Kehidupan manusia adalah sebuah kotak labirin yang tak kunjung berhenti. Dan pulang ke kampung halaman adalah salah satu penawarnya.
Setelah memutuskan untuk menginap semalam di Bayat dengan
cuaca yang mirip sekali dengan ketinggian. Paginya, tepat tanggal 9 September
kami hendak berkeliling desa Kalisaga begitulah disebutnya. Sekedar menghirup
udara bersih yang kebetulan jarang sekali kami temui di ibukota, sampai kira –
kira jam 6 kami berkeliling, kami kembali ke rumah.
Sampai di rumah dengan berjalan kaki sebentar, ternyata kami
sudah disiapkan sarapan, wah indahnya buat saya. Tak berlama – lama langsung
saja gundukan nasi beserta lauk pauknya kami makan dengan lahap. Setelah makan
ya kami tidak mandi di sana, saya berpikir jika mandi disana sama saja menyiksa
diri, karena udara yang dingin pasti akan memengaruhi suhu air disana yang
pasti juga sama dinginnya (atau mungkin bisa lebih dingin). Sekitar jam 07.30
kami kembali berangkat menuju Hotel di Solo untuk membersihkan diri sekaligus
beristirahat dan berjumpa dengan keluarga Pakde Anto yang kebetulan menginap di
hotel yang sama dengan kami.
Sekitar satu jam an perjalanan, kami tiba di Solo dengan
sedikit kebingungan karena ketika akan sampai, ternyata disana juga terdapat
Car Free Day yang dilaksanakan di Jln. Slamet Riyadi. Berarti, Slamet Riyadi
adalah Sudirmannya kota Surakarta, begitulah pikir saya. Sampai di Solo, yang
ingin mandi ya mandi, yang tidak ingin yasudah bermalas – malasan, ya termasuk
saya yang lebih memilih tidur (lagi) daripada mandi untuk membersihkan diri.
Sekitar jam 10 saya terbangun sendiri dan mendapati Ayah dan
Bunda tidak ada di hotel, waduh kemana perginya mereka. Setelah memanfaatkan
fitur chat di telepon genggam saya, ternyata mereka sedang berdua di Pasar
Gede, yang letaknya hanya 200 atau mungkin 300 meter dari hotel tempat kami
menginap. Tak pikir lama dan tak pakai mandi saya bersama Om dan Tante
memutuskan untuk menyusul saja, karena Pasar Gede adalah salah satu ikon
disana, jadi hal ini juga wajib saya dokumentasi. Di Pasar Gede, kami membeli
makanan yang nantinya akan kami bawa kembali ke Ibukota, harganya pun murah –
murah sekali dan rasanya enak – enak. Ya walaupun untuk teman – teman yang
muslim, harus berhati – hati jika bermain di Surakarta khususnya Pasar Gede,
karena disana masih banyak terdapat olahan daging dari Anjing ataupun Babi yang
terdapat di pinggir jalan, tetapi walaupun begitu warung – warung yang
menyediakan anjing ataupun babi juga sudah terlihat jelas petunjuknya, jadi
teman – teman tidak perlu khawatir akan salah makan jika teman – teman memang
teliti.
| Pasar Gede tampak dari depan. |
Setelah menyelesaikan mandi dan melaksanakan shalat Dzuhur,
kebetulan Pakde Anto mengajak untuk pergi ke Warung makan, tepatnya Warung
Makan Selat yang dimiliki Mbak Lies, yang cukup terkenal di Surakarta. Yang
perlu kalian ketahui Selat adalah makanan daerah khas Surakarta yang berisi
sayuran dan buah – buahan yang mirip dengan Salad. Tetapi, di beberapa olahan
Selat ada yang menggunakan daging sapi ataupun telur rebus. Ya kalian harus
lihat dan rasakan lah supaya kalian tahu bagaimana bentuk dan rasa Selat khas
Solo tersebut.
| Salah satu spot unik di warung Selat Mbak Lies. |
Setelah Maghrib, kami kembali mandi dan berpakaian rapih
untuk hendak pergi ke kediaman Mbah Tino untuk menghadiri acara pestanya. Dan
pengalaman untuk saya, ternyata resepsi pernikahan di Surakarta sangatlah
berbeda dengan di Jakarta. Disana tidak ada makanan prasmanan, yang ada hanya
makanan yang akan diantar ke satu – persatu tamu undangan mulai dari Teh manis,
beralih ke sepotong kue, satu mangkuk sayur, dan baru makan nasi beserta lauknya.
Semua itu diantarkan satu – persatu dengan urutan yang sudah saya sebutkan.
Jadi, jika saja saat minum Teh manis kita sudah merasa lapar, kita tidak akan
bisa makan berat lebih dulu dari semua tamu undangan yang lain. Karena,
semuanya dimakan dan diminum secara bersama. Dan satu perbedaannya lagi, acara
pesta disana akan dilaksanakan satu waktu. Jadi jika dalam suatu pesta
pernikahan mengundang 500 orang, 500 orang itu akan datang bersamaan, tidak
seperti di Jakarta ada yang datang di siang hari, ada yang datang malam hari,
intinya datangnya berbeda – beda. Jika di Surakarta datangnya ya satu waktu.
Sekitar jam 22 malam acara pesta selesai, kami kembali ke
hotel dan beristirahat sebelum nanti malam saya akan mengajak ayah untuk ke
Gunung Lawu mengecek keadaan disana. Dan yang harus kalian ketahui adalah,
hutan Gunung Lawu terbakar 4 hari sebelum saya berangkat dari Jakarta, yang
menyebabkan pendakian Gunung Lawu ditutup dan mengancam ritual malam 1 Suro
disana nantinya bisa saja batal. Saya berangkat sekitar jam 23 malam mungkin
dengan harapan pendakian disana akan dibuka. Saya kesana ya pasti sudah lengkap
dengan alat pendakian saya. Tetapi, sesampainya disana ya benar saja, yang saya
dapati api yang berkobar di hutan Gunung Lawu, dan bisa ditebak jalur pendakian
ditutup. Itu artinya, saya harus mengurungkan niat untuk mendaki Gunung Lawu
dan menunggu sampai waktu yang tidak dapat ditentukan untuk kembali kesana.
![]() |
| Penampakan api di hutan Lawu dari kejauhan. |
| Hanya posko Cemoro Kandang lah yang bisa saya abadikan saat itu. |
Setelah saya mengetahui keadaan Gunung Lawu yang sedang “kurang sehat”, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hotel, ya yang pasti untuk berisitirahat karena saya gagal melakukan pendakian saya. Yasudah, saya pikir mendaki gunung bisa lain kali, yang penting adalah keselamatan saya.
Sebagai pengganti pendakian gunung, paginya ayah mengajak untuk
pergi ke air terjun, tepatnya Air Terjun Jumog dan ke Candi Sukuh untuk
berekreasi. Sekitar jam 11 lah kami sudah sampai di kawasan air terjun, tapi
untuk mencapai air terjun secara langsungnya kami harus menuruni 116 anak
tangga terlebih dahulu sebelum bisa mandi di bawah kucuran air terjun yang
segar. Sudahlah, disana saya menikmati air dari sumbernya langsung yang sangat
segar. Saya mandi disana sampai 12.30 kemudian saya bilas badan, dan kembali
makan untuk mengisi tenaga. Dan uniknya, dan ini juga pengalaman pertama saya,
disana kami memesan satu porsi sate kelinci, yang ternyata rasanya tak kalah
enak dengan sate ayam.
| Tepat di bawah Air Terjun |
| Sebelum menuruni tangga. |
Selesai makan sekitar jam 14.00 kami bergegas untuk
mengunjungi Candi Sukuh yang memiliki patung – patung yang cukup unik, ada sebuah
patung yang menggambarkan bentuk rahim
perempuan, ada patung alat kelamin yang ditindik, dan banyak patung lainnya. Ya
disana, jelas kami hanya berfoto – foto ria karena tidak mungkin kami berenang
dan mandi di patung – patung disana. Ohiya dan uniknya, di Candi Sukuh, jika
ingin memasuki kawasan candi, kami harus menggunakan kain yang diikat di
pinggang. Saya juga lupa menanyakan apa fungsinya kain tersebut, tapi karena
alasan menghormati, saya tetap menggunakan kain itu. Disana kami tidak berlama
karena kebetulan Candi Sukuh tidaklah sebesar Borobudur maupun Prambanan.
Setelah itu kami kembali bergegas untuk menuju hotel, diselingi dengan sedikit
berhenti di tengah kebun karet untuk berfoto menggunakan hammock yang sudah
kami bawa – bawa sedari Jakarta.
| Santai yang sangat sederhana. |
| Spot paling unik menurut saya yang ada di Candi Sukuh. |
Saya lupa sampai hotel jam berapa waktu itu, yang jelas dari
sampai disana sampai besok paginya kami tidak banyak melakukan banyak hal,
hanya sekedar merapihkan barang – barang bawaan supaya esok harinya ketika
pulang, semua barang sudah siap.
Esoknya hari yang mengharuskan kami pulang akhirnya datang juga,
kereta kami akan berangkat dari Stasiun Purwosari pukul 14.30 jadi selepas
shalat dzuhur kami sudah berangkat menuju Stasiun Purwosari supaya tidak
tertinggal kereta. Setelah itu ya kami naik kereta dan pulang dan selesailah
tentang Surakarta.
| Dilan dan Milea di tengah dinginnya Jakarta malam itu. |
Dan satu pertanyaan terakhir, "Kapan terakhir kalian pergi ke kampung halaman ?" Silahkan jabarkan di kolom komentar, karena pasti ada yang baru saja pulang atau mungkin sudah tak pernah pulang lagi.
Oke sekian dulu catatan perjalanan tentang kota yang indah, Surakarta. Kalo kalian rasa tulisan ini bagus silahkan sukai dan tinggalkan komentar di bawah. Jika ada kesalahan dan kekurangan menurut kalian, silahkan kritik dengan baik. Dan jangan lupa membaca sekaligus menulis.
Yang Santai dan Terpelajar.
Imam Panji.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar