Rabu, 03 Oktober 2018

Surakarta yang Mengagumkan #2

Ok, sebelum kalian baca ini sebaiknya kalian baca part 1 nya disini.

Kehidupan manusia adalah sebuah kotak labirin yang tak kunjung berhenti. Dan pulang ke kampung halaman adalah salah satu penawarnya.

Setelah memutuskan untuk menginap semalam di Bayat dengan cuaca yang mirip sekali dengan ketinggian. Paginya, tepat tanggal 9 September kami hendak berkeliling desa Kalisaga begitulah disebutnya. Sekedar menghirup udara bersih yang kebetulan jarang sekali kami temui di ibukota, sampai kira – kira jam 6 kami berkeliling, kami kembali ke rumah.

Sampai di rumah dengan berjalan kaki sebentar, ternyata kami sudah disiapkan sarapan, wah indahnya buat saya. Tak berlama – lama langsung saja gundukan nasi beserta lauk pauknya kami makan dengan lahap. Setelah makan ya kami tidak mandi di sana, saya berpikir jika mandi disana sama saja menyiksa diri, karena udara yang dingin pasti akan memengaruhi suhu air disana yang pasti juga sama dinginnya (atau mungkin bisa lebih dingin). Sekitar jam 07.30 kami kembali berangkat menuju Hotel di Solo untuk membersihkan diri sekaligus beristirahat dan berjumpa dengan keluarga Pakde Anto yang kebetulan menginap di hotel yang sama dengan kami.

Sekitar satu jam an perjalanan, kami tiba di Solo dengan sedikit kebingungan karena ketika akan sampai, ternyata disana juga terdapat Car Free Day yang dilaksanakan di Jln. Slamet Riyadi. Berarti, Slamet Riyadi adalah Sudirmannya kota Surakarta, begitulah pikir saya. Sampai di Solo, yang ingin mandi ya mandi, yang tidak ingin yasudah bermalas – malasan, ya termasuk saya yang lebih memilih tidur (lagi) daripada mandi untuk membersihkan diri.

Sekitar jam 10 saya terbangun sendiri dan mendapati Ayah dan Bunda tidak ada di hotel, waduh kemana perginya mereka. Setelah memanfaatkan fitur chat di telepon genggam saya, ternyata mereka sedang berdua di Pasar Gede, yang letaknya hanya 200 atau mungkin 300 meter dari hotel tempat kami menginap. Tak pikir lama dan tak pakai mandi saya bersama Om dan Tante memutuskan untuk menyusul saja, karena Pasar Gede adalah salah satu ikon disana, jadi hal ini juga wajib saya dokumentasi. Di Pasar Gede, kami membeli makanan yang nantinya akan kami bawa kembali ke Ibukota, harganya pun murah – murah sekali dan rasanya enak – enak. Ya walaupun untuk teman – teman yang muslim, harus berhati – hati jika bermain di Surakarta khususnya Pasar Gede, karena disana masih banyak terdapat olahan daging dari Anjing ataupun Babi yang terdapat di pinggir jalan, tetapi walaupun begitu warung – warung yang menyediakan anjing ataupun babi juga sudah terlihat jelas petunjuknya, jadi teman – teman tidak perlu khawatir akan salah makan jika teman – teman memang teliti.

Pasar Gede tampak dari depan.
Setelah keluar dari Pasar Gede, kami berpindah haluan ke warung minuman begitulah di depan hotel, sekedar untuk menyeruput kopi ataupun menyantap gorengan yang terdapat di warung. Sampai sebelum dzuhur disana berbincang bersama, kemudian kami masuk hotel untuk mandi bagi yang belum mandi dan saya termasuk di dalamnya.

Setelah menyelesaikan mandi dan melaksanakan shalat Dzuhur, kebetulan Pakde Anto mengajak untuk pergi ke Warung makan, tepatnya Warung Makan Selat yang dimiliki Mbak Lies, yang cukup terkenal di Surakarta. Yang perlu kalian ketahui Selat adalah makanan daerah khas Surakarta yang berisi sayuran dan buah – buahan yang mirip dengan Salad. Tetapi, di beberapa olahan Selat ada yang menggunakan daging sapi ataupun telur rebus. Ya kalian harus lihat dan rasakan lah supaya kalian tahu bagaimana bentuk dan rasa Selat khas Solo tersebut.
Salah satu spot unik di warung Selat Mbak Lies.
Karena hari ini adalah hari Minggu, berarti hari ini adalah hari pelaksanaan pernikahan Pakde Agus. Dimana akad nikahnya sudah dilaksanakan siang harinya di Gereja dekat kediaman Mbah Tino, dan acara pesta akan dilaksanakan malam harinya, setelah shalat isya. Karena kekosongan waktu di sore hari, saya dan ayah memutuskan untuk pergi ke Stasiun Puwosari untuk mencetak tiket pulang terlebih dahulu, daripada saat hari kepulangan kami keteteran karena belum mencetak tiket. Sehabis dari Stasiun Purwosari kami berpindah ke Stasiun Solo Balapan untuk mencetak tiket kembali tetapi milik Atung dan Uti yang akan pulang hari senin, lebih cepat satu hari dari kami yang akan pulang hari selasa.

Setelah Maghrib, kami kembali mandi dan berpakaian rapih untuk hendak pergi ke kediaman Mbah Tino untuk menghadiri acara pestanya. Dan pengalaman untuk saya, ternyata resepsi pernikahan di Surakarta sangatlah berbeda dengan di Jakarta. Disana tidak ada makanan prasmanan, yang ada hanya makanan yang akan diantar ke satu – persatu tamu undangan mulai dari Teh manis, beralih ke sepotong kue, satu mangkuk sayur, dan baru makan nasi beserta lauknya. Semua itu diantarkan satu – persatu dengan urutan yang sudah saya sebutkan. Jadi, jika saja saat minum Teh manis kita sudah merasa lapar, kita tidak akan bisa makan berat lebih dulu dari semua tamu undangan yang lain. Karena, semuanya dimakan dan diminum secara bersama. Dan satu perbedaannya lagi, acara pesta disana akan dilaksanakan satu waktu. Jadi jika dalam suatu pesta pernikahan mengundang 500 orang, 500 orang itu akan datang bersamaan, tidak seperti di Jakarta ada yang datang di siang hari, ada yang datang malam hari, intinya datangnya berbeda – beda. Jika di Surakarta datangnya ya satu waktu.

Sekitar jam 22 malam acara pesta selesai, kami kembali ke hotel dan beristirahat sebelum nanti malam saya akan mengajak ayah untuk ke Gunung Lawu mengecek keadaan disana. Dan yang harus kalian ketahui adalah, hutan Gunung Lawu terbakar 4 hari sebelum saya berangkat dari Jakarta, yang menyebabkan pendakian Gunung Lawu ditutup dan mengancam ritual malam 1 Suro disana nantinya bisa saja batal. Saya berangkat sekitar jam 23 malam mungkin dengan harapan pendakian disana akan dibuka. Saya kesana ya pasti sudah lengkap dengan alat pendakian saya. Tetapi, sesampainya disana ya benar saja, yang saya dapati api yang berkobar di hutan Gunung Lawu, dan bisa ditebak jalur pendakian ditutup. Itu artinya, saya harus mengurungkan niat untuk mendaki Gunung Lawu dan menunggu sampai waktu yang tidak dapat ditentukan untuk kembali kesana.
Penampakan api di hutan Lawu dari kejauhan.

Hanya posko Cemoro Kandang lah yang bisa saya abadikan saat itu.















Setelah saya mengetahui keadaan Gunung Lawu yang sedang “kurang sehat”, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hotel, ya yang pasti untuk berisitirahat karena saya gagal melakukan pendakian saya. Yasudah, saya pikir mendaki gunung bisa lain kali, yang penting adalah keselamatan saya.

Sebagai pengganti pendakian gunung, paginya ayah mengajak untuk pergi ke air terjun, tepatnya Air Terjun Jumog dan ke Candi Sukuh untuk berekreasi. Sekitar jam 11 lah kami sudah sampai di kawasan air terjun, tapi untuk mencapai air terjun secara langsungnya kami harus menuruni 116 anak tangga terlebih dahulu sebelum bisa mandi di bawah kucuran air terjun yang segar. Sudahlah, disana saya menikmati air dari sumbernya langsung yang sangat segar. Saya mandi disana sampai 12.30 kemudian saya bilas badan, dan kembali makan untuk mengisi tenaga. Dan uniknya, dan ini juga pengalaman pertama saya, disana kami memesan satu porsi sate kelinci, yang ternyata rasanya tak kalah enak dengan sate ayam.

Tepat di bawah Air Terjun
Sebelum menuruni tangga.





Selesai makan sekitar jam 14.00 kami bergegas untuk mengunjungi Candi Sukuh yang memiliki patung – patung yang cukup unik, ada sebuah patung  yang menggambarkan bentuk rahim perempuan, ada patung alat kelamin yang ditindik, dan banyak patung lainnya. Ya disana, jelas kami hanya berfoto – foto ria karena tidak mungkin kami berenang dan mandi di patung – patung disana. Ohiya dan uniknya, di Candi Sukuh, jika ingin memasuki kawasan candi, kami harus menggunakan kain yang diikat di pinggang. Saya juga lupa menanyakan apa fungsinya kain tersebut, tapi karena alasan menghormati, saya tetap menggunakan kain itu. Disana kami tidak berlama karena kebetulan Candi Sukuh tidaklah sebesar Borobudur maupun Prambanan. Setelah itu kami kembali bergegas untuk menuju hotel, diselingi dengan sedikit berhenti di tengah kebun karet untuk berfoto menggunakan hammock yang sudah kami bawa – bawa sedari Jakarta.
Santai yang sangat sederhana.

Spot paling unik menurut saya yang ada di Candi Sukuh.





Saya lupa sampai hotel jam berapa waktu itu, yang jelas dari sampai disana sampai besok paginya kami tidak banyak melakukan banyak hal, hanya sekedar merapihkan barang – barang bawaan supaya esok harinya ketika pulang, semua barang sudah siap.

Esoknya hari yang  mengharuskan kami pulang akhirnya datang juga, kereta kami akan berangkat dari Stasiun Purwosari pukul 14.30 jadi selepas shalat dzuhur kami sudah berangkat menuju Stasiun Purwosari supaya tidak tertinggal kereta. Setelah itu ya kami naik kereta dan pulang dan selesailah tentang Surakarta.

Dilan dan Milea di tengah dinginnya Jakarta malam itu.
Ya begitulah semua kesan pesan Surakarta kali ini, jadi jika kalian yang sudah sangat rumit dengan sebuah labirin yang tak kunjung henti itu. Cepatlah atur jadwal entah 2 atau 3 hari untuk menyisihkan waktu kalian di kampung halaman. Karena, percayalah semua rindu itu harus dituntaskan.

Dan satu pertanyaan terakhir, "Kapan terakhir kalian pergi ke kampung halaman ?" Silahkan jabarkan di kolom komentar, karena pasti ada yang baru saja pulang atau mungkin sudah tak pernah pulang lagi.

Oke sekian dulu catatan perjalanan tentang kota yang indah, Surakarta. Kalo kalian rasa tulisan ini bagus silahkan sukai dan tinggalkan komentar di bawah. Jika ada kesalahan dan kekurangan menurut kalian, silahkan kritik dengan baik. Dan jangan lupa membaca sekaligus menulis.

Yang Santai dan Terpelajar.

Imam Panji.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar