Jumat, 29 September 2023
Sebuah Pepatah: Kecil-Kecil Cabai Rawit
Jumat, 21 Januari 2022
Satu Per Satu #2
Kata orang bijak, badai pasti akan berlalu. Ucapan itu kadang bisa dibenarkan, kadang juga tidak.
Itulah yang kami alami malam itu, badai tak kunjung berhenti hingga pagi. Bahkan jam 03.00 WITA, kerangka tenda kami sempat lepas karena angin yang terlalu kencang, memaksa kami terbangun dan harus memperbaiki tenda supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun perbaikan sifatnya hanya sementara, karena hari masih gelap, dan angin yang menerpa tubuh terasa sangat dingin.
Fajar menyingsing, ternyata cuaca sangat cerah hari itu, 27 Desember 2021. Segara Anak jelas di depan tenda, di belakang Dewi Anjani menyapa ingin digapai. Tapi ini memang bukan hari kami, pada hari ini, jadwalnya adalah turun ke Segara Anak (bagi yang mau) dan kemudian kembali lagi ke Pelawangan Sembalun. Waktu yang dibutuhkan untuk turun adalah sekitar 3 jam, dan untuk kembali naik sekitar 5-6 jam. Dengan kekuatan fisik aku dan menimbang untuk Summit Attack esok malam, aku memutuskan untuk istirahat saja di tenda sembari menjaga tenda lainnnya dari serangan monyet-monyet. Bagiku, sudah cukup melihat Segara Anak dari sini, aku sudah tau kamu indah.Arip dan Eca termasuk rombongan yang ikut untuk turun ke Danau, tapi sekitar jam 11 Arip dan Eca malah kembali ke tenda, pikirku sudah sampai, tapi ternyata mereka memutuskan kembali karena perjalanan masih jauh. Kejadian ini membuat aku merasa mengambil keputusan yang tepat untuk tidak ikut ke bawah. Hari itu, tak banyak yang kami lakukan, hanya banyak berbicara dan istirahat di tenda untuk persiapan esok harinya. Dan kami tidur sekitar jam 21 WITA untuk mulai berjalan sesuai rencana pada jam 01 WITA.
28 Desember 2021, hari yang kami nantikan. Di tengah kegelapan kami masih bisa melihat samar-samar puncak Rinjani tidak tertutup apapun, pertanda cuaca baik, dan semoga akan bertahan. Setelah makan, satu rombongan bersiap untuk menggapai puncak bersama-sama, walaupun rencana hanyalah rencana, kami mulai berjalan pada jam 02 WITA. Sekitar 30 menit berjalan dari Pelawangan, trek sudah berubah menjadi pasir, dan membuat tenaga lebih cepat terkuras karena sekali melangkah, kaki akan merosot setengah langkah, terus begitu sampai menjelang puncak.
3 jam berjalan, kami sampai di pinggir jurang, punggungan gunung. Perjalanan dari sini akan terus menyusur di sisi jurang sampai ke puncak, sesekali angin juga berhembus dan memaksa kami berlindung di balik bebatuan karena memang tidak ada apa-apa lagi disini selain batu dan pasir. Tak sadar hari mulai terang, saat itu juga kami mematikan senter karena jalur sudah jelas terlihat, kadang kondisi pendakian terang malah membuat mental lebih cepat tergerus, karena jalur yang terlihat jelas membuat kesan tujuan tidak kunjung sampai, padahal sama saja, langkah kaki kami tetap mencicil pelan-pelan.
Jam 07.30 pagi kami sampai di Letter E Rinjani, mental sudah tergerus, ditambah berjumpa dengan rombongan kami yang pertama sampai puncak pukul 6, ternyata sudah turun. Membuat kami semakin bertanya-tanya. Namun, perlahan tetap kami lanjutkan, jangan sampai kami bermimpi setelah pulang dan berhutang kepada Rinjani, walaupun Rinjani memang tidak akan kemana-mana.
Puncak semakin dekat, sekitar jam 09 WITA, akhirnya kami sampai di puncak Rinjani yang cukup mungil, sehingga harus antre untuk mengabadikan momen yang mungkin sekali seumur hidup ini. Kami memutuskan tidak berlama di atas, karena hari ini juga harus turun sampai basecamp. Sekitar jam 09.30 kami turun, dan sampai di Pelawangan Sembalun pukul 13 WITA. Setelah makan dan berkemas, kami mulai perjalanan turun, walaupun tubuh juga sudah lelah, namun karena terbatas SIMAKSI dan peraturan, mau tidak mau kami memang harus turun.
| di Dewi Anjani |
Pukul 17 WITA kami sampai di pos 2, ternyata kaki saya sudah sakit sekali, karena menahan beban tubuh selama turun. Sebab perjalanan ke kandang sapi masih sangat jauh, kami memutuskan untuk naik ojek yang memang tersedia di pos 2, setelah tawar-menawar dan menemui kesepakatan, sekitar maghrib kami sudah di kandang sapi dan menunggu jemputan.
Malam itu kami rapih-rapih, makan penyetan ayam di depan basecamp, tidur, dan esoknya perjalanan dilanjut ke Gili Trawangan sebelum kembali ke rumah dengan metode yang sama. Pelabuhan Lembar-Pelabuhan Ketapang-Tol Trans Jawa.
Mengutip dari kata-kata Pandji Pragiwaksono dalam videonya, Ia pernah berkata "jangan sekali-kali kubur mimpi kamu, karena sekeras apapun kamu pukul, mimpi itu hanya akan pingsan, dan suatu saat akan bangkit di usia tuamu dalam bentuk penyesalan". Seperti kalimat awal tulisan ini di episode #1, hidup adalah persinggahan untuk menyelesaikan tugas dan mimpi kita satu per satu. Dan ini adalah mimpi kami, 7 summit yang mana selanjutnya?
| Tim Luar Biasa |
| Snorkling |
| Kulit terbakar di Gili Trawangan |
Kisah ini berakhir.
Senin, 17 Januari 2022
Satu Per Satu #1
| Kebersamaan di Kapal |
| Makan di Ketapang |
| Kandang Sapi |
Rabu, 20 Oktober 2021
Arsip
Bukan apa-apa, hanya ingin menyimpan kisah perjalanan mendaki Desember 2020 dengan beberapa gambar. Agar kelak bisa diceritakan ke generasi selanjutya. Belum sempat menulis, dan juga sudah lupa kronologi detailnya saat pendakian dilakukan, maklum manusia, memorinya terbatas walaupun kisahnya sangat indah. Jadi khusus yang ini, kusediakan gambar saja, semoga cukup untuk menggambarkan segalanya.
![]() |
| Puncak Kembang |
![]() |
| Jalur Ekstrem Sumbing |
![]() |
| Puncak Sejati Sumbing |
![]() |
| Sok-sok an membaca peta |
Destinasi : Gunung Kembang dan Gunung Sumbing, Wonosobo, Jawa Tengah.
Terima kasih untuk pengalaman di perjalanan kali ini.
-Imam Panji
Jumat, 08 Mei 2020
Keputusan Luar Biasa di Tengah Pandemi yang Melanda
2020 memang menjadi
tahun yang mengejutkan bagi Indonesia bahkan untuk dunia. Tak disangka wabah
melanda dan membuat segala aktivitas terbatas. Di tengah kejadian tersebut, ada
satu keputusan yang dapat disoroti di negara ini, “Pembebasan narapidana”.
Keputusan ini dibuat oleh Kementrian Hukum dan HAM yang disampaikan oleh bapak
Yasonna Laoly selaku menteri hukum dan HAM, keputusan yang cukup kontroversial
dan menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat.
Disampaikan bahwa
tujuan utama Kemenkumham melakukan ini adalah untuk menekan laju penyebaran
virus corona di dalam Lembaga Pemayarakatan (LAPAS) dan Yasonna Laoly berdalih
“Hanya orang yang sudah
tumpul rasa kemanusiaannya dan tidak menghayati sila kedua Pancasila, yang
tidak menerima pembebasan napi di lapas over kapasitas”.
Begitu katanya, tapi mari dikulik lebih dalam dari dua sisi, apa yang
menyebabkan keputusan ini dibuat dan apa sebab keputusan ini ada yang menolak.
Sisi baiknya, sesuai
dengan yang dipaparkan Yasonna Laoly tindakan ini sudah sesuai dengan anjuran
Komisi Tinggi PBB untuk HAM, dan Sub Komite PBB Anti – Penyiksaan. Itu artinya
Indonesia menjadi negara yang dianggap patuh di mata PBB pula Iran dan Brazil
yang lebih dahulu merespon anjuran ini dengan jumlah 95.000 orang dan 34.000
orang. Hal lain pula, jika memang LAPAS kelebihan kapasitas, itu berarti LAPAS
menjadi lebih lengang dengan pelepasan sebagian napi dan menjadi lebih
memungkinkan untuk melakukan physical
distancing di dalam LAPAS yang berarti pula hal itu sesuai dengan anjuran
WHO dan pemerintah. Yang perlu dipahami juga napi yang dibebaskan harus
memiliki kriteria, yaitu : sudah dalam 2/3 masa pidana untuk dewasa dan ½ untuk
anak jatuh sampai 31 Desember 2020, tidak sedang menjalani subsider, dan bukan
WNA. Yang dibebaskan tidak termasuk dalam napi terorisme, narkotika, korupsi,
dan kejahatan terhadap keamanan negara. Dengan kata lain, mereka adalah
kriminal biasa atau napi pidana umum. Jadi, bukan sembarang napi lah yang dibebaskan
namun terdapat kriteria tertentu yang harus dipenuhi, jika kriteria tersebut
terpenuhi napi dapat bebas.
Bukan hanya keputusan,
semua hal pasti memiliki sisi buruknya, mari kita bahas. Pembebasan napi dari
dalam LAPAS mungkin memang untuk menekan penyebaran virus di dalam LAPAS, namun
bagaimana jika sudah ada napi yang positif COVID-19 namun belum terdeteksi dan
terlanjur dibebaskan, hal itu malah menyebabkan penyebaran virus di tempat yang
lebih luas. Selanjutnya, pelepasan napi memiliki resiko yang cukup tinggi jika
saja napi melakukan kejahatan yang sama setelah dibebaskan dan sudah terbukti
sejumlah napi di berbagai daerah ditangkap karena melakukan kejahatan lagi
setelah dibebaskan. Memang, jika menolak pembebasan napi di LAPAS yang over
kapasitas dianggap tidak memiliki kemanusiaan tidak dapat disalahkan begitu
saja. Tetapi, membuat keputusan napi dibebaskan dan kemudian kembali melakukan
kejahatan kepada orang tidak bersalah di tengah ekonomi yang juga sedang susah apakah
dapat disebut “Rasa Kemanusiaan”, ini yang unik.
Terlepas dari perdebatan yang terjadi, keputusan ini sudah terlanjur disahkan, per 08 April 2020 pukul 9 pagi, sebanyak 33.078 napi dewasa dan 783 napi anak dibebaskan dengan menjalani program asimilasi, serta 1.776 napi dewasa dan 39 anak menjalani program integrasi. Semoga di tengah wabah kita selalu mendapat berkah. Semoga di tengah susah kita selalu dapat mudah.
-Imam Panji











