Senin, 30 Oktober 2017

Bersyukur Bisa ke Citambur

Selamat malam gaes. Apa kabar? Baik? Buruk? Atau ga dua duanya? Ya semoga baik baik aja, sama kayak gua yang selalu bahagia dan ceria disini.

Hari ini, malam ini, gua punya cerita yang gua ciptain tanggal 6-7 Oktober. Tanggal itu, kami (Harta, Tahta) kembali pergi ke tujuan yang berbeda dari sebelumnya. Kemana? Yap, Curug Citambur, Kab. Cianjur, Jawa Barat. 184 km dari tempat kami berangkat (Komplek Taman Panda Bintaro). Ceritanya? Di bawah 👇👇👇.

Sebelum kita berangkat, kita udah mulai perencanaan sekitar sebulan sebelumnya karena ini perjalanan yang sangat jauh yang dilakukan oleh 8 pelajar SMA yang tidak memiliki SIM. Touring kali ini yang berkesempatan ikut adalah gua sendiri, Ibang, Mas Mul, Ridwan, Yoga, Jusak, Iam, dan Mamanx Jastin. Kita bawa 4 motor dan bonceng 2 masing - masing motor.

Tanggal 6 Oktober, sesuai rencana kita kumpul di rumah Ibang jam 20.00. Sebelumnya gua lakuin pengarahan ke semuanya, tentang perlengkapan, kemana jalan yang kita lewatin, dan tempat mana aja yang bakal kita jadiin tempat istirahat. Setelah pengarahan sebentar, rencana berangkat kita jam 00.00 tepat, tapi dengan bodohnya kita baru tidur jam 22.30. Dengan estimasi perjalanan sekitar 7 jam, istirahat satu jam untuk perjalanan 7 jam adalah istirahat yang sangat kurang. Jam 23.30 kami semua bangun, dan melakukan segala persiapan.

Jam 00.07 kami semua berangkat, sebelumnya udah berdoa bersama supaya perjalanan dilancarkan. Karena sebagian dari kami ada yang bohong izin sama orang tua, termasuk gua. Kalo yang begini, terserah gimana cara pandang lu. Boleh lu lakuin, tapi kalo lu terlalu takut, jangan. Perjalanan dimulai, rencana gua kita jalan lewat Ciputat - Parung - Puncak - Cipanas - Jln. Raya Cibeber - Curug Citambur. Di Ciputat kita semua full in bensin dulu, supaya safety.

Perjalanan terus berlanjut masuk ke daerah Puncak, dan dengan hati yang masih selalu gemeter karena takut ada Pak Polisi iseng. Sekitar jam 02.00 kami sampai di tempat peristirahatan pertama "Pom Bensin Tugu". Kami istirahat sekitar 30 menitan, sambil minum tolak angin, dan istirahatin motor biar ga overheat. Jam 02.30 kami lanjutin perjalanan kembali. Kondisi aman terus sampai kami masuk Jln. Raya Cibeber, dan galama kami sampai di tempat peristirahatan kedua "Pom Bensin Cibeber". Kami sampai jam 03.56, dan sekalian rebahan, shalat shubuh dan sarapan, jadi istirahat agak lama disana.

Jam 05.30 kami lanjutin perjalanan dan sisa 68km. Dengan kondisi yang lebih prima, kami memacu motor lebih cepat supaya lebih cepat sampai juga. Dari sini, jalanan pegunungan baru terasa, berkelok dan terus menanjak, kami rasain jalanan begitu mungkin sekitar 45 km an. Dan sisa 23 km nya jalanan menanjak dan berkelok sudah tidak kami nikmati, tapi berganti menjadi jalanan yang rusak, berbatu, becek, dan sempit. Sekitar jam 08.00 kami sudah melihat Curug Citambur, padahal jarak dari tempat kami melihat masih sekitar 5 km. Kami tambah semangat sudah melihat Citambur dari kejauhan. Dan jam 08.24 KAMI SAMPAII.

Yang kami lakukan disana tidak langsung berenang, kami langsung gelar warteg sederhana. Alias mengeluarkan kompor portable, gas kecil, nasi matang, dan Mie Instant. Kami langsung buat disana dan sarapan sebelum berenang, ga lupa untuk foto - foto disana. Jam 09.30 kami berenang, kecuali gua. Karena jika berenang semua, tas gaada yang jaga dan untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Jam 10.30 kami selesai berenang dan langsung rapih - rapih. Jam 11.00 kami lakukan perjalanan kembali, tapi tujuan pulangnya adalah rumah gua supaya bisa istirahat dulu.

Perjalanan pulang jalanan yang kita lewati  sama, dan harapannya masih sama, sampai ke rumah tanpa ada kendala sedikitpun. Tapi yang kami harapkan tidak terealisasi, di Jln. Raya Cibeber, setelah shalat ashar, sepertinya ban motor Ibang bocor, setelah dicek, bukan hanya bocor, tetapi ban dalamnya robek dan harus diganti.

Setelah ganti ban dalam, cuaca berubah, tiba tiba hujan turun dengan derasnya mengguyur kami. Setelah keluar dari Jln. Raya Cibeber, hujan berhenti. Tetapi, di Warpat hujan kembali turun dengan intensitas yang lebih deras dari yang sebelumnya. Di satu sisi, ini agak menyeramkan karena riding di bawah hujan yang deras, tetapi di satu sisi ini sebuah berkah, karena hujan yang sangat deras, memungkinkan tidak ada polisi - polisi iseng di jalanan puncak.

Perjalanan terus dilanjutkan, sampai di Bogor kota, hujan tetap turun, sebagian dari kami ada yang kuyup karena hanya memakai jas hujan tanpa celananya. Sampai di Parung, hujan tetap turun walaupun intensitasnya lebih kecil. Kami makin tidak sabar untuk sampai rumah. Sekitar jam 19.30 kami semua sampai di rumah gua, disertai ibang, Ridwan, Jastin, dan Jusak yang jatuh sekitar 2km dari rumah gua.

Setelah sampai di rumah, kami langsung minum teh panas untuk menghangatkan tubuh yang sudah kuyup. Kami memutuskan untuk tidur dulu di rumah gua supaya memulihkan tenaga, tapi berbeda dengan Mulyaji dan Jastin, mereka langsung menuju ke rumah setelah minum teh di rumah dan memilih istirahat di rumah masing - masing. Akhirnya, kami istirahat dengan nyenyaknya. Paginya, jam 06.30 gua bangun, ternyata di kamar gua sisa Ridwan aja, yang lainnya sudah pulang duluan karena ada kegiatan CUJD waktu itu. Dan dari perjalanan itu kami dapet foto, selain foto kami juga dapet banyak pelajaran dari perjalanan 350 km itu. Tanpa SIM, tanpa izin yang jelas. Jelas juga ini kurang baik, maafkan kami kalau terkesan agak nekat, tapi inilah kami.
Persiapan Awal
Pom bensin Tugu


Pom bensin Tugu
Pom Bensin Cibeber
W/ Mamanxs



WE ARE

Kebersamaan

Citambur


Harta Tahta's Logo

Yap, itulah catatan perjalanan dari Curug Citambur. Pertanyaannya masih sama, jadi kapan mau buat cerita sama temen - temen lu ? Gua tunggu cerita - cerita unik dari lu semua. Pantengin terus nih blog, karena beberapa hari ke depan gua bakal kembali lagi dengan satu cerita, karena kemarin Harta Tahta kembali membuat cerita lagi, dimana ? Tunggu aja. Terakhir, Selamat Malam dan sampai ketemu.

Penulis,
Malam Selasa.

Rabu, 20 September 2017

Sekarang, Malah Hal Itulah yang Aku Rindukan

Selamat Malam 1 Muharram , semoga tidak sendu. Malam ini gua kembali, dengan tulisan - tulisan baru. Bicara rindu? Rindu itu fana, semua orang bisa rindu, pada apapun, orang tua contohnya. Tapi gua bukan mau membahas kedua orang tua gua disini. Hal yang lain, penasaran? Gausah gitu.

Detik ini, nama gua masih sama Imam Panji, gaada penambahan atau pengurangan di dalamnya. Di pos - pos gua sebelumnya gua udah ubek - ubek diri gua dan hobi - hobi gua. Sekarang, bisa dibilang gua pemuda yang suka alam, entah gunung, pantai atau apapun yang berbau alam, gua suka. Diantara mereka gua pernah bilang, gunung yang paling sering gua kunjungin dan gua punya alasan tersendiri akan hal itu. Di puncak gua lebih ngerti apa itu hidup, naik gunung bikin gua ngerti apa itu perjuangan dari bawah, dan naik gunung juga bikin gua ngerti di puncak (kesuksesan) itu cuma sementara. Ngomongin gunung, ada hal yang malah bikin gua inget, kejadiannya 2 tahun lalu.

2 tahun lalu, tepatnya awal tahun 2015, tepatnya lagi tanggal 2 Januari, gua lupa jam berapa tapi waktu itu matahari masih menampakan diri. Tahun itu gunung pertama gua yang gua daki, Papandayan, Garut, Jawa Barat. 2622 ketinggiannya katanya cocok buat pendaki pemula kayak gua waktu itu. Berangkat dari Bintaro tanggal 1 dini hari, mulai pendakian tanggal 2 saat matahari keluar menyinari bumi. Kawah, hutan, batu, pasir, sedikit kaget sama medan yang kayak gitu mungkin karena gunung pertama gua. Dan satu hal yang gua inget, kurang lebih 1 jam sebelum sampai Pondok Salada ada yang ngomong sama gua, gua lupa yang ngomong itu antara mas Heggy atau om Suing, itu panggilan yang sering dipake buat manggil mereka, memang begitu. Tiba - tiba gua diceletukin "cot gendong tas (carrier) gua nih" cot? Itu panggilan buat gua dari mereka, entah asalnya darimana. Umur gua waktu itu 14 tahun dan gua geleng kepala liat carrier ukuran 60/70 liter waktu itu gua kurang yakin. Gua bales "ogah mas pegel" waktu itu gua cuma pendaki ikut - ikut an yang naik bawa ransel yang gua pake sekolah. Gatau kenapa waktu itu gua nolak bawa carrier, mungkin karena ukurannya yang besar atau gua yang terlalu kecil? Entah.

Setelah kejadian itu, gua emang belom pernah gendong carrier sampe tahun selanjutnya. Tahun 2016, bulan Mei disitu detik pertama gua gendong carrier ukuran 60 liter, Merbabu tempatnya. Dan benar, pegel. Tapi gua gakapok, akhirnya gua berkesempatan lagi gendong carrier di tahun selanjutnya lagi, bulan Maret, Sumbing Sindoro, 2 gunung langsung. Dan terakhir gua gendong carrier gua bulan Juli lalu, Gede jadi saksinya, malah waktu itu, gua gendong sampe puncak carrier gua. Waktu begitu cepat memang, 2015 gua geleng kepala untuk gendong carrier ukuran segitu, takut pegel kata gua. 2016 gua gendong carrier pertama kali, pegel, tapi ga kapok, sampe akhirnya gua gendong carrier gua lagi di 3 gunung selanjutnya. Dulu gua nolak gendong carrier, namun sekarang? Malah hal itulah yang gua rindukan. Pegalnya, beratnya, besarnya. Gapernah buat gua kapok buat gendong dia, seberapapun jauhnya.

Bicara hal yang gua rindukan ada satu hal lagi untuk hal itu. Tahun lalu, seorang perempuan pernah bicara dan mungkin sering ke gua "Gaada yang mau nanti cewe sama lu" mungkin dia ngomong kayak gitu karena beberapa sifat yang gua lakuin ke dia. Mendengar nya agak serem si, disumpahin gua, tapi yasudahlah. Gua juga sering bilang ke dia "gaada yang mau nanti cowo sama lu" mungkin karena hobinya dia, apa hobinya dia? Mukulin gua, nyubit tangan gua, remes - remes tangan gua, dan hal terkaget yang gua gasangka, dia pernah gigit gua, itu hobi dia. Dan gua juga gamati digituin, masih hidup sampe tulisan ini gua buat. Dan bodohnya kita apa? Kita kemakan omongan kita sendiri. Akhirnya omongan perempuan itu gabener bahwa gaada yang mau sama gua. Omongan gua juga gaterbukti, karena sialannya ada yang mau juga sama dia. Dan namun sekarang, malah hal itu juga yang gua rindukan.

Bicara rindu lagi, setiap orang punya rindunya masing - masing. Saran gua, setiap kali kalian punya kesempatan untuk membayarnya, bayar lah sebelum kalian nyesel. Cari hal - hal yang sekarang malah kalian rindukan, jika kalian punya kesempatan, kalian bayar secepatnya. Itu aja sih. Sekali lagi, selamat malam 1 Muharram , semoga tidak sendu.

Any Request? Comment or call me.

Di Rumah

Tertanda,
Bumi kepada Bulannya. 

Selasa, 19 September 2017

Yang Kembar Saja Kudaki : Gunung Sindoro

Ok sob, balik lagi sama gua nih, Imam Panji. Yang menawan dan baik hati, eitssss. Ga ga, tidak boleh takabur. Di pos ini ada pos tentang kembaran dari Gunung Sumbing yaitu Gunung Si(Ndoro). Tapi, sebelum kalian baca ini lebih baik kalian baca perjalanan di Gunung Sumbing  terlebih dahulu disini daripada nanti kalian bingung karena gabaca dari awal perjalanan.

Perlu kalian ketahui juga, Gunung Sindoro terletak persis di sebrang Gunung Sumbing, menjulang dengan ketinggian 3153 Mdpl di tanah Jawa yang perkasa. Gunung Sindoro memiliki ketinggian yang lebih pendek dibanding Gunung Sumbing tapi hiraukan hal itu, setiap gunung punya cara masing – masing untuk membuat manusia takjub akan dirinya.

Seperti yang gua bilang, pendakian ini gua langsung menjajal 2 gunung yang kebetulan letaknya sangat – sangat berdekatan. Pada tanggal 25 dan 26 Maret 2017 gua udah mendaki di Sumbing dan di tanggal berikutnya 27 dan 28 Maret 2017, I came for you Sindoro.

Jadi tanggal 26 setelah turun dari Gunung Sumbing di sore hari, kami memutuskan untuk menginap di basecamp Garung baru besok paginya melaksanakan perjalanan ke Basecamp Kledung. FYI, Kledung sama seperti Garung, Kledung adalah desa terakhir sebelum melakukan pendakian Sindoro via Kledung.
Gunung Sindoro dari basecamp Garung


27 Maret 2017
Rencana keberangkatan dari Garung ke Kledung adalah jam 08.00 tapi gua udah bangun jam 06.30 waktu itu. Pas bangun, matahari bersinar dan puncak Sindoro keliatan dari Garung. Yang ini baru namanya Good News !!! Karena masih ada waktu 1 setengah jam sebelum ke Kledung lebih baik waktu itu dimanfaatkan untuk kegiatan yang berguna. Jadi, 1 setengah jam itu gua pake buat sarapan, mandi (ga sabunan pastinya, dingin gaes), terus karena cuaca pagi itu cerah sekali jadinya barang – barang yang digunakan di pendakian Sumbing dijemur terlebih dahulu supaya tidak terlalu basah. Karena waktu di pendakian Sumbing kami kehujanan sepanjang  pendakian. Tapi bener aja, berangkat ngaret lagi yaitu mulai ngepak ke dalem mobil jam 09.20. Jam 09.30 kami mulai perjalanan ke basecamp Kledung. Bagi kalian yang ingin melakukan pendakian Sindoro – Sumbing jangan khawatir jarak basecamp keduanya hanya 10 menit berkendara. Dikarenakan faktor logisitik jadi sempet berhenti sekali di minimarket untuk beli keperluan di atas baru menuju basecamp.

Sampe basecamp yang dilakukan sama, urus perizinan dan ternyata ada satu hal yang diingatkan oleh pihak basecamp “Kalo ada yang lagi berhalangan jangan muncak ya mas, cukup sampai pos 3 aja” kalimat itu diucapkan pihak basecamp ke leader kita Bang Bahrun. Dengan sigap bang Bahrun nanya ke tim, dan bener aja ternyata Mba Fitri masih berhalangan. Tapi Mba Fitri bersikeras ingin muncak dan menemui pihak basecamp. Setelah bernegoisasi ternyata dibolehkan dengan syarat Mba Fitri harus mandi dulu. Daripada nunggu mba Fitri lama jadi bang Bahrun memutuskan tim jalan duluan kecuali Bang Bahrun, Bang Alif, dan Mba Fitri supaya bisa menghemat waktu. Dari basecamp Kledung juga tersedia jasa ojek yang tarifnya Rp 15.000 sampai pos 1 dan Rp. 25.000 sampai pertengahan pos 2. Tim yang jalan duluan memutuskan untuk naik ojek sampai pos 1 saja, dikarenakan juga masih punya banyak waktu untuk trekking ke pos 3 (Camping Area). Sekitar 15 menit perjalanan dan sampai di pos 1 langsung dilakukan brifing sama Bang Condet selaku leader dan tidak lupa berdoa. Lalu mulailah kita mendaki, belum sampai di pertengahan pos 2 kita bertemu kelompok Bang Bahrun yang sudah menyusul dengan ojek. Jadi, di pertengahan pos 2 tim memutuskan istirahat sebentar baru melanjutkan pendakian.

Menurut gua, karakteristik jalur pendakiannya 11 12 lah sama Sumbing, hanya saja pendakian Sindoro jalurnya lebih sempit jadi harus lebih berhati – hati. Setelah berlelah – lelah melangkah, akhirnya kami sampai di pos 3 jam 13.15. Sesuai rencana langsung bikin tenda, formasi tenda berbeda, di Sindoro kita hanya membuat 3 tenda dengan dapur yang hanya beratap Fly Sheet saja. Dari jam segitu sampai malam yang kami lakukan hanya makan, bercengkrama satu sama lain dan pastinya berdoa agar kami direstukan ke puncak Sindoro kala itu. Gua tau puncak itu cuma bonus, dan tujuannya adalah rumah, tapi gapernah salah ketika kita ambil bonusnya selama memungkinkan sob. Jam 22.00 kami satu persatu mulai tidur untuk persiapan SUMMIT ATTACK dini harinya yang rencananya akan dimulai jam 03.00.
Suasana pos 1 sebelum pendakian
Kemesraan yang terjadi saat mendaki menuju pos 3
Suasana pos 3


28 Maret 2017
Inilah hari penentuan dan hari spesial yang ke – 16. Gua rasa untuk hari spesial gaada yang tau kecuali bokap dan AA, karena yang lain baru kenal gua. Lanjut, bangun telat yang rencananya jam 03.00 jalan tapi malah jam segitu baru bangun, jadi kami harus sigap karena kami juga mengejar bus balik ke Jakarta jam 16.00. Dengan segala persiapan kami berangkat jam 03.30 yang didahulukan brifing dan berdoa, estimasi SUMMIT attack dari pos 3 adalah 3 – 4 jam tergantung kecepatan jalan. Di perjalanan menuju puncak kita akan banyak melihat banyak pohon lamtoro di kiri kanan kita, gua gatau kenapa padahal di lagunya itu banyak pohon cemara, cuma tak apalah. Sebelum mencapai puncak pendaki bakal melewati satu pos lagi yaitu “Pos 4, Batu Tatah”. 2 jam pendakian langit mulai memerah, penanda bahwa surya akan datang. Perlahan juga Sumbing menunjukkan kegagahannya di belakang, view inilah yang membuat si Gunung Kembar ini juara daripada kalo gunung lain kalo tentang view. Di SUMMIT attack sesekali bang Condet semangatin kita dengan kalimat “Kalo capek nengok atas aja sob” maksudnya adalah nengok atas itu puncak udah nungguin kita di atas, ayo sedikit lagi gitu. Bau belerang makin kecium, makin pusing, kenapa belerang ? Karena Sindoro adalah gunung yang memiliki kawah masih aktif sehingga bau belerang masih tercium. Tapi itu salah satu tantangannya, dari belerang setiap orang itu bisa pusing, atau bahkan sesak pernapasan. Maka gua sarankan di setiap pendakian bawa masker / buff untuk menutupi hidung dari bau – bau seperti belerang ini, karena kalo terhirup secara langsung juga sangat berbahaya. Tepat jam 07.00 suara aktivitas kawah dan suara gemuruh pendaki yang lain terdengar, perlahan terlihat jaket mereka, bendera merah putih. ALHAMDULILLAH, Alam mengizinkan kami mendapatkan puncak Sindoro kali itu.

WE ARE, WE ARE !!!
Satu persatu temen – temen dateng di belakang, setelah semua kumpul ternyata ada pembagian doorprize yang berupa satu buah kaos untuk satu orang, Bang Con ngomong “Kaos ini bakal gua kasih ke orang yang paling kocak diantara kita semua” langsung dah bang Con kasih ke Nindy, setelah itu dia ngomong lagi “1,2,3 SINDORO ! (dengan teriak)” dan yang lain seperti udah punya rencana dan langsung nyanyi selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Wah disitu gua ganyangka bakal dapet kejutan dari mereka yang notabene baru gua kenal 4 hari yang lalu dari hari itu, dan akhirnya kaos yang tadi dikasih ke Nindy ternyata Nindy kasih lagi ke gua. Gua sempet terharu disitu, pertama terharu karena gua bisa ngerayain hari spesial itu di ketinggian 3153 MDPL apalagi bersama ayah yang sudah berkepala 4 tahun ini, kedua terharu karena dapet kejutan dari keluarga baru gua. Di puncak kita ambil foto – foto sampai jam 08.00 dan jam 08.00 kita mulai perjalanan turun ke tenda. Jam 10.50 gua udah sampe di tenda didahului Yoshel dan Aa yang udah mulai ngepak untuk pulang, sisanya nyusul di belakang.
Hadiah dari temen - temen, and ini yang namanya Nindy
W/ Kampret

Setelah semua kumpul, tenda di beresin, carrier di beresin dan kemudian makan siang. Sebelum perjalanan turun dilakuin brifing terakhir dan gua inget satu kalimat lagi dari bang Con “Kalo ga gila emang gagitu, belajar gila aja di gunung, tuh gua dapet kaos kan” dia ngomong gitu karena dia berkesempatan tukeran kaos sama satu pendaki dari Bandung yang bahkan dia baru kenal di Sumbing dan itulah keistimewaan mendaki. Jam 11.45 brifing selesai dan mulai perjalanan turun, sampai pertengahan pos 2 jam 13.30 dan banyak ojek yang menawarkan jasa ke basecamp dengan tarif yang sama seperti naik, gua dan Aa mutusin untuk jalan kaki lagi dan sisanya naik ojek. Gua ama Aa agak jalan cepet karena kita tau bus udah nungguin kita. Sampe basecamp jam 14.15 dan alhamdulillah masih ditungguin. Jam 14.30 kita mulai pamit dari kedua gunung ini, mulai perjalanan ke terminal Mendolo karena tujuan itu rumah sob. Sampe terminal jam 15.15 dan masih ada waktu untuk makan dan bersih – bersih badan dulu. Masuk bus jam 16.00 tapi baru on the way jam 16.30, kami sampai di terminal Kp Rambutan besok paginya jam 04.00 dan saling bersalaman karena ini perpisahan dari pendakian kali ini setelah 5 hari bersama. Dan gua sama Aa langsung sekolah hari itu juga karena ada UTS, gua ke rumah Aa dan mandi disana, karena jika pulang terlalu jauh dan nanti malah gabisa sekolah.


Jadi, itulah catatan perjalanan di Gunung Sumbing – Sindoro 24 – 28 Maret 2017. Banyak pelajaran yang bisa gua ambil dari mendaki, bagaimana kita mengambil keputusan, berbahagia karena hasil yang kita capai, mengerti arti apa itu kebersamaan. Masih banyak lagi sebenernya, dan ini bakal jadi cerita, buat siapapun. Mendaki itu bukan sekedar perjalanan mencari puncak sejati bagi gua, mendaki itu perjalanan hati. Kalo kata ayah “Shalat itu bukan cuma yang 5 waktu, mendaki itu juga shalat, karena mendaki kita juga ibadah bagaimana cara bersyukur dan menikmati karunia-Nya”.
Di pos ini gua juga mau ucapin terima kasih kepada Allah SWT, keluarga baru gua yang gua dapat di trip kali ini, kedua orang tua tercinta yang sudah mendukung, tim Theater Adventure yang berkenan memfasilitasi dan pihak – pihak lain pokoknya. Selain terima kasih gua juga mau ucapin sama – sama ke Averyl karena di blognya dia bilang makasih sama gua karena diajak mendaki.

Jadi setelah gua pos ini, satu pertanyaan “kapan mau mendaki ?” itu terserah kalian karena passion setiap orang beda – beda. Tapi , jika ingin mendaki jangan pernah rusak alam, jangan rusak gunung yang kita tumpang selama pendakian, karena lihat kejadiannya di pendakian gua, ketika di Sumbing ada 1 orang yang ternyata berhalangan ternyata alam tidak merestui, saat di Sindoro ketika sudah tidak berhalangan alam merestui kami. Jadi, gunung itu punya cara tersendiri bagaimana membalas perbuatan pendaki – pendaki yang buang sampah sembarang, corat – coret di batu atau di plang pendakian. Kalo kalian masih lakuin itu sadar sob itu perbuatan norak ! Sekian ok sob ? Iya sekian toh ceritanya udah selesai. Santai dan Terpelajar.

Waktu relatif pendakian Gunung Sindoro

27 Maret 2017
09.30 – 09.50 Perjalanan ke Kledung dari Garung
10.00 – 01.15 Trekking menuju pos 3
01.15 – 22.00 Acara bebas, makan, bercengkrama.
22.00 – 03.00 Istirahat

28 Maret 2017
03.30 – 07.00 SUMMIT ATTACK
07.00 – 08.00 Enjoy puncak, foto – foto.
08.00 – 10.50 Perjalanan kembali ke tenda.
10.50 - 11.40 Re – pack, makan siang.
11.45 – 14.15 Trekking menuju Basecamp
14.30 – 15.15 Perjalanan menuju terminal Mendolo
16.30 – 04.00 Perjalanan kembali ke Jakarta dan pendakian selesai.

Ambil yang perlu diambil, buang yang tidak terpakai !

Rumah Tercinta, 7 April 2017


Minggu, 02 Juli 2017

Diantara Ramadhan,Ujian, dan Lebaran

Hei gaessss, wah lama sekali gua tidak kesini  sejak terakhir gua menulis (12 Mei 2017) dan sekarang sudah tanggal 2 Juli 2017 saja, satu bulan lebih tidak menulis, dan banyak hal yang terjadi selama tidak menulis. Penasaran? Yuk. 

Pertama, sejak terakhir gua menulis bulan Ramadhan masuk dan bahkan sudah selesai sekitar 1 minggu yang lalu. Lama ya? Yap sebulan tuh.

Kedua, sejak terakhir gua menulis para pelajar udah UKK, selesai UN, bahkan sudah sampe terima rapot dan ambil pengumuman nem, dan bahkan juga sudah dapat sekolah baru bagi yang baru lulus SMP dan SD. Kemudian kaka kaka SMA yang lulus tahun ini juga udah lulus semenjak gua terakhir menulis dan sudah ada yang dapat PTN atau mungkin ada yang masih tabah juga untuk SBMPTN/SIMAK/TES masuk universitas tahun depan. Lama ya? Banget bre.

Ketiga, semenjak gua terakhir menulis, musim mudik dimulai dan bahkan banyak dari mereka yang sudah pulang hari ini, dan mudik itu tandanya? Semenjak gua terakhir menulis Idul Fitri sudah diperingati oleh teman - teman yang beragama Islam. Kemudian bukan agama Islam saja, semenjak gua terakhir menulis teman - teman kita yang Kristen pun sudah memperingati Kenaikan Isa Almasih pada 25 Mei 2017 dan sejak terakhir gua menulis juga Pancasila merayakan hari brojolnya pada 1 Juni 2017.

Keempat, semenjak gua terakhir menulis, sekuel ke 5 film Transformers rilis dan sudah gaada lagi di bioskop Indonesia. Kemudian selain itu Piala Konfederasi 2017 sudah kick off dan hari ini bakal jadi hari terakhirnya. Wah bener - bener lama gua ga kesini berbagi cerita sama kalian. Pada nyariin ga ya? Kayaknya engga deh, tapi yasudahlah, ini tulis - tulis an gabut untuk kalian. 

Karena banyak hal yang gua lewatin kayaknya banyak hal juga yang harus gua ucapin jadinya.
1. Selamat memperingati hari Kenaikan Isa Almasih bagi kawan - kawan yang beragama Kristen, semoga Tuhan memberkati kalian.
2. Kepada Pancasila, selamat ulang tahun, panjang umur sehat selalu, karena Saya Indonesia, Saya Pancasila!
3. Kepada teman - teman yang Muslim dan muslimah, selamat menunaikan ibadah puasa (alig baru bilang gua, tapi ga apalah) semoga puasanya lancar terus gaada hambatan, bahkan gua juga sekalian selamat memperingati Hari Raya Idul Fitri gaess, Hari Kemenangan!
4. Kepada para para pelajar, selamat atas hasilnya, baik nem, nilai rapot, atau hasil tes - tes di PTN untuk kakak - kakak. Doakan adik - adik mu bisa menyusul.
Dan terakhirrrrr, kepada semuanya, maafkan gua sebagai penulis di blog ini bila ada tulisan - tulisan yang kurang berkenan di hati kalian, mari kembali suci di hari Fitri, Minal Aidzin wal Faidzin Mohon Maaf lahir batin.

Mungkin itu dulu tulisan spesial karena gua lama tidak kesini, semoga kalian gamarah dan mengerti, yaelah. Yasudahlah, pergi saja lah gua. Sampai ketemu di tulisan - tulisan selanjutnya, gaes. 

Imam Panji.

Jumat, 12 Mei 2017

Hidup Itu Pilihan

Wey sob, asik jos ketemu lagi sama gua yang menjadi satu – satunya penulis di blog ini. Kali ini males gua berbagi cerita, pengen memberikan motivasi yang mengarah kepada curhat juga sebenernya. Hari Jum’at kan sekarang, ada aja yag bikin ga enak ni hari. Biasa Pak GEOGRAFI memberi tugas lagi sebanyak 30 soal padahal tugas 30 soal yang 2 minggu lalu aja belom selesai, ya slow lah slow NAMANYA juga HIDUP. Ngomong – ngomong hidup itu sih yang sebenernya pengen gua omongin karena ada beberapa hal yang buat gua bingung di hidup ini, itu hal yang pasti.

Gua emang masih pelajar kelas X SMA yang insya Allah sedikit lagi mau kelas XI, tapi yang namanya pilihan Universitas mana yang akan dituju itu pasti udah harus dipikirkan. Namanya juga hidup ya itu pilihan, wajar kalo kita udah memilih sesuatu pasti udah ditungguin sama pilihan selanjutnya. Kalo gua emang maunya kan masuk sekolah kedinasan setelah nanti lulus SMA itu target gua, karena cita – cita gua itu TNI AD atau jadi polisi ya (TAPI BUKAN POLISI LALU LINTAS), gua yakin banget itu tujuan gua tapi semua berubah setelah SNMPTN kakak – kakak kelas XII kemarin. Gua nanya ke salah satu kakak kelas XII yang gua kenal deket.

“Kak gimana ? SNM dapet ?” “Dapet di UNSOED fakultas geologi” “Alhamdulillah kalo gitu, kak gua pengen nanya nih”.

Singkat cerita gua bilang kalo gua mau masuk AKMIL / AKPOL tapi gimana nanti urusannya sama SNMPTN, terus katanya itu tergantung prioritas lu, kalo lu ikut SNMPTN terus diterima lu gaboleh nolak walaupun mau ke kedinasan, karena kalo sampe ditolak sekolah bakal diblacklist sama Univ yang lu tolak dan nanti kasian adek – adek lu.

Dari situ gua bingung parah, karena pasti kalo AKMIL / AKPOL sekitar bulan Maret itu udah dibuka pendaftarannya sedangkan pengumuman sekitar Juli / Agustus. SNMPTN sendiri tahun ini aja bulan APRIL sudah pengumuman dan SBMPTN nya pertengahan bulan Mei ini, jadi yang harus lu pahami jika gua milih kedinasan otomatis gua ga ikut SNMPTN dan kemungkinan besar ga ikut SBMPTN jika saja bulan Mei gua masih seleksi di kedinasan kan. Akhirnya untuk minta pendapat lain gua nanya satu orang kelas XII lagi Farrel namanya, kata dia tergantung prioritas lu juga seandainya milih kedinasan toh pait – pait nya gaketerima lu bisa ikut seleksi dan SBMPTN tahun depan nya lagi, yang penting lu belajar dari kesalahan lu kenapa gabisa diterima. Kemudian untuk meyakinkan hati gua, gua mau nanya ke satu kelas XII lagi, orangnya pinter, humoris terbukti dia peringkat 2 seangkatan IPS yang isinya sekitar 140 an orang, tapi kenyataannya dia gadapet Univ di SNMPTN so dia masih berjuang lewat SBMPTN, dari sini gua mikir peringkat 2 seangkatan aja bisa gadapet PTN lewat undangan, sesulit itukah SNMPTN ? Setelah gua tanya kenapa dia bisa gadapet SNM jawaban dia satu kalimat “Ibu gua maunya gua masuk ke kedinasan mam, gua tetep maksa mau ke PTN eh akhirnya gadapet” yang bisa gua tangkep dari omongannya adalah dia gadirestui ibunya kalo ke PTN karena emang ibunya maunya kedinasan, sampe rumah gua langsung nanya kedua orang tua gua mereka punya restu kemana.


“Bun, yah, maunya mas imam ke AKMIL atau PTN ?” “Ya kalo bunda terserah yang penting kamu nyaman, kamu suka nya yang mana” itu kata bunda gua, ayah gua beda cerita “Ayah juga terserah, kalo kamu mau PTN emang maunya kemana ?” gua jawab ya gausah jauh – jauh UI, UIN atau UPN aja biar tetep bisa pulang tiap hari gausah nge kost “Kalo kamu mau Univ yang deket mendingan gua suruh jadi GOJEK aja biar ga usah minta jajan, kalo ga jauh nanti kamunya ga mandiri – mandiri gimana nanti kalo udah punya cewe” Jadi ayah gua punya satu tujuan yang beda dari bunda gua tapi di ujung kalimat ayah kembali ngomong “tapi sebenernya mah ayah tetep maunya kamu ke AKMIL biar di keluarga Suroto tuh ada sejarahnya” GUA YA MAKIN BINGUNG LAH, secara alus walaupun gabilang langsung ayah itu maunya gua ke AKMIL bukan PTN, berarti restunya itu ke AKMIL kan, gua gamau kejadian kayak salah satu kakak kelas gua yang tetep ikut SNMPTN padahal itu bukan restu ortunya, tapi gua juga dibayang – bayangin “APA YANG AKAN GUA LAKUKAN DALAM 1 TAHUN JIKA NANTI GUA GADITERIMA DI KEDINASAN” apakah gua nganggur ? Hal ini yang masih gua pertimbangkan sampe gua ngetik kata ini.
ITB

AKMIL

UGM

UI
Empat gambar di atas semuanya keren, kece, gagah tapi sayang ga bisa empat - empatnya dijalanin, cuma ada satu yang harus dipilih yang akan menentukan masa depan nantinya.

Mungkin dari kalian – kalian yang membaca ini bisa beri pendapat atau saran untuk gua sekaligus bisa membantu gua dalam menentukan pilihan ini, sama kayak judulnya HIDUP ITU PILIHAN bahkan untuk hal – hal sepele pun semua itu pilihan sesepele ojek online mana yang harus kita pake saat kita mau berpergian itu juga pilihan, kita makan mie instant make garpu atau engga itu juga pilihan. Yang penting bagaimana kita memilih hal tersebut. Diperjalanan pulang tadi gua juga sempet nanya satu hal sama Yoga “Yog, lu lebih milih hal yang pasti – pasti apa yang gapasti – gapasti ?” Dia bilang itu semua terserah gua setiap pilihan ada kurangnya, kalo lu mau hidup lu lurus - lurus aja pilih yang pasti buat lu, tapi kalo lu milih yang gapasti terus gadapet bukan berarti lu salah. Salah 1 kali atau 2 kali selama hidup itu bukan hal yang aneh, bahkan lu bisa belajar dari situ. Jadi gimana ? Tentukan pilihan kalian dengan baik dan benar ya gaes.

Pertanyaan ah biar pinter,
“Apa itu tenaga Endogen ?”

Jawab di kolom komentar dengan baik dan jangan asal, sampai jumpa jangan rindu.

(I-Rary)