Kabut











Sekitar pukul 08.00 kami sudah siap untuk turun, dan sampai di bawah jam 10.00 kemudian langsung makan nasi dan lauk yang sangat kami rindukan, maklum semalaman kemarin hanya makan mie instan. Langsung merapihkan badan dan berhubung itu hari Jumat, saya dan ayah Shalat Jumat di masjid terdekat dan baru melesat menuju Terminal Mendolo pukul 13.00 dan bus menuju Lebak Bulus akan berangkat pukul 16.00.

Perjalanan pulang terasa begitu cepat, mungkin karena itu malam hari dan kami kelelahan yang mengakibatkan di dalam bus lebih banyak diisi dengan tidur. Setelah sampai di Lebak Bulus, kami langsung bertolak menuju rumah.

Dengan terpaksa, sebagian hal yang dilakukan harus terjadi secara dadakan walaupun sudah direncanakan. Di samping itu kita perlu mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika suatu hal kita lakukan secara dadakan. Namun perjalanan yang dilakukan secara mendadak nantinya juga akan mendidik kita bahwa rencana dan persiapan sangatlah diperlukan. Sekian.

-Imam Panji

Mengulang Hal yang Sama

April tahun lalu, ada penjadwalan untuk mengunjungi jembatan gantung terpanjang di Asia yang kebetulan terletak di Sukabumi. Kecewanya karena kekurangan informasi, saat itu jembatan belum dibuka, mau tidak mau hal tersebut tertunda dan saya harus mengulangnya.

Alasan tersebutlah yang membuat saya harus datang kembali ke Sukabumi untuk menunaikan rasa penasaran bagaiimana rasanya melewati jembatan gantung sepanjang 250 meter dan menggantung 150 meter dari atas tanah. Karena sesekali perjalanan tidak perlu rencana saat itu pula juga saya dengan segenap keluarga dengan tanpa rencana dan bertolak ke Sukabumi tepat April setelahnya di tanggal 3.

Perjalanan membutuhkan waktu 3 jam dari rumah dengan kondisi jalanan yang tidak terlalu ramai mungkin karena masih pagi. Namun sesampainya disana sekitar pukul 9, ternyata keadaannya berbanding terbalik dengan jalanan yang kami lalui, kondisi disana sangat sangat sangat sangat ramai.

Suspension Bridge Situ Gunung !!!
Sampai disana karena kondisi pengunjung yang sangat ramai, saya harus mengantri sekitar 1 jam untuk melewati jembatan tersebut. Jika boleh menerka - nerka, mungkin saat itu terdapat 1500 orang pengunjung yang hadir, dapat dibayangkan betapa ramainya. Tapi masalah keamanan tidak perlu diragukan karena saat naik ke jembatan kita difasilitasi carrabiner jika sewaktu - waktu terjadi masalah di atas jembatan, dan kapasitas maksimal jembatan juga 150 orang, itulah alasan mengapa harus mengantri saat naik.
View

Setelah menyebrang diselingi foto sedikit - sedikit, karena maklum kondisi yang sangat ramai mengharuskan saya berjalan agak cepat karena banyak orang juga yang ingin lewat. Kami meneruskan jalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju Curug Sawer, seperti namanya debit air Curug Sawer sangat deras sehingga sangat dilarang untuk berenang / mandi tepat di bawah tempat terjunnya air.

Curug Sawer
Karena tak bawa baju ganti juga, di curug hanya rendam - rendam kaki dan cuci muka sehabis itu kembali lagi menuju parkiran karena kebetulan rasa penasaran yang timbul di April 2018 sudah berhasil dibayar di April 2019.

Perjalanan Pulang
Dalam beberapa hal kita dipaksa untuk mengulang hal yang sama karena sebelumnya hal itu gagal atau kita ketagihan. Namun disaat kita mengulang karena gagal, bukan berarti sebelumnya kita orang yang lemah, kita akan dituntun untuk menjadi orang yang lebih kuat. Salam sayang.

-Imam Panji

Rabu, 01 Mei 2019

Orang Pertama

Semua orang di dunia ini berhak menjadi orang pertama, dalam apapun itu. Saya dan kami salah dua yang memiliki kesempatan itu.

 








Bulan lalu, Ibukota sempat gempar dan ramai akibat beroperasinya MRT Jakarta untuk pertama kalinya. Berbondong - bondong rakyat ingin merasakan sensasinya apalagi terdapat layanan gratis yang dilakukan dari 12 - 24 Maret 2019. Berkesempatan menjadi salah satu yang merasakannya pun saya sangat antusias melakukannya.

Mendapat kesempatan pada tanggal 22 Maret 2019, setelah selesai melaksanakan Ujian Sekolah hari terakhir, saya langsung bertolak dengan *ehem* Rizka dari sekolah menuju Stasiun MRT Lebak Bulus, kebetulan perjalanan kali ini saya senang berhasil mengajaknya menikmati MRT Jakarta dengan Ayah Bunda sekaligus Cantika.

Kamu.
Kami mengambil sesi terakhir pada hari itu tepat jam 14.00 - 16.00 WIB, setelah menunjukan e-ticket kami naik tangga sambil melihat - lihat betapa masih rapihnya stasiun ini. 

Ketepatan Waktu tak dapat dihiraukan lagi, gerbong melaju tepat jam 14.00 dengan sentakan yang saya sedikit terkejut. Karena jujur, akselerasi MRT sangat berbeda dengan KRL, atau mungkin karena armada MRT ini baru ? Atau hanya perasaan saya saja ?

Pahlawan
Malaikat, Anak Malaikat










Tujuan kami tentu ya stasiun akhir yaitu Hotel Indonesia, sesampainya disana kami sempat sedikit menikmati bundaran Hotel Indonesia, namun karena hari itu tepat juga dengan pengumuman SNMPTN, Bunda memaksa saya dan Rizka untuk melihat hasil kami berdua, naas hasilnya tertulis "maaf", sontak setelah itu suasana berubah menjadi lebih muram hehe.

Ya namun itulah kehidupan, kadang keberuntungan tidak berpihak kepada kita karena suatu alasan. Setelah itu yang saya lakukan hanya berusaha menenangkan suasana walaupun hati saya pun juga tak karuan karena mendapatkan latar merah di pengumuman saya, tapi saya berusaha mengerti bahwasanya perempuan memang lebih perasa.

Kemudian, ya kita pulang kembali lagi ke Lebak Bulus karena kami tidak boleh lewat dari jam 16.00 atau kami pulang dengan kendaraan lain.

Saya minta maaf jikalau tulisan ini sangat pendek sekali, saya hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya menikmatinya waktu itu. Lagipula tulisan ini juga untuk merayakan kembalinya saya setelah 4 bulan tidak menulis disini karena berbagai hal. Atau mungkin ada yang juga ingin berbagi pengalaman menaiki MRT Jakarta ? Atau belum punya waktu merasakannya ? Atau malah ada juga yang tidak lolos SNMPTN ? Bisa juga dibagikan dengan yang lainnya, karena apapun yang terjadi kita tetap harus kuat dan tegar :)

Tentang judul tulisan ini, memang seperti itu, beberapa orang di dunia ini memang berkesempatan menjadi yang pertama, atau malah ada yang berharap menjadi yang terakhir, atau lebih dalam lagi ada yang berharap menjadi pertama dan terakhir. Termasuk kami yang menjadi salah satu pertama merasakannya, atau saya yang menjadi pertama miliknya. Di paragraf ini saya hanya ingin jujur, paragraf terakhir untukmu, takut kamu tidak menyadarinya.

Teruntukmu (Lagi),

-Imam Panji

Ayah + Bunda + Cantika = Captain Marvel

Selasa, 01 Januari 2019

Perjalanan Akhir Tahun #2

Saya percaya, apapun itu harus dibayar tuntas. Termasuk perjalanan yang harus diselesaikan, lalu jadi kenangan.

Setelah sampai di Banyumas pada malam harinya, kami tak melakukan banyak hal. Karena kami sudah sampai di dataran yang lebih rendah, kami langsung membersihkan badan dan pakaian kami yang sudah basah dan dipenuhi oleh tanah. Dikarenakan kami sudah sempat makan di dekat UNSOED, disana pun kami tetap dijamu dengan makanan tapi karena kondisi perut masih kenyang, kami tidak makan terlalu banyak. Dan setelah itu, kami pun tidur di tempat yang telah disediakan, di kediaman Mbah Tamsi.

Keesokan harinya pun, kami bangun sekitar jam 6 pagi dengan kondisi badan yang masih kurang enak dan terasa masih sangat pegal, ya sisa dari pendakian di hari kemarin. Saat bangun pun, kami langsung disuguhkan teh, sesuatu yang tidak terduga oleh saya karena disini kami benar – benar diistimewakan. Sampai waktu sekitar jam 08.30 lah kami baru keluar dari kediaman Mbah Tamsi, dan berhubung di dekat kediaman Mbah Tamsi ada seperti aliran air yang lumayan besar, dan kebetulan airnya jernih, kamipun memutuskan untuk membilas pakaian – pakaian kami supaya tanahnya tidak keburu kering ketika sampai rumah nanti, sekaligus bermain air di aliran tersebut.

Nampaknya kami sangat bahagia bermain air, sesuatu yang tidak kami dapatkan ketika kami berada di ketinggian. Kami menyelam, berjalan, berfoto, dan segalanya di atas air, sampai waktu menunjukan sekitar pukul 10.30 dan kami memutuskan untuk menyudahi aktivitas kami di dalam air dan kemudian menjemur pakaian dan peralatan kami yang sudah dicuci tadi. Dan berhubung kami belum sarapan, setelah menjemur pakaian pun, kami sarapan terlebih dahulu untuk mengisi perut yang sudah sedari tadi demo minta diisi. Setelah kami makan, kami mandi untuk persiapan Shalat Jumat karena hari itu bertepatan dengan hari Jumat yang mengharuskan kami sebagai laki – laki muslim harus melaksanakannya.
Bidadara Kayangan

Sampai setelah shalat Jumat pun tak banyak yang kami lakukan, kami hanya bersantai berhubung semuanya telah selesai. Di sekitar jam 1430 an saya ditelfon Om Adi untuk datang ke sungai yang tadi sudah saya gunakan untuk mandi, dan sesampainya disana ternyata sudah tersedia kelapa yang sudah dipetik dan akan kami minum, begitu segarnya sore itu. Tetapi, di malam hari kami bertolak menuju alun – alun Banyumas untuk berjumpa dengan kak Lia, salah satu kakak kelas kami di sekolah yang sudah lulus 2017 lalu dan kemudian melanjutkan studi di Fakultas Teknik UNSOED yang terletak di Purbalingga. Kami berjanji dengan kak Lia untuk bertemu jam 21.00 di alun – alun, tetapi berhubung kak Lia adalah seorang mahasiswi, hal itu mengakibatkan kak Lia terlambat datang sekitar 45 menit dari waktu yang telah ditentukan.
Yang Dua dan Besar itu Lebih Baik

Sruput Gan

Penari Piring

Karena hubungan kami berempat cukup dekat dengan kak Lia, membuat kami berbincang dengannya pun sangat lancar, kami saling bercerita tentang kehidupan yang dijalani setelah lama tidak bertemu. Kami bercerita tentang pendakian kami, kak Lia pun begitu bercerita tentang kehidupan masa kuliahnya selama ini, dan karena kak Lia lebih pengalaman dari kami, Ia juga memberi nasihat kepada kami apa yang harus kami lakukan jika nantinya telah lulus dari SMA. Sambil berbincang dengan kak Lia ditemani segelas wedang jahe, dan waktu tidak terasa menunjukkan pukul 23.30 dan kami pun pamit dengan kak Lia, begitupun kak Lia yang juga pamit dengan kami.

Hayuuuu

Lalu, esok harinya ketika jam sudah menunjukkan angka 5, kamipun ikut dengan keluarga besar Om Adi untuk bertolak menuju Candi Borobudur, ya candi budha terbesar. Kami berangkat sekitar 35 an orang dengan kendaraan 2 unit elf yang sudah kami sewa. Perjalanan dimulai pukul 5 dan sampai di Candi Borobudur sekitar jam 08.30 dengan kondisi Borobudur yang sangat ramai sekali dengan manusia.

Sehabis itu kami semua masuk ke kawasan candi dengan berjalan kaki, kemudian berfoto ria disana, khusus kami berempat, kami sekalian menikmati Merbabu, Merapi, dan Sumbing di kejauhan sana. Sayangnya Sindoro tidak terlihat karena tertutup dengan Gunung Sumbing. Sampai di Borobudur sekitar jam 13, kemudian kami langsung keluar dan menuju destinasi berikutnya, yaitu Goa Jatijajar yang terletak di Kebumen.
4 Serangkai

Hiyaaa

Oppaaaaa

Dilan, Milea

Namun, mungkin karena belum makan siang, di tengah perjalanan Ridwan kembali merasa tidak enak dengan isi perutnya, dan kemudian setelah turun dan persis di depan rumah makan, Ridwan kembali menegluarkan isi perutnya. Benar – benar perjalanan yang sangat tidak nyaman untuk Ridwan kali ini. Setelah makan perjalanan berlanjut dan samapi di goa Jatijajar sekitar 16.45, dan kondisi Goa sepi, karena sudah mau tutup, tapi kami masih sempat melihat – lihat isinya.

Di dalam Goa kondisinya sangat rapih, sudah dilapisi keramik, terdapat relief – relief yang sepertinya anggota kerajaan dengan beberapa monyet yang sedang bertarung, saya kurang mengerti tentang siapa relief ini bercerita, hanya itu yang dapat saya simpulkan. Di dalam Goa juga terdapat aliran sungai bawah tanah yang katanya tidak akan kering walaupun terjadi kemarau panjang.
Sekitar tepat adzan maghrib lah kami sudah di dalam elf untuk kembali ke Banyumas dengan penuh cerita hari itu. Lalu, malam itu kami tidur lebih awal karena esok, adalah hari dimana penjelajahan kami selesai, ya 30 Desember 2018.
Pintu Masuk

Salah Satu Patung di Dalam Goa

Paginya kami bangun jam 04.00, dan saya langsung meminta semuanya untuk mandi, tapi tidak dengan Reynaldy, Ia bersikukuh tidak ingin mandi, entah apa alasannya. Setelah semua rapih, sudah mandi, sudah sarapan, dan tak ada barang yang tertinggal, kami berfoto dengan keluarga disana yang sudah sangat bersedia menampung kami yang merepotkan, tentu saja foto itu akan kami berempat kenang, karena jujur, keluarga disana jugag kurang rela saya pulang hari itu, mereka pikir kami akan pulang setelah malam tahun baru, dan merayakan tahun baru disana.

Yasudah, pukul 06.20 kami diantar menggunakan mobil ke Stasiun Kroya karena kereta kami akan berangkat pukul 07.25. Dan itu benar – benar momen terakhir kami dengan keluarga di Banyumas, keluarga yang sangat amat baik. Kemudian kereta datang, kami masuk, dan bertolak menuju Jakarta kembali. Jam 17.20 kami sampai di stasiun Jatinegara, dan menggunakan KRL untuk melanjutkan perjalanan, Reynaldy yang menuju stasiun Pasar Minggu, Ridwan dan Kemal ke Stasiun Kebayoran, dan saya menuju stasiun Rawa Buntu. Dan setelah itu, perjalanan 5 hari kami, tandanya telah usai.
 
Keluarga yang amat - amat baik, yang ingin menjamu kamu. TERIMA KASIH



Sekali lagi, banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini, dan tentang menuntaskan sebuah perjalanan adalah sebuah kewajiban, tapi ingat setelah perjalanan itu selesai semua itu hanya akan jadi kenangan yang sangat indah jika diingat. Dan kalau memang diberi kesempatan lagi, kami berempat pun ingin sekali berkunjung ulang ke Banyumas untuk menuntaskan, bukan menuntaskan perjalanan kami, tapi menuntaskan kerinduan kami. Pada akhirnya, seperrti yang saya bilang di awal cerita. Perjalanan jauh akan membuat kalian tahu siapa teman kalian yang sesungguhnya, begitupun kami. Kami saling tahu kekuatan kami, kelemahan kami, sifat kami, dan tentu saja bau kentut kami. Dan di antara perbedaan - perbedaan itulah yang menjadi kekuatan dan menuntut kami untuk saling mengerti

Oke sekian dulu cerita kali ini, jika kalian cerita ini layak dibaca oleh orang banyak kalian boleh menyebarkanya ke siapapun, dan jika ada kritik untuk penulisan saya, silahkan jabarkan di kolom komentar dengan bahasa yang santun dan sopan. Syahdan, sekian.

Tetap terpelajar,

-Imam Panji

Senin, 31 Desember 2018

Perjalanan Akhir Tahun #1

Perjalanan jauh akan membuat kalian tahu, siapa orang yang benar – benar menjadi kawan kalian. Dan dengan bangga saya berhasil melakukannya.


Ya seperti itulah perjalanan jauh kali ini terjadi, dengan sedikit kebanggaan. Semua berawal dari akibat adanya libur panjang yang diakibatkan oleh masa pelajaran yang telah habis di semester ganjil dan diperlukan istirahat sekitar 2 mingguan sebelum berlanjut ke semester genap. Hal ini tentu saja tak boleh dilewatkan, apalagi untuk saya. Keputusan itu membuat kami, iya kami, memutuskan untuk menjelajah, Jawa Tengah tepatnya.



Rencana berawal dari bulan Oktober, 2 bulan sebelum hari pelaksanaan, setelah ajak kawan sana – sini. Akhirnya tim berjumlah 5 orang, yaitu Saya, Kemal, Reynaldy, Ridwan, dan juga Ilmi. Dari bulan Oktober juga lah kami memulai persiapan terutama persiapan fisik, supaya perjalanan tidak terlalu menyiksa nantinya. Karena sudah pasti, penjelajahan kali ini akan menguras tenaga maupun mental.



Waktu terus berlalu, akhirnya bulan November datang dan saya memutuskan untuk membeli tiket berangkat dan pulang terlebih dahulu untuk penjelajahan bulan depan. Karena kami tidak terlalu mengejar waktu, ya akhirnya kami sepakat membeli tiket kereta Serayu rute Pasar Senen - Purwokerto yang harganya paling murah walaupun perjalanannya paling lama. Setelah tiket dibayar, yang ada rasa tidak sabar semakin mengguncang, katanya ingin cepat – cepat menjelajah kembali.



Kemudian, yang ada waktu berlalu terus begitu, hari pelaksanaan datang tepat tanggal 25 Desember, dan titik kumpul kami adalah di rumah Ridwan di daerah tanah kusir. Naas, saat hari pelaksanaan rombongan harus berkurang satu yaitu Ilmi karena Ilmi mengalami sedikit insiden yang mengakibatkannya gagal berangkat. Bagi kami berempat sisanya, kami tetap harus berangkat, karena semuanya sudah terlanjur.


Yasudah, setelah Shalat Ashar, carrier kamipun sudah rapi dikemas, dan yakin tak ada yang tertinggal, kami pun berangkat dari rumah Ridwan sekaligus berpamitan dengan kedua orang tuanya. Kami berangkat menuju Stasiun Pasar Senen menggunakan KRL dari stasiun Kebayoran dan langsung menuju Pasar Senen. Kami datang sangat awal sehingga harus menunggu agak lama, karena kereta kami baru akan berangkat pukul 21.00. Jelas saja, yang namanya kereta berangkat tidaklah pernah telat, kami tepat berangkat jam 21.00. Karena perjalanan akan memakan waktu yang tidak lama, kami mengisi waktu dengan banyak hal di dalam kereta.


Stasiun Manggarai


Tak terasa esok hari datang, dan perlahan – lahan udara ibukota yang biasa kami hirup pun seketika berubah menjadi lebih segar, wangi pedesaan dan pepohonan. Sayang, kereta kami terlambat sampai setengah jam dan cuaca turun hujan saat kami sampai, benar – benar bukan hal yang kami harapkan. Sampai sana kami langsung sarapan kemudian mencari kendaraan untuk menuju Baturraden, karena setelah berunding kami sepakat mendaki Gunung Slamet via Baturraden karena jaraknya paling dekat dengan Purwokerto, walaupun jalur pendakian paling favorit adalah via Bambangan.

Nasehat Sebelum Berangkat
Penjaga Pintu Kereta
Setelah memesan taksi online kami bertolak menuju Baturraden, yang perlu kalian ketahui, Gunung Slamet via Baturraden tidak memiliki basecamp yang berbentuk pos / rumah / gedung sehingga jika ingin mendaki dari Baturraden harus melapor kepada anggota Radenpala dahulu sebagai perizinan. Karena H-1 kami sudah melapor ke Radenpala hendak mendaki, akhirnya hari itu taksi online menurunkan kami di depan pintu Palawi tempat kami janjian dengan salah satu anggota Radenpala yang kami hubungi, yaitu Pak Dasirun. Setelah itu kami diantar menggunakan semacam angkot dari pintu Palawi menuju pintu rimba yang menurut penuturan Pak Dasirun jaraknya masih 3km dari pintu Palawi. Dan karena Baturraden bukan jalur yang bebas didaki, pintu rimba disini pun sangat dirahasiakan, bahkan saya sempat tidak percaya betapa rapihnya Radenpala menyembunyikan pintu rimba untuk menghindari pendaki yang tidak melapor untuk naik via Baturraden.
Pintu Palawi
Setelah itu, Pak Dasirun hanya bisa mengantar sampai pintu rimba dan dari sinilah perjalanan panjang kami mulai. Estimasi perjalanan sampai menuju puncak adalah 12 jam berjalan, dengan rencana mendirikan tenda di pos 4 dengan resiko kami sampai pos 4 sekitar jam 10 malam, perjalanan malam yang cukup beresiko.
Pos 1


Pacet


Kami mulai mendaki dari pintu rimba tepat jam 10.46 dengan kondisi cuaca yang tidak terang dan tidak hujan juga, saya rasa ini cukup baik, karena cuaca seperti ini pas untuk mendaki. Dengan kondisi jalur yang sangat tertutup, lembab, dan dipenuhi pacet, perjalanan menjadi sangat berat. Dan kami baru sampai pos 1 setelah 1 jam 15 menit berjalan, sekitar pukul 12.00. Tentu saja kami memilih istirahat terlebih dahulu sambil memeriksa seluruh badan apakah ada pacet yang menempel atau tidak. Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2, dan sayangnya di tengah perjalanan menuju pos 2, hujan turun dengan lebatnya yang memaksa kami harus menggunakan jas hujan supaya tidak terlalu basah.
Perjalanan menjadi terasa semakin sulit menuju pos 2, selain jarak yang jauh dari pos 1 ke pos 2, hujan juga menambah beban selama mendaki. Dan di tengah perjalanan, kami sempat berunding tetap mau mendirikan tenda di pos 2 atau pos 4. Karena saya pikir, jika memaksa mendaki sampai pos 4 dengan estimasi sampai sekitar jam 10 malam, itu adalah hal yang sangat beresiko. Akhirnya keputusan ditemukan, sehingga kami akan mendirikan tenda di pos 2 dengan resiko kami akan melakukan perjalanan menuju puncak lebih cepat, sekitar jam 11 malam sudah harus berjalan.


Pos Bayangan 2














Kami sampai di pos 2 jam 15.30, di ketinggian 1800 mdpl, kamipun sempat kaget, karena setelah 5 jam berjalan kami hanya naik 900 meter, karena ketinggian di pintu rimba tadi adalah 900mdpl. Titik start pendakian yang sangat rendah jika dibanding mendaki dari Bambangan yang dimulai di 1300mdpl. Setelah itu saya dan Ridwan kebagian mendirikan tenda, sedangkan Kemal dan Reynaldy saya minta untuk mengisi air yang lokasinya tepat di sebelah kiri pos 2. Setelah itu kami memasak, makan dan istirahat sekitar jam 17.30, supaya nanti malam punya tenaga lebih untuk berjalan 7 jam lagi menuju puncak.
 
String "Jalur Pendakian"





Singkatnya, jam 22.00 di hari yang sama alarm kami berbunyi dan saya yang pertama kali terbangun, kemudian saya membangunkan Ridwan untuk membantu saya memasak, sedangkan tetap membiarkan Kemal dan Reynaldy terus tertidur. Tapi, karena baru makan di sore harinya, akibatnya perut masih terasa kenyang dan saya memutuskan untuk merebus imukal saja untuk menambah stamina, setidaknya sampai besok siang ketika kami sampai tenda kembali. Tapi, sesuatu yang tidak diinginkan malah terjadi kembali, ketika jam 23.30 semua sudah siap, Ridwan minta perjalanan ditunda 30 menit karena merasa mual dengan isi perutnya. Yasudah kami merebahkan diri kembali 30 menit setelahnya. Dan Jam 00.00 kami mulai keluar tenda sekaligus kembali memakai pakaian tempur, diiringi dengan isi perut Ridwan yang tak sengaja juga keluar.



Setelah berdoa kembali, kami memulai perjalanan pukul 00.14 dengan estimasi 7 jam perjalanan, ya perjalanan yang sangat panjang dari ketinggian 1800mdpl ke 3428mdpl, untungnya cuaca malam itu sangat bersahabat, tak ada hujan walaupun pada awalnya bulan juga tak ingin muncul. Perjalanan malam itu setidaknya membuat saya sedikit tenang karena walaupun jalannya ditutupi hutan lebat, di jalur ini setiap beberapa meter sekali terdapat string yang bertuliskan “Jalur Pendakian” yang juga terlihat walaupun malam hari. Sambil berjalan, beberapa kali kami juga berhenti karena Ridwan terus memuntahkan isi perutnya, dan Ia tetap memaksakan ingin naik, mungkin karena tidak enak dengan kami bertiga. Padahal pikir saya, kalau memang ia tak kuat, saya turun pun tak apa, saya takut hal yang tidak – tidak malah terjadi pada dirinya, tapi karena keinginan kuat ia untuk tetap naik, sayapun percaya dia bisa melanjutkan perjalanan.
 
Ekspedisi Malam Hari

Kami terus berjalan sampai waktu menunjukan pukul 04.30 dan kami tiba di pos 4. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dan sampai di pos 5 pukul 05.45, dan tiba di Plawangan yaitu batas vegetasi pukul 06.30 di ketinggian 3100mdpl. Dari Plawangan saya semakin semangat, karena jika dilihat dari mata, jaraknya dekat sekali, tetapi ternyata jauh di kaki, sangat jauh. Akibat tubuh yang semakin drop, perjalanan menjadi semakin terasa berat dengan kemiringan jalur sekitar 70 derajat. Perlahan, perlahan akhirnya pukul 07.45 lah kami baru sampai di titik tertinggi Jawa Tengah, dengan perasaan campur aduk, terutama bagi Kemal dan Reynaldy, karena ini adalah pendakian pertama mereka. Ya tidak salah, ini adalah pendakian pertama mereka, dan langsung di Gunung Slamet, titik tertinggi Jawa Tengah. Itupun via Baturraden yang notabene jalurnya sangat panjang bukan dari Bambangan yang kita ketahui sebagai jalur favorit karena lebih pendek jalurnya.
 
Plawangan dari Bawah




PUNCAK SURONO




Di puncak inilah kami baru menemukan pendaki lain, karena yang saya bilang di awal Baturraden bukanlah jalur yang bebas diakses yang mengakibatkan selama mendaki kami tidak bertemu dengan siapapun begitupun nanti ketika turun. Setelah berfoto jam 08.30 kami turun dari puncak, dan sempat bingung mencari jalur ke batas vegetasi yang akan kami lewati, sehingga estimasi saya 45 menit sudah menemui vegetasi lagi malah mundur menjadi 2 jam untuk muter – muter di Plawangan. Dengan kemiringan trek yang lumayan membuat kami turun menjadi sangat cepat, dan jam 12.55 kami sudah di tenda lagi, kemudian memasak sekaligus bersiap untuk turun.


Plawangan dari Atas

Setelah semuanya rapih tepat pukul 15.30 kami langsung turun melalui jalur yang sama, kemudian sampai di pintu rimba pukul 18.15. Dengan fisik yang sangat lelah sekali akibat berjalan selama 18 jam, perjalanan yang sangat jauh. Setelah itu kami bertemu dengan Pak Dasirun kembali yang sebelumnya sudah kami hubungi ketika kami di pos bayangan 1. Dari pintu rimba kami mencarter angkot, kawan dari Pak Dasirun ke depan Universitas Jendral Soedirman sekaligus berkunjung, di sana kami makan angkringan sekaligus meminta Om Adi yang kebetulan sedang berada di Banyumas di rumah sanak saudaranya untuk menjemput kami dan untungnya Om Adi bersedia menampung kami di kediamannya sampai waktu kepulangan kami tiba nanti, 30 Desember. Itu tandanya, penjelajahan belum selesai.
 
Desa Kejawar, bersama Tante Ai
Banyak sekali hal yang dapatkan dalam pendakian tanah tertinggi Jawa Tengah, lelah, berserah, pasrah. Semua saya dapatkan, apalagi membawa kawan baru dalam pendakian itu juga merupakan kebahagiaan tersendiri untuk saya. Dan tetap belajar bersabar ketika menghadapi teman yang sedang tidak terlalu sehat, juga menjadi catatan untuk saya supaya mendaki lebih hati – hati lagi. Dan hal yang paling saya dalami adalah seperti slogan kami “Tabah Sampai Akhir”

Bersambung........

-Imam Panji