Jumat, 29 September 2023

Sebuah Pepatah: Kecil-Kecil Cabai Rawit

Ribuan pepatah yang berlaku di dunia ini, tapi satu yang paling cocok untuk pendakian kali ini, "Kecil-Kecil Cabai Rawit". 

Pada akhir Juni 2023, tepatnya di tanggal 24-25 Juni, syukur masih memiliki kesempatan untuk mendaki gunung kembali. Pendakian kali ini tidak terlalu jauh tapi sangat berkesan dan menjadi salah satu gunung yang membuat aku penasaran sejak 4 tahun yang lalu, Gunung Salak. Seperti biasa, hari-hari kini, selalu memutuskan mendaki dengan jumlah yang tidak terlalu banyak supaya lebih mudah mengorganisir tim. Sehingga kali ini pendakian terdiri dari 4 orang, aku, Tiara, Ridwan (kawan lama yang akhirnya berhasil berjumpa lagi di trek pendakian), dan Habibie (pemula di pendakian kali ini). Sebenarnya sebuah keputusan yang berani untuk mengajak pemula mendaki Gunung Salak, tapi apa boleh dikata, aku selalu punya prinsip jangan berikan pemula gunung yang "enak" karena nanti jadi meremehkan pendakian gunung. Lagipula Gunung Salak juga sudah terkenal menjadi spot favorit tempat pelatihan dan pendidikan (Diklat) ratusan organisasi pecinta alam di Jabodetabek, jadi inilah saatnya. 

Kesepakatan membawa kami memilih jalur pendakian Pasir Reungit yang terletak di Leuwiliang, Bogor. Pasir Reungit memang jalur terpanjang dibanding dua lainnya yaitu Cidahu dan Cimelati, namun karena pertimbangan akses yang lebih mudah sekaligus melewati Kawah Ratu, jadi Pasir Reungit terpilih, sambil menyelam minum air, begitulah kira-kira. Pada tanggal 23 Juni 2023 kami sepakat berkumpul di rumahku, yang sekaligus rumah Tiara juga. Kami packing sebentar di malam hari dan melakukan pemeriksaan terakhir supaya tidak ada yang tertinggal, lalu kami istirahat. Pada pukul 02.00 WIB, kami mulai bangun, dan persiapan untuk melakukan perjalanan menuju pintu pendakian Pasir Reungit menggunakan sepeda motor. Ya, pendakian ini agak berbeda, karena Gunung Salak yang relatif masih dekat, aku memutuskan menggunakan motor saja untuk sampai ke basecamp, walaupun itu artinya harus menyetir sendiri yang membutuhkan tenaga, tapi tak apa. Jam 03.00 kami berangkat setelah pamit dengan orang tua, sekitar jam 05.30 kami sudah sampai di basecamp Pasir Reungit diselingi berputar-putar sebentar karena jalur masuk basecamp yang tidak terekspos di pinggir jalan. Kemudian kami melaksanakan Shalat Shubuh yang terlambat, sarapan, sembari menunggu petugas basecamp datang, kemudian registrasi, dan pendakian dimulai pada pukul 08.00. 

Trek awal pendakian termasuk masih sangat ramah pendaki pemula, landai, batu yang tersusun, dan jelas, sehinga kemungkinan kecil untuk mengalami disorientasi arah. Sepanjang jalur pendakian juga ditemani sungai yang mengalir tanpa henti, itu berarti sumber air sangat aman di Gunung Salak, setidaknya sampai Simpang Bajuri, namun itu berarti jalurnya juga basah dan lembab. Jalur pendakian terus begitu sampai di pukul 11.00 kami sampai di area Kawah Ratu, disini banyak juga dijumpai wisatawan yang hanya sekedar ke Kawah Ratu kemudian pulang. Itu sebabnya jalur dari basecamp dibuat sebaik mungkin karena memang jalur wisata. Di Kawah Ratu cukup lama, sebab selain foto-foto, kami sempat bingung mencari jalur pendakian menuju Simpang Bajuri, sehingga sempat berhenti dan mencari sejenak. Setelah Kawah Ratu istirahat sebentar sekitar 15 menit sembari menunggu waktu dzuhur selesai, kemudian pendakian dilanjutkan menuju Simpang Bajuri, jalurnya pun masih sama, landai dan batu bersusun, karena ini juga menjadi jalur wisata ke Kawah Ratu, namun via Cidahu.

Kemudian pendakian dilanjutkan, sesuai rencana kami akan bangun tenda di Simpang Bajuri, kemudian malam hari summit attack. Setelah melewati pos helipad, kami sampai di Simpang Bajuri sekitar jam 13.00. Lalu kami membangun tenda, mengambil persediaan air, memasak untuk makan siang, kemudian istirahat. Selama siang sampai malam pun tidak ada aktivitas yang terlalu berarti, malam memasak lagi, makan, kemudian istirahat untuk persiapan summit attack, karena perjalanan summit attack lebih panjang dari perjalanan hari ini, iya, masih 5 Km lagi serta 5 jam estimasi. Aku lupa bilang, sepatu Tiara sudah jebol saat ini, sehingga harus ada yang berkorban.

Malam harinya kami bangun, dengan persediaan nasi yang sudah dimasak sebelum tidur, kami memasak mi instan untuk tenaga tambahan sebelum summit. Setelah berbagai persiapan, kami memulai pendakian menuju puncak tepat pukul 03.00 WIB. Saat itu sepertinya baru kami yang mulai berjalan walaupun sebenarnya itu juga sudah telat 2 jam dari rencana awal, sebab pada pukul 01.00 kabut masih cukup tebal sehingga aku tidak berani untuk membawa tim berjalan. Perjalanan menuju puncak memiliki tekstur tanah, lembab, dan beberapa tempat mewajibkan pendaki rela kakinya terendam tanah setinggi mata kaki. Walaupun begitu, setiap 100 meter jalur menuju puncak terdapat patok yang dimulai dari HM 1 sampai dengan HM 50 (Puncak Salak 1), sehingga jika dalam kurun langkah tertentu HM tersebut tidak kita temukan, sudah dapat dipastikan, kita salah jalur.

Pendakian awal masih bugar, bahkan kami baru berhenti ketika adzan shubuh berkumandang, sekitar pukul 04.30 di antara HM 17 dan 18. Perjalanan menuju puncak pun kami sempat bertemu dengan beberapa pendaki yang ternyata bermalam, padahal kami pikir Simpang Bajuri adalah campsite terakhir. Kami bertemu kumpulan tenda yang cukup banyak di HM 25, dan di HM 30 kami juga bertemu satu tenda yang pada saat itu matahari sudah menampakkan sinarnya. Kami terus berjalan, beberapa jalur justru turun dahulu baru naik kembali, jalur menuju puncak ini memang banyak diputar karena memang cukup vertikal jika langsung menanjak. Kami sampai di Puncak Bayangan, juga tepat HM 39 sekitar jam 07.30, kami istirahat sebentar, karena setelah ini kami akan mendaki tebing, bukan tanah lagi.

Beberapa tebing harus dilewati dari Puncak Bayangan menuju Puncak 1, untungya di setiap tebing juga terdapat tali sebagai bantuan untuk mendaki. Memasuki HM 49, dapat dibilang pendakian "selesai" karena jalur melandai dan melewati kumpulan pohonan, sampai akhirnya 100 meter kemudian kami sampai di HM 50 sekaligus Puncak Salak 1 pada pukul 09.00 disertai puluhan tenda yang bermalam di atas, yang tidak kami sangka ternyata ada yang bermalam di Puncak. Pendaki yang bermalam di puncak sebagian besar berasal dari jalur Cimelati, namun ada beberapa pula yang berasal dari jalur Cidahu dan Pasir Reungit. 45 menit selebrasi, setelah itu usai, kami harus turun lagi ke Simpang Bajuri, 5 Km lagi harus ditempuh.

Formasi saat turun berubah, aku meminta Ridwan duluan saja dan turun lebih cepat untuk memasak sembari mencicil merapihkan tenda, sebab jika mengikuti tempo Tiara dan Habibie, mungkin kami akan sampai basecamp larut malam. Benar saja, Ridwan sampai sekitar waktu dzuhur, dan kami bertiga sampai di jam 13.00, syukur nasi sudah matang sehingga tersisa memasak sayur. Kemudian kami makan, berkemas, dan turun tepat pukul 15.00. Perjalanan turun sampai Kawah Ratu semua masih normal, 50 menit kami sampai Kawah Ratu. Tetapi dari Kawah Ratu menuju basecamp, ada sesuatu yang terjadi entah apa. Saat mendaki, kami membutuhkan 3 jam menuju Kawah Ratu, dan ternyata, saat turun kami menghabiskan waktu 3 jam juga sehingga baru sampai di Basecamp pukul 19.00, sangat di luar dugaan dan tidak pernah mengalami hal seperti ini, sebab seharusnya perjalanan turun lebih cepat dari perjalanan naik. Tapi sampai saat ini, aku belum tahu apa yang terjadi, semoga baik-baik saja.

Setelah makan dan berkemas, pendakian berarti selesai. Aku, Tiara, dan Habibie pulang menuju rumahku, sedangkan Ridwan langsung bertolak ke rumahnya, kami berpisah arah di Parung, dan suatu saat akan kembali lagi ke Salak, karena seluruh foto di kamera hilang sebab SD Card terpaksa diformat.

Setiap pendakian selalu punya ceritanya masing-masing, begitu juga Gunung Salak. Konon katanya Salak bukan berarti buah yang kita kenal, namun berasal dari kata Salaka yang berarti "Perak". Sehingga secara harfiah Gunung Salak memiliki arti Gunung Perak. Tapi apapun itu, bagiku, Gunung Salak adalah kecil-kecil cabai rawit!

Jumat, 21 Januari 2022

Satu Per Satu #2

Kata orang bijak, badai pasti akan berlalu. Ucapan itu kadang bisa dibenarkan, kadang juga tidak.

Itulah yang kami alami malam itu, badai tak kunjung berhenti hingga pagi. Bahkan jam 03.00 WITA, kerangka tenda kami sempat lepas karena angin yang terlalu kencang, memaksa kami terbangun dan harus memperbaiki tenda supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun perbaikan sifatnya hanya sementara, karena hari masih gelap, dan angin yang menerpa tubuh terasa sangat dingin.

Fajar menyingsing, ternyata cuaca sangat cerah hari itu, 27 Desember 2021. Segara Anak jelas di depan tenda, di belakang Dewi Anjani menyapa ingin digapai. Tapi ini memang bukan hari kami, pada hari ini, jadwalnya adalah turun ke Segara Anak (bagi yang mau) dan kemudian kembali lagi ke Pelawangan Sembalun. Waktu yang dibutuhkan untuk turun adalah sekitar 3 jam, dan untuk kembali naik sekitar 5-6 jam. Dengan kekuatan fisik aku dan menimbang untuk Summit Attack esok malam,  aku memutuskan untuk istirahat saja di tenda sembari menjaga tenda lainnnya dari serangan monyet-monyet. Bagiku, sudah cukup melihat Segara Anak dari sini, aku sudah tau kamu indah.

Arip dan Eca termasuk rombongan yang ikut untuk turun ke Danau, tapi sekitar jam 11 Arip dan Eca malah kembali ke tenda, pikirku sudah sampai, tapi ternyata mereka memutuskan kembali karena perjalanan masih jauh. Kejadian ini membuat aku merasa mengambil keputusan yang tepat untuk tidak ikut ke bawah. Hari itu, tak banyak yang kami lakukan, hanya banyak berbicara dan istirahat di tenda untuk persiapan esok harinya. Dan kami tidur sekitar jam 21 WITA untuk mulai berjalan sesuai rencana pada jam 01 WITA.

28 Desember 2021, hari yang kami nantikan. Di tengah kegelapan kami masih bisa melihat samar-samar puncak Rinjani tidak tertutup apapun, pertanda cuaca baik, dan semoga akan bertahan. Setelah makan, satu rombongan bersiap untuk menggapai puncak bersama-sama, walaupun rencana hanyalah rencana, kami mulai berjalan pada jam 02 WITA. Sekitar 30 menit berjalan dari Pelawangan, trek sudah berubah menjadi pasir, dan membuat tenaga lebih cepat terkuras karena sekali melangkah, kaki akan merosot setengah langkah, terus begitu sampai menjelang puncak.

3 jam berjalan, kami sampai di pinggir jurang, punggungan gunung. Perjalanan dari sini akan terus menyusur di sisi jurang sampai ke puncak, sesekali angin juga berhembus dan memaksa kami berlindung di balik bebatuan karena memang tidak ada apa-apa lagi disini selain batu dan pasir. Tak sadar hari mulai terang, saat itu juga kami mematikan senter karena jalur sudah jelas terlihat, kadang kondisi pendakian terang malah membuat mental lebih cepat tergerus, karena jalur yang terlihat jelas membuat kesan tujuan tidak kunjung sampai, padahal sama saja, langkah kaki kami tetap mencicil pelan-pelan.

Jam 07.30 pagi kami sampai di Letter E Rinjani, mental sudah tergerus, ditambah berjumpa dengan rombongan kami yang pertama sampai puncak pukul 6, ternyata sudah turun. Membuat kami semakin bertanya-tanya. Namun, perlahan tetap kami lanjutkan, jangan sampai kami bermimpi setelah pulang dan berhutang kepada Rinjani, walaupun Rinjani memang tidak akan kemana-mana.

Puncak semakin dekat, sekitar jam 09 WITA, akhirnya kami sampai di puncak Rinjani yang cukup mungil, sehingga harus antre untuk mengabadikan momen yang mungkin sekali seumur hidup ini. Kami memutuskan tidak berlama di atas, karena hari ini juga harus turun sampai basecamp. Sekitar jam 09.30 kami turun, dan sampai di Pelawangan Sembalun pukul 13 WITA. Setelah makan dan berkemas, kami mulai perjalanan turun, walaupun tubuh juga sudah lelah, namun karena terbatas SIMAKSI dan peraturan, mau tidak mau kami memang harus turun.

di Dewi Anjani

Pukul 17 WITA kami sampai di pos 2, ternyata kaki saya sudah sakit sekali, karena menahan beban tubuh selama turun. Sebab perjalanan ke kandang sapi masih sangat jauh, kami memutuskan untuk naik ojek yang memang tersedia di pos 2, setelah tawar-menawar dan menemui kesepakatan, sekitar maghrib kami sudah di kandang sapi dan menunggu jemputan.

Malam itu kami rapih-rapih, makan penyetan ayam di depan basecamp, tidur, dan esoknya perjalanan dilanjut ke Gili Trawangan sebelum kembali ke rumah dengan metode yang sama. Pelabuhan Lembar-Pelabuhan Ketapang-Tol Trans Jawa.

Mengutip dari kata-kata Pandji Pragiwaksono dalam videonya, Ia pernah berkata "jangan sekali-kali kubur mimpi kamu, karena sekeras apapun kamu pukul, mimpi itu hanya akan pingsan, dan suatu saat akan bangkit di usia tuamu dalam bentuk penyesalan". Seperti kalimat awal tulisan ini di episode #1, hidup adalah persinggahan untuk menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu. Dan ini adalah mimpi kami, 7 summit yang mana selanjutnya?

Tim Luar Biasa
Snorkling
Kulit terbakar di Gili Trawangan

Terima kasih untuk Allah, Ayah, Bunda, Tiara, Cantika, Rizka, dan Eppala Adventure dalam perjalanan ini. Terima kasih juga untuk kawan-kawan rombongan, perjalanan ini akan dikenang.

Kisah ini berakhir.

Senin, 17 Januari 2022

Satu Per Satu #1

Hidup adalah sebuah persinggahan. Persinggahan menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu.

Itulah yang saya gagas dalam perjalanan kali ini. Kembali memenuhi agenda tahunan untuk mendaki, jodohnya tahun ini adalah Rinjani, iya salah satu 7 summits Indonesia dan menjadi urutan ke-3 di daftar tersebut. Rinjani juga menjadi gunung ke-2 aku dan kami dalam rangkaian 7 summits, setelah sebelumnya pada 2020 kami berkunjung ke Kerinci.

Perjalanan ini dimulai sejak Oktober, tahap persiapan. Aku dan Rizka (partner perjalanan ku) banyak berdiskusi tentang kemana kami tahun ini, Rizka ingin ke Semeru (Oktober itu Semeru belum meletus), namun sepengetahuan ku Semeru memang sudah ditutup sejak Juli akibat kebijakan PPKM. Sedangkan aku ingin ke Rinjani -gunung yang katanya punya banyak sekali keindahan-. Namun itu berarti, kami kembali mendaki di luar Pulau Jawa dan harus menyiapkan dana lebih banyak. Dengan berbagai pertimbangan, keputusan bulat untuk ke Rinjani menggunakan open trip, bukan perjalanan independen. Singkat cerita kami persiapan ekstra, dan perjalanan baru akan dimulai pada 23-30 Desember 2021.

Hari beranjak, tibalah 23 Desember hari keberangkatan kami, kembali melakukan perjalanan via darat dan bertemu di UKI Cawang untuk titik temu Kota Jakarta, setelah sebelumnya bus berangkat dari Bandung dan Bogor. Sekilas informasi mengatakan kami akan berangkat sekitar 50 an orang, dan memang benar karena bus yang kami gunakan adalah armada besar. Jam 13.30 WIB kami berangkat dari UKI Cawang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Agendanya kapal akan bersandar pukul 19.00 WIB keesokan harinya, namun karena kami telat datang, kami kebagian kapal jam 23.00 WIB, tetapi kendala terjadi kembali, kapal yang harusnya tiba pukul 23 tersebut mengalami kerusakan, sehingga kami harus menunggu sampai jam 7 pagi untuk berlayar ke Lombok. Benar-benar pengorbanan yang luar biasa.
Kebersamaan di Kapal

Perjalanan laut dari Banyuwangi ke Lombok cukup lama, kami sampai di Lombok sekitar jam 01.00 WITA keesokan harinya. Langsung bertolak ke Desa Sembalun yang masih harus ditempuh 4-5 jam perjalanan, sekitar jam 07.00 WITA kami sampai di basecamp bang Ady. Karena keterlambatan kapal, pagi itu juga kami harus langsung mendaki, karena sesuai dengan SIMAKSI yang kami urus, pendakian dilakukan tanggal 26-28 Desember 2021.
Makan di Ketapang

Pendakian dimulai dari kandang sapi, setelah dari basecamp menaiki mobil bak terbuka. Setelah berdoa, kami memulai pendakian sekitar pukul 11 WITA, ketika matahari hampir di puncak teriknya. Mendaki dengan jumlah 50 orang tidak mudah, rombongan menjadi terpecah-pecah secara otomatis sesuai gaya mendakinya. Lagipula, siang itu Rinjani panas sekali, leher cepat kering, kaki cepat panas, laksana hatimu. Sekitar jam 13 WITA saya sampai di pos 2, kondisi pos 2 lumayan nyaman, ada beberapa pendopo yang dapat  digunakan untuk istirahat. Sekitar 15 menit istirahat, kami lanjutkan perjalanan, trek Rinjani sampai pos 3 cenderung landai dan terbuka. Sangat minim pohon besar di jalur pendakian, ini juga yang menyebabkan cuaca (apapun itu) akan langsung mengenai tubuh karena tidak terhalang.
Kandang Sapi

Perjalanan ke pos 3 cenderung dekat, sekitar jam 15 WITA kami sudah sampai di pos 3. Disini istirahat cukup lama, karena katanya setelah ini pendakian baru akan dimulai, jadi tadi apa? Jalur selanjutnya adalah bukit penyesalan -yang cukup terkenal di Rinjani itu-. Katanya juga ini jalur yang melewati 7 bukit dan seakan tak habis-habis. Memang, awal memasuki jalur, konturnya berbeda dengan jalur dari kandang sapi sampai pos 3. Sejak pos 3 jalur lebih curam dan menanjak, tentunya juga semakin menguras tenaga karena hari semakin larut. Jam 16.30 WITA sampai di pos 4 dalam kondisi gerimis, tapi bukan disini tempat kami bermalam, namun karena perut kosong, memutuskan untuk membuka perbekalan sejenak sebelum berlanjut. Di pos 4 juga sudah banyak tampil monyet-monyet yang berusaha merebut makanan pendaki, hal inilah yang juga patut diwaspadai ketika ingin mendaki Rinjani.


<Jalur dari kandang sapi - pos 3>









Setelah itu perjalanan di lanjut, katanya Pelawangan Sembalun masih 4 jam lagi dari pos 4, itu artinya kami akan melintas malam. Mau tidak mau ini dilakukan, karena memang tempat paling ideal untuk bermalam adalah di Pelawangan. Tubuh sudah lelah sekali di titik ini, ingin naik jauh, ingin turun sia-sia. Jalur Rinjani sudah tidak terlihat lagi, pandangan kami hanya sebatas senter yang kami gunakan, namun rasanya sama, tidak sampai-sampai, dimana Pelawangan? Setelah perjalanan panjang dan melawan diri sendiri, jam 21.30 WITA kami sampai di Pelawangan, kami salah satu rombongan yang di belakang saat itu, karena sudah ada beberapa kawan yang sampai Pelawangan lebih dulu, di Rinjani, kami satu tenda dengan Arip dan Eca, begitulah Ia dipanggil, selama 2 malam berbagi cerita juga tawa dengan caranya masing-masing. 

Tak banyak yang dilakukan, malam itu makan kemudian tidur, namun malam itu tidak mengasyikkan karena dini harinya kami diserang badai.

Akan berlanjut.

Rabu, 20 Oktober 2021

Arsip

Bukan apa-apa, hanya ingin menyimpan kisah perjalanan mendaki Desember 2020 dengan beberapa gambar. Agar kelak bisa diceritakan ke generasi selanjutya. Belum sempat menulis, dan juga sudah lupa kronologi detailnya saat pendakian dilakukan, maklum manusia, memorinya terbatas walaupun kisahnya sangat indah. Jadi khusus yang ini, kusediakan gambar saja, semoga cukup untuk menggambarkan segalanya.

Puncak Kembang

Jalur Ekstrem Sumbing

Puncak Sejati Sumbing


Sok-sok an membaca peta


Destinasi : Gunung Kembang dan Gunung Sumbing, Wonosobo, Jawa Tengah.

Terima kasih untuk pengalaman di perjalanan kali ini.


-Imam Panji

Jumat, 08 Mei 2020

Keputusan Luar Biasa di Tengah Pandemi yang Melanda

2020 memang menjadi tahun yang mengejutkan bagi Indonesia bahkan untuk dunia. Tak disangka wabah melanda dan membuat segala aktivitas terbatas. Di tengah kejadian tersebut, ada satu keputusan yang dapat disoroti di negara ini, “Pembebasan narapidana”. Keputusan ini dibuat oleh Kementrian Hukum dan HAM yang disampaikan oleh bapak Yasonna Laoly selaku menteri hukum dan HAM, keputusan yang cukup kontroversial dan menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat.

Disampaikan bahwa tujuan utama Kemenkumham melakukan ini adalah untuk menekan laju penyebaran virus corona di dalam Lembaga Pemayarakatan (LAPAS) dan Yasonna Laoly berdalih “Hanya orang yang sudah tumpul rasa kemanusiaannya dan tidak menghayati sila kedua Pancasila, yang tidak menerima pembebasan napi di lapas over kapasitas”. Begitu katanya, tapi mari dikulik lebih dalam dari dua sisi, apa yang menyebabkan keputusan ini dibuat dan apa sebab keputusan ini ada yang menolak.

Sisi baiknya, sesuai dengan yang dipaparkan Yasonna Laoly tindakan ini sudah sesuai dengan anjuran Komisi Tinggi PBB untuk HAM, dan Sub Komite PBB Anti – Penyiksaan. Itu artinya Indonesia menjadi negara yang dianggap patuh di mata PBB pula Iran dan Brazil yang lebih dahulu merespon anjuran ini dengan jumlah 95.000 orang dan 34.000 orang. Hal lain pula, jika memang LAPAS kelebihan kapasitas, itu berarti LAPAS menjadi lebih lengang dengan pelepasan sebagian napi dan menjadi lebih memungkinkan untuk melakukan physical distancing di dalam LAPAS yang berarti pula hal itu sesuai dengan anjuran WHO dan pemerintah. Yang perlu dipahami juga napi yang dibebaskan harus memiliki kriteria, yaitu : sudah dalam 2/3 masa pidana untuk dewasa dan ½ untuk anak jatuh sampai 31 Desember 2020, tidak sedang menjalani subsider, dan bukan WNA. Yang dibebaskan tidak termasuk dalam napi terorisme, narkotika, korupsi, dan kejahatan terhadap keamanan negara. Dengan kata lain, mereka adalah kriminal biasa atau napi pidana umum. Jadi, bukan sembarang napi lah yang dibebaskan namun terdapat kriteria tertentu yang harus dipenuhi, jika kriteria tersebut terpenuhi napi dapat bebas.

Bukan hanya keputusan, semua hal pasti memiliki sisi buruknya, mari kita bahas. Pembebasan napi dari dalam LAPAS mungkin memang untuk menekan penyebaran virus di dalam LAPAS, namun bagaimana jika sudah ada napi yang positif COVID-19 namun belum terdeteksi dan terlanjur dibebaskan, hal itu malah menyebabkan penyebaran virus di tempat yang lebih luas. Selanjutnya, pelepasan napi memiliki resiko yang cukup tinggi jika saja napi melakukan kejahatan yang sama setelah dibebaskan dan sudah terbukti sejumlah napi di berbagai daerah ditangkap karena melakukan kejahatan lagi setelah dibebaskan. Memang, jika menolak pembebasan napi di LAPAS yang over kapasitas dianggap tidak memiliki kemanusiaan tidak dapat disalahkan begitu saja. Tetapi, membuat keputusan napi dibebaskan dan kemudian kembali melakukan kejahatan kepada orang tidak bersalah di tengah ekonomi yang juga sedang susah apakah dapat disebut “Rasa Kemanusiaan”, ini yang unik.

Terlepas dari perdebatan yang terjadi, keputusan ini sudah terlanjur disahkan, per 08 April 2020 pukul 9 pagi, sebanyak 33.078 napi dewasa dan 783 napi anak dibebaskan dengan menjalani program asimilasi, serta 1.776 napi dewasa dan 39 anak menjalani program integrasi. Semoga di tengah wabah kita selalu mendapat berkah. Semoga di tengah susah kita selalu dapat mudah.

-Imam Panji