Senin, 17 Januari 2022

Satu Per Satu #1

Hidup adalah sebuah persinggahan. Persinggahan menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu.

Itulah yang saya gagas dalam perjalanan kali ini. Kembali memenuhi agenda tahunan untuk mendaki, jodohnya tahun ini adalah Rinjani, iya salah satu 7 summits Indonesia dan menjadi urutan ke-3 di daftar tersebut. Rinjani juga menjadi gunung ke-2 aku dan kami dalam rangkaian 7 summits, setelah sebelumnya pada 2020 kami berkunjung ke Kerinci.

Perjalanan ini dimulai sejak Oktober, tahap persiapan. Aku dan Rizka (partner perjalanan ku) banyak berdiskusi tentang kemana kami tahun ini, Rizka ingin ke Semeru (Oktober itu Semeru belum meletus), namun sepengetahuan ku Semeru memang sudah ditutup sejak Juli akibat kebijakan PPKM. Sedangkan aku ingin ke Rinjani -gunung yang katanya punya banyak sekali keindahan-. Namun itu berarti, kami kembali mendaki di luar Pulau Jawa dan harus menyiapkan dana lebih banyak. Dengan berbagai pertimbangan, keputusan bulat untuk ke Rinjani menggunakan open trip, bukan perjalanan independen. Singkat cerita kami persiapan ekstra, dan perjalanan baru akan dimulai pada 23-30 Desember 2021.

Hari beranjak, tibalah 23 Desember hari keberangkatan kami, kembali melakukan perjalanan via darat dan bertemu di UKI Cawang untuk titik temu Kota Jakarta, setelah sebelumnya bus berangkat dari Bandung dan Bogor. Sekilas informasi mengatakan kami akan berangkat sekitar 50 an orang, dan memang benar karena bus yang kami gunakan adalah armada besar. Jam 13.30 WIB kami berangkat dari UKI Cawang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Agendanya kapal akan bersandar pukul 19.00 WIB keesokan harinya, namun karena kami telat datang, kami kebagian kapal jam 23.00 WIB, tetapi kendala terjadi kembali, kapal yang harusnya tiba pukul 23 tersebut mengalami kerusakan, sehingga kami harus menunggu sampai jam 7 pagi untuk berlayar ke Lombok. Benar-benar pengorbanan yang luar biasa.
Kebersamaan di Kapal

Perjalanan laut dari Banyuwangi ke Lombok cukup lama, kami sampai di Lombok sekitar jam 01.00 WITA keesokan harinya. Langsung bertolak ke Desa Sembalun yang masih harus ditempuh 4-5 jam perjalanan, sekitar jam 07.00 WITA kami sampai di basecamp bang Ady. Karena keterlambatan kapal, pagi itu juga kami harus langsung mendaki, karena sesuai dengan SIMAKSI yang kami urus, pendakian dilakukan tanggal 26-28 Desember 2021.
Makan di Ketapang

Pendakian dimulai dari kandang sapi, setelah dari basecamp menaiki mobil bak terbuka. Setelah berdoa, kami memulai pendakian sekitar pukul 11 WITA, ketika matahari hampir di puncak teriknya. Mendaki dengan jumlah 50 orang tidak mudah, rombongan menjadi terpecah-pecah secara otomatis sesuai gaya mendakinya. Lagipula, siang itu Rinjani panas sekali, leher cepat kering, kaki cepat panas, laksana hatimu. Sekitar jam 13 WITA saya sampai di pos 2, kondisi pos 2 lumayan nyaman, ada beberapa pendopo yang dapat  digunakan untuk istirahat. Sekitar 15 menit istirahat, kami lanjutkan perjalanan, trek Rinjani sampai pos 3 cenderung landai dan terbuka. Sangat minim pohon besar di jalur pendakian, ini juga yang menyebabkan cuaca (apapun itu) akan langsung mengenai tubuh karena tidak terhalang.
Kandang Sapi

Perjalanan ke pos 3 cenderung dekat, sekitar jam 15 WITA kami sudah sampai di pos 3. Disini istirahat cukup lama, karena katanya setelah ini pendakian baru akan dimulai, jadi tadi apa? Jalur selanjutnya adalah bukit penyesalan -yang cukup terkenal di Rinjani itu-. Katanya juga ini jalur yang melewati 7 bukit dan seakan tak habis-habis. Memang, awal memasuki jalur, konturnya berbeda dengan jalur dari kandang sapi sampai pos 3. Sejak pos 3 jalur lebih curam dan menanjak, tentunya juga semakin menguras tenaga karena hari semakin larut. Jam 16.30 WITA sampai di pos 4 dalam kondisi gerimis, tapi bukan disini tempat kami bermalam, namun karena perut kosong, memutuskan untuk membuka perbekalan sejenak sebelum berlanjut. Di pos 4 juga sudah banyak tampil monyet-monyet yang berusaha merebut makanan pendaki, hal inilah yang juga patut diwaspadai ketika ingin mendaki Rinjani.


<Jalur dari kandang sapi - pos 3>









Setelah itu perjalanan di lanjut, katanya Pelawangan Sembalun masih 4 jam lagi dari pos 4, itu artinya kami akan melintas malam. Mau tidak mau ini dilakukan, karena memang tempat paling ideal untuk bermalam adalah di Pelawangan. Tubuh sudah lelah sekali di titik ini, ingin naik jauh, ingin turun sia-sia. Jalur Rinjani sudah tidak terlihat lagi, pandangan kami hanya sebatas senter yang kami gunakan, namun rasanya sama, tidak sampai-sampai, dimana Pelawangan? Setelah perjalanan panjang dan melawan diri sendiri, jam 21.30 WITA kami sampai di Pelawangan, kami salah satu rombongan yang di belakang saat itu, karena sudah ada beberapa kawan yang sampai Pelawangan lebih dulu, di Rinjani, kami satu tenda dengan Arip dan Eca, begitulah Ia dipanggil, selama 2 malam berbagi cerita juga tawa dengan caranya masing-masing. 

Tak banyak yang dilakukan, malam itu makan kemudian tidur, namun malam itu tidak mengasyikkan karena dini harinya kami diserang badai.

Akan berlanjut.

Rabu, 20 Oktober 2021

Arsip

Bukan apa-apa, hanya ingin menyimpan kisah perjalanan mendaki Desember 2020 dengan beberapa gambar. Agar kelak bisa diceritakan ke generasi selanjutya. Belum sempat menulis, dan juga sudah lupa kronologi detailnya saat pendakian dilakukan, maklum manusia, memorinya terbatas walaupun kisahnya sangat indah. Jadi khusus yang ini, kusediakan gambar saja, semoga cukup untuk menggambarkan segalanya.

Puncak Kembang

Jalur Ekstrem Sumbing

Puncak Sejati Sumbing


Sok-sok an membaca peta


Destinasi : Gunung Kembang dan Gunung Sumbing, Wonosobo, Jawa Tengah.

Terima kasih untuk pengalaman di perjalanan kali ini.


-Imam Panji

Jumat, 08 Mei 2020

Keputusan Luar Biasa di Tengah Pandemi yang Melanda

2020 memang menjadi tahun yang mengejutkan bagi Indonesia bahkan untuk dunia. Tak disangka wabah melanda dan membuat segala aktivitas terbatas. Di tengah kejadian tersebut, ada satu keputusan yang dapat disoroti di negara ini, “Pembebasan narapidana”. Keputusan ini dibuat oleh Kementrian Hukum dan HAM yang disampaikan oleh bapak Yasonna Laoly selaku menteri hukum dan HAM, keputusan yang cukup kontroversial dan menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat.

Disampaikan bahwa tujuan utama Kemenkumham melakukan ini adalah untuk menekan laju penyebaran virus corona di dalam Lembaga Pemayarakatan (LAPAS) dan Yasonna Laoly berdalih “Hanya orang yang sudah tumpul rasa kemanusiaannya dan tidak menghayati sila kedua Pancasila, yang tidak menerima pembebasan napi di lapas over kapasitas”. Begitu katanya, tapi mari dikulik lebih dalam dari dua sisi, apa yang menyebabkan keputusan ini dibuat dan apa sebab keputusan ini ada yang menolak.

Sisi baiknya, sesuai dengan yang dipaparkan Yasonna Laoly tindakan ini sudah sesuai dengan anjuran Komisi Tinggi PBB untuk HAM, dan Sub Komite PBB Anti – Penyiksaan. Itu artinya Indonesia menjadi negara yang dianggap patuh di mata PBB pula Iran dan Brazil yang lebih dahulu merespon anjuran ini dengan jumlah 95.000 orang dan 34.000 orang. Hal lain pula, jika memang LAPAS kelebihan kapasitas, itu berarti LAPAS menjadi lebih lengang dengan pelepasan sebagian napi dan menjadi lebih memungkinkan untuk melakukan physical distancing di dalam LAPAS yang berarti pula hal itu sesuai dengan anjuran WHO dan pemerintah. Yang perlu dipahami juga napi yang dibebaskan harus memiliki kriteria, yaitu : sudah dalam 2/3 masa pidana untuk dewasa dan ½ untuk anak jatuh sampai 31 Desember 2020, tidak sedang menjalani subsider, dan bukan WNA. Yang dibebaskan tidak termasuk dalam napi terorisme, narkotika, korupsi, dan kejahatan terhadap keamanan negara. Dengan kata lain, mereka adalah kriminal biasa atau napi pidana umum. Jadi, bukan sembarang napi lah yang dibebaskan namun terdapat kriteria tertentu yang harus dipenuhi, jika kriteria tersebut terpenuhi napi dapat bebas.

Bukan hanya keputusan, semua hal pasti memiliki sisi buruknya, mari kita bahas. Pembebasan napi dari dalam LAPAS mungkin memang untuk menekan penyebaran virus di dalam LAPAS, namun bagaimana jika sudah ada napi yang positif COVID-19 namun belum terdeteksi dan terlanjur dibebaskan, hal itu malah menyebabkan penyebaran virus di tempat yang lebih luas. Selanjutnya, pelepasan napi memiliki resiko yang cukup tinggi jika saja napi melakukan kejahatan yang sama setelah dibebaskan dan sudah terbukti sejumlah napi di berbagai daerah ditangkap karena melakukan kejahatan lagi setelah dibebaskan. Memang, jika menolak pembebasan napi di LAPAS yang over kapasitas dianggap tidak memiliki kemanusiaan tidak dapat disalahkan begitu saja. Tetapi, membuat keputusan napi dibebaskan dan kemudian kembali melakukan kejahatan kepada orang tidak bersalah di tengah ekonomi yang juga sedang susah apakah dapat disebut “Rasa Kemanusiaan”, ini yang unik.

Terlepas dari perdebatan yang terjadi, keputusan ini sudah terlanjur disahkan, per 08 April 2020 pukul 9 pagi, sebanyak 33.078 napi dewasa dan 783 napi anak dibebaskan dengan menjalani program asimilasi, serta 1.776 napi dewasa dan 39 anak menjalani program integrasi. Semoga di tengah wabah kita selalu mendapat berkah. Semoga di tengah susah kita selalu dapat mudah.

-Imam Panji

Senin, 09 Maret 2020

Tidak Akan Sampai #2

Terbangun dari tidur yang kurang tenang akibat memikirkan bisa sampai atau tidak. Tapi mau tidak mau, kaki harus dipaksa melangkah, karena tidak mungkin hidup di atas sini selamanya.

Esok harinya, setelah sarapan dan merapihkan alat - alat bermalam, kami harus lanjut berjalan dengan target shelter 2, estimasi 3 jam jalan kaki. Saya pikir dengan lebih singkat waktunya perjalanan akan lebih santai, tapi kita lihat nanti, bagaimana jadinya. Dan mengapa tidak shelter 3, karena di shelter 3 sudah tidak ada pohon yang dapat menghalangi terpaan angin, yang dikhawatirkan nanti terjadi badai, tenda kami malah rusak, dan ini menjadi keputusan yang tepat.

Sekitar jam 10, kami mulai mendaki lagi, sama seperti hari kemarin, rombongan terpecah - pecah tapi hati saya dan dia tidak. Walaupun sesekali Ia berkata "Kalau Rizka terlalu lambat, kamu duluan aja,gapapa" kemudian saya mengangguk tanda paham, tapi tidak pernah saya lakukan. Jalur yang dilalui ternyata semakin gila dari sebelumnya, beberapa titik kami harus merunduk supaya kepala tidak terkena tumbuhan, bagi saya sendiri beberapa kali harus terbentur pohon karena ada pohon yang menjuntai ke jalur pendakian.

Di Shelter 2
Tak dinyana pendakian semakin banyak istirahat hari ini, banyak mengeluh juga, hujan juga tetap mengguyur, bagaimana lagi memang itu yang terjadi, tapi menyerah jangan. Dari estimasi 3 jam, kami sampai di shelter 2 jam 14, kelewat 1 jam dari estimasi, yasudah tidak apa masih cukup beristirahat lama. Sore hari sampai malam hari kami isi dengan macam - macam, ada yang istirahat banyak, ada yang bercerita banyak, dan segalanya. Yang terpenting esoknya kami punya tujuan sama, Puncak Indrapura.

Persiapan sebelum summit attack
Keesokan, kami bangun sekitar jam 2, kemudian mempersiapkan segala, dan jam 03.30 sudah siap. Diawali berdoa, memuncak kami mulai. Dan memang benar keputusan untuk bermalam di shelter 2 adalah yang terbaik, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana jika memutuskan untuk bermalam di shelter 3, sudah jalannya sempit, curam, banyak akar, tidak dapat didefinisikan. Sampai shelter 3 memang benar kata Pakde, disini tidak ada pohon yang menghalangi terpaan angin langsung, cukup berbahaya. Istirahat sejenak, kemudian langit mulai menjingga dan terlihat Danau Gunung Tujuh di arah matahari terbit, karunia luar biasa.

Rizka dan Pakde
Rizka dan Mas Dwiki











Entah ini jalur apa
Perjalanan dilanjut, dari sini tanah lumpur yang sedari pintu rimba kami rasakan, berubah menjadi batuan berpasir, dengan kemiringan yang lebih gokil. Setelah shelter 3 banyak sekali hambatan, terutama di Rizka banyak berhenti akibat merasa sakit di perutnya, namun syukur Ia masih mau berjalan dan melawannya. Jam 07.30 sampai di Tugu Yuda, tugu fenomenal di Kerinci, dari situ puncak sangat dekat, apakah bisa ?

Tugu Yuda
Pada akhirnya saya, Rizka, Mas Dwiki (orang baik yang sangat sabar membantu saya menyemangatinya) sampai di puncak pukul 8, mata Rizka basah, tak percaya sampai sini, begitupun saya yang tidak percaya Ia menjadikan Kerinci sebagai gunung pertamanya. Karena di puncak aroma belerang dari kawah Kerinci sangat menyengat, jam 9 kami turun, perjalanan turun menjadi lebih sulit karena kemiringan yang luar biasa, sampai di shelter 2 jam 13.00, makan siang, dan ternyata ketika hendak turun, badai menerjang dan terpaksa kami menginap satu malam lagi di shelter 2.

Aku dan Dia
Aku dan Pakde














Esoknya kami turun sekitar pukul 8 pagi, hati sudah ceria karena bisa sampai atap Sumatera walaupun rumah masih sangat jauh, sampai pintu rimba pukul 13.00 kemudian dijemput mobil bak terbuka, di basecamp merapihkan diri, beli buah tangan, dan perjalanan 2 hari 2 malam kembali dilakukan sekitar jam 20.

Pada akhirnya judul tulisan ini tidak menggambarkan segalanya, bisa sampai Atap Sumatera dan kembali ke rumah tanpa kekurangan apapun adalah suatu anugerah. Terima kasih kepada semua rekan pendakian baru yang mau berbagi suka, duka, cerita, dan tawa. Pengalaman dengan kalian tidak akan ku lupa.



Terima kasih. (Dari kiri ke kanan)

Atas : Mas Yoga - Solo, Mas Aji - Solo, Kak Mae - Cibinong, Kak Yohanna - Jakarta, Om Soghiro - Jakarta, Bang Danang - Jakarta, Aku, Rizka - Jakarta, Bang Bobi - Jakarta, Kang Adnan - Leuwiliang, Mba Sherina - Solo, Kang Riki - Muara Enim, Mas Dwiki - Solo.

Bawah : Kang Dio - Cibinong, Mas Bima - Surabaya, Bang Fadil - TangSel, Kang Hendi - Leuwiliang, Bang Gondrong - Tangerang, Bang Bram - Lampung.

Kamis, 05 Maret 2020

Tidak Akan Sampai #1

Perjalanan dengan jarak yang ekstrim memang memakan waktu, karena itu yang kali ini, tidak akan sampai.

Akibat libur kuliah sekitar 2 bulan lamanya. saya kembali memutuskan untuk mendaki gunung. Ini sangat spesial, karena sempat ingin ke Sumbing namun tidak ada kawan. Pindah ke Gunung Salak, apes saat kami ingin mendaki Salak ditutup akibat cuaca yang masih buruk. Dan ternyata setelah itu diputuskan untuk ke Kerinci, bersama rekan - rekan baru yang dipertemukan akibat open trip dan juga Rizka. Sebuah keputusan yang sangat gila untuk orang yang belum pernah mendaki gunung sama sekali dan saat mulai mendaki gunung, langsung menuju Kerinci, iya tertinggi ke - 2 di Indonesia.

Ketika hendak sampai Bakauheni
Sebab perjalanan kami tempuh via darat (maklum dana untuk via udara terlampau mahal), jarak harus ditempuh dengan sangat sabar, 2 hari 2 malam. Berangkat 24 Januari jam 7 pagi, sampai di Kersik Tuo 26 Januari jam 1 pagi. Perjalanan yang sangat jauh dari rumah, dengan kondisi jalan yang tidak seperti di pulau Jawa. Sampai sana saya memutuskan untuk langsung istirahat karena nanti pagi, pendakian akan dimulai, dengan estimasi 3 hari di dalam hutan.
Istirahat di salah satu rumah makan. Lahat, Sumatera Selatan.

Paginya, ketika terbangun, sempat khawatir cuaca tidak bersahabat, akibat Kerinci sama sekali tidak terlihat dari basecamp, sembari ditinggal mandi, sarapan, dan persiapan, perlahan Kerinci menampakkan diri di balik kebun teh terluas di Asia. Dari situ terbesit "bisa ke atas dan pulang kembali atau tidak ?" pertanyaan yang seharusnya tidak muncul di benak saya.


Om Soghiro - Jakarta
Ketika sampai basecamp





Selfie dulu ges

Sekitar jam 11 kami mulai siap berangkat, diantar dengan mobil bak terbuka sampai pintu rimba sekitar 20 menitan, itu cukup menghemat tenaga daripada kami harus berjalan. Sampai di pintu rimba berdoa, dan selanjutnya pendakian dimulai.
Persiapan berangkat

Kontur awal - awal pendakian bisa dibilang landai, bahkan hampir tidak menanjak. Seperti jalan santai, namun akibat hujan kemarin, tanah jadi basah dan beberapa titik, kaki dapat masuk lumpur se mata kaki, bayangkan belum sampai pos 1 sepatu sudah cokelat saja. Istirahat sebentar di pos 1 karena adzan dzuhur sudah terdengar, kemudian perjalanan dilanjutkan, karena target hari ini kami harus bermalam di shelter 1.

Pintu Rimba
Pos 1 - Bangku Panjang











Menuju pos 2, jalur sudah sedikit menanjak, tanaman masih rapat, maklum Kerinci hutannya masih "perawan" buktinya harimau Sumatera masih hidup di sini. Hewan yang tidak akan pernah ditemui di hutan pulau Jawa.

Beberapa kali rombongan terpecah, maklum, mendaki dengan 22 orang berarti mendaki dengan 22 ambisi, tapi saya terus di sekitar Rizka karena saya tau dia butuh dukungan tambahan di gunung pertamanya. Sampai pos 2 kembali istirahat, namun disini tidak terlalu lama, mengingat hari semakin sore, dan cukup berbahaya berjalan malam hari di hutan yang jarang dijamah manusia ini. Di pos 3 istirahat sambil menyeduh teh, kopi, dan makan biskuit. Disini istirahat lumayan lama dibanding sebelumnya. Karena kata Pakde -begitu ia ingin dipanggil- (salah satu pemandu lokal asli Kersik Tuo) setelah ini pendakian baru dimulai. Benakku "Jadi yang tadi apa ? Padahal kaki sudah sekotor ini"

Benar saja perjalanan ke shelter 1 benar - benar mendaki, dan tidak wajar. Akar dimana - mana, sempat terguyur hujan, beberapa jalan memaksa kami hingga kaki menyentuh dada, Rizka banyak istirahat dan bertanya "Kapan sampai ?", maklum badan sudah lelah, ingin segera tidur, tapi tidak mungkin tidur di trek yang basah dan sempit. Namun kaki terus melangkah walaupun kuantitas istirahat cukup banyak, sekitar jam 16.30 kami yang terbagi dalam kelompok belakang baru sampai.

Suasana senja shelter 1
Setelah itu langsung makan, dan tidak banyak pertanyaan, saya memutuskan tidur sambil berpikir "Saya takut tidak akan sampai malah jadi kenyataan"


Bersambung.