Kamis, 27 September 2018

Surakarta yang Mengagumkan #1

Setiap orang pasti memiliki kampung halaman, dan kerinduan akan suasananya adalah salah satu alasan untuk tetap melakukan perjalanan pulang.

Ya begitulah hal itu terjadi menurut saya, atas dasar rindu semua orang bisa kembali ke suatu tempat, suatu orang atau suatu apapun yang menyebabkannya. Termasuk, saya dan keluarga saya yang kembali menyambangi kota yang indah, Surakarta.

Berawal dari bulan Mei, dimana pakde saya merencanakan untuk menikah di awal bulan September dan bertempat di Surakarta. Akhirnya ayah memutuskan untuk melakukan perjalanan untuk mendatangi Surakarta, sekaligus melepaskan kerinduan dengan kota itu. Tetapi, karena kalender di rumah masih bertuliskan “Mei” itu tandanya kami harus menunggu sampai awal bulan Juni untuk memesan tiket kereta. Maklum, tiket kereta baru bisa dibeli ketika tanggal perjalanan minimal sudah H-90 atau sekitar 3 bulan. Rombongan bertambah, setelah bertanya ke keluarga besar, Tante Ai beserta suami dan kedua anaknya hendak ikut, Untuk itu sembilan tiket kereta harus kami beli.

Setelah melakukan sinkronisasi khususnya dengan jadwal sekolah, awal Juni kami membeli tiket berangkat untuk tanggal 7 September dan tiket untuk kembali ke Ibukota pada tanggal 11 September menggunakan moda transportasi yang sama, yaitu kereta. Dan kemudian, yang harus kami lakukan adalah menunggu sampai bulan September itu datang.

Singkat cerita, Mei, Juni, Juli, Agustus berlalu begitu saja, diiringi dengan kedatangan September yang begitu saya sambut dengan ceria. Itu tandanya semakin dekat dengan hari kepulangan. Sebelum pergi kesana, beberapa rencana sudah dibuat, khususnya rencana saya dengan ayah. Pada hari Sabtunya kami akan pergi mengunjungi Universitas Sebelas Maret, hanya untuk sekedar melihat – lihat dan mengetahui keadaan kampus disana. Dan sisanya, saya punya rencana sampingan, yaitu melakukan pendakian di Gunung Lawu (akan ada di part selanjutnya).

Jum’at, 7 September datang begitu saja, dengan perlengkapan kami yang sudah siap sedari malamnya. Khusus saya, saya wajib membawa alat – alat pendakian saya, kalau memang nantinya saya akan jadi menyambangi Lawu. Karena kereta kami berangkat jam 5 sore. Saya tetap ke sekolah untuk menuntaskan pekan itu dengan baik, karena jika hari Jum’at kebetulan sekolah saya sudah pulang setelah selesai melaksanakan Shalat Jum’at.

Setelah Shalat Jum’at saya bergegas pulang untuk bersiap – siap berangkat sore harinya, tapi saya tidak pulang ke rumah, melainkan ke rumah Uti dan Atung yang kebetulan bersebelahan dengan rombongan Tante. Sampai disana saya segera makan siang, dan menunggu kami semua lengkap. Jam 14 kami berangkat menuju St. Pasar Senen, perjalanan menempuh waktu kurang lebih satu jam. Sampai di Pasar Senen saya melaksanakan shalat ashar dan setelah itu kereta yang akan membawa saya ke Surakarta tiba pada pukul 16.00.

Pasar Senen sore itu.
Jam 16.20 kami semua sudah duduk di kursi kami masing – masing dengan penumpang lain yang juga memenuhi gerbong. Dan yang kami lakukan setelah itu adalah menunggu kembali, karena jadwal kereta berangkat adalah jam 17.00. Untungnya walaupun kereta yang kami tumpangi adalah kereta kelas ekonomi, tetapi fasilitasnya sudah terbilang lengkap, terdapat AC yang membuat ruangan terasa lebih sejuk dan juga salah satu hal yang mungkin dianggap penting saat ini, yaitu colokan. Ya maklum, sekarang hampir semuanya dapat diakses menggunakan listrik.

Jam 17.01, saya ingat sekali, kereta baru berangkat dari stasiun Pasar Senen, dan memang inti dari sebuah perjalanan sebenarnya adalah menunggu. Karena jika kereta sampai tepat waktu, kereta akan sampai di St. Solo Jebres jam 02.47 dini hari. Ternyata, menunggu itu memang melelahkan, jujur. Untungnya dalam perjalanan menuju Surakarta, saya berkali – kali mondar – mandir gerbong restorasi dengan Om terbaik saya, Om Adi. Daripada suntuk harus menunggu di kursi sendiri sampai jam 02.47, lebih baik kami mengisi waktu dengan makan dan ngopi di gerbong restorasi, walaupun harga konsumsi di dalam kereta bisa dibilang cukup mahal. Terkadang, beberapa kali kereta sempat berhenti di Stasiun – Stasiun tertentu, dan sekali lagi, sambil menunggu kereta berangkat kembali saya dan Om keluar kereta untuk menghirup udara stasiun, ya khusus Om untuk menghirup udara dari sebatang tembakaunya.

Setelah lama berkutat dengan suasana di gerbong kereta, sekitar jam 03 pagi kereta tiba di Stasiun Solo Jebres. Keluarnya kami dari gerbong kereta diiringi dengan orang – orang yang banyak menawarkan jasa kendaraannya baik motor maupun mobil untuk mengantar kami ke tempat yang memang kami ingin tuju. Tetapi,sebenarnya yang ingin kami tuju dari stasiun adalah kediaman Mbah Tino, yang jaraknya hanya 1,5km dari St. Solo Jebres. Karena saat itu adalah tengah malam, jadi kami memutuskan untuk menyewa satu mobil untuk mengantar kami dengan ongkos 50 ribu saja. Terkecuali, saya dan Om Adi yang lebih memilih berjalan untuk menikmati malam dan bintang – bintang yang ada di Surakarta malam itu.
SOLO JEBRES
Suasana gerbong kereta.





Sesampainya di rumah Mbah, kami tak langsung tidur, kami berbincang – bincang dengan sanak saudara disana terlebih dahulu sampai masuk waktu shubuh, yang harus kalian ketahui adalah waktu shalat disana lebih cepat daripada waktu shalat di Jabodetabek, jadi saya harus beradaptasi dengan waktu shalat yang agak berbeda dari yang biasa saya jalani. Sampai setelah saya melaksanakan Shalat Shubuh, barulah saya dapat melanjutkan tidur saya kembali, untuk nanti paginya, saya akan melaksanakan rencana untuk pergi Universitas Sebelas Maret.

Pagi menyambut dengan diri saya yang dicoba dibangkitkan dari tidur, ah sulit sekali rasanya terbangun waktu itu, tapi saya coba bangun supaya saya bisa menyelesaikan rencana saya. Saya lupa sekali waktu itu saya bangun jam berapa, yang jelas sekitar jam 08.30 saya berangkat ke UNS bersama semuanya kecuali Habibie (anak pertama tante) dan Tiara (Adik pertamaku). Sesampainya di UNS yang harus dilakukan yang pasti adalah mengabadikan apa yang saya lihat, baik melalui lensa kamera, maupun melalui kornea mata. Tak banyak sebenarnya yang ingin saya tuju disana, yang saya ingin kunjungi hanyalah FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), sisanya saya hanya melihat – lihat sambil menghafal lingkungan sana, kalau memang itu rejeki saya, kalau bukan yasudah, ikhlas.

FEB UNS
Jam 09.00 kami sudah di luar kompleks UNS, dan tujuan selanjutnya adalah Taman Satwa Taru Jurug, untuk melihat beberapa satwa – satwa yang ada disana. Kami berkeliling disana, melihat Gajah, koleksi burung yang dimiliki, dan juga hewan – hewan lainnya. Dan satu hewan yang memang membuat saya benar – benar kagum adalah “Elang Jawa”. Ketika melihat Elang Jawa, ada pertanyaan di dalam pikiran saya “Inikah lambang negara kita ?” “Inikah yang disebut burung Garuda ?” karena bentuknya itu memang mirip sekali dengan burung yang biasa ada di kelas – kelas sekolah. Kami disana sampai waktu dzuhur tiba, dan setelah itu kembali ke kediaman Mbah.
Elang Jawa yang Legendaris.
Merak yang Indah.





Karena dari saya sampai saya belum mandi, jadi setelah itu, saya bergegas pergi ke Hotel yang kebetulan sudah di booking untuk menginap disana dan jaraknya juga tidak begitu jauh naik kendaraan. Karena di kediaman Mbah, sudah ramai sekali untuk persiapan menikahnya, jadi kami menginap di Hotel. Kami beristirahat disana sampai ashar. Setelah ashar, perjalanan kembali dimulai untuk mengunjungi Mba Tri di daerah Semin, Yogyakarta. Kesana menggunakan mobil, tapi memang sudah sedari awal saya dan om selalu berbeda, kami pergi kesana dengan menggunakan motor. Di perjalanan kami sempat berhenti sejenak untuk menyantap Soto Ayam karena perut yang sudah mulai keroncongan. Tepat adzan maghrib saya dan om sampai duluan, dan rombongan yang memakai mobil sampai setelah saya selesai melaksanakan Shalat Maghrib.
Penampakan Soto harga 7 rb an
Perbatasan Provinsi Jateng dengan Yogyakarta





Di sana kami tidak berlama – lama, karena kami harus berkunjung lagi ke daerah Bayat, Klaten. Untungnya jaraknya sudah tidak terlalu jauh jika ditempuh dari Semin. Dan Bayat adalah salah satu tempat yang membekas untuk saya. Karena, disanalah saya mulai bisa berjalan, tepatnya di bawah pohon jambu, yang sampai sekarang pohon itu masih ada dan akan selalu menjadi kenangan.

Setelah itu, kami menginap disana sampai besok paginya. Dan cuaca di Bayat benar – benarlah dingin menyengat.

Banyak hal yang menurut saya sangat berbeda dengan suasana di ibukota, entah itu mengenai jumlah bintang yang bertabur di langit, kondisi lalu lintasnya, dan banyak lagi yang sangat berbeda dengan suasana yang biasa saya nikmati di Ibukota. Tapi, satu hal yang saya sadari, keramah – tamahan orang Indonesia, tidaklah mengenal tempat.

Ok sekian dulu, catatan perjalanan lanjutannya akan ada di Part selanjutnya.

-IP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar